Home / Kelakar / Awas Anda Bisa Jadi Wartawan Amatir

Awas Anda Bisa Jadi Wartawan Amatir

Bagikan :

Berbagai macam sebutan digunakan untuk kaum wartawan. Dulu dikenal sebagai nyamuk pers, kuli tinda, kuli disket, dan lain sebagainya. Kemudian ada wartawan bodrek, wartawan tanpa surat kabar (WTS), wartawan gadungan, wartawan abal-abal, dan lain sebagainya untuk kaum yang sebetulnya bukan wartawan, tapi mengaku-ngaku wartawan.

Tapi sekarang malah ada sebutan baru bagi wartawan betulan yang cari makan seumur hidupnya dari memulung berita. Sebutan itu adalah “wartawan amatir”. Itu ditabalkan karena mereka belum mengikuti ujian kompetensi atau tidak lulus ujian kompetensi yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia. Jadi wartawan profesional bisa saja tiba-tiba menyandang sebutan “wartawan amatir” itu bila tidak lulus kompetensi. Istilah wartawan amatir ini dilemparkan oleh Bapak Wina Armada dari Dewan Pers dalam sebuah wawancara radio baru-baru ini.

Sebagai tenaga profesional, wartawan memang pantas memiliki kompetensi. Ide ini pertama kali dilontarkan oleh Pak Habibie, mantan presiden kita. Dan ini diamini oleh otoritas wartawan di Indonesia. Secara bergelombang, wartawan Indonesia yang masih bernafas diuji kompetensinya untuk menyandang sebutan, wartawan utama, wartawan madya, dan wartawan muda.

Uji Kompetensi Wartawan (UKW) itu kini sedang dilakukan baik di Jakarta maupun daerah. Uji ini perlu supaya tidak muncul lagi korban yang kena kibul media, atau dikerjain wartawan abal-abal.

Uji kompetensi ini perlu agar tak salah-salah tulis lagi. Misalnya banyak rekan-rekan wartawan yang kalau menulis, misalnya berita penerbangan banyak yang belum paham membedakan nomor penerbangan dengan registrasi pesawat yang masih saja terbolak-balik. Atau katakanlah banyak yang tak tahu mana yang air side dan mana land side di bandara Hananjoeddin ataupun Depati Amir.

Bangka Belitung tak luput menghadapi UKW ini. Jadi kalau nanti para pemulung berita, baik cetak maupun elektronik, di Babel diminta ikut penataran lagi dan mengikuti UKW, jangan ngeles, ikuti saja. Kalau tak mau, siap-siaplah menjadi wartawan amatir.

Baca Juga :  Sosok Kartini Kelahiran Belitung, Herawati Diah Tokoh Pers Indonesia

Bila wartawan di Babel semuanya sudah profesional dan memiliki kompetensi, Babel juga yang akan untung. Wartawannya jago menginvestigasi penyimpangan yang dilakukan baik kalangan birokrasi maupun legislatif. Bisa melaporkan semua kasus secara terang benderang, dan tidak ada yang ditutup-tutupi atau dilapananamkan. Dengan demikian, pasti Babel akan maju, karena fungsi kontrol akan berjalan.

Demikian pula dengan fungsi pendidikannya, dengan wartawan yang profesional, masyarakat bisa diajak maju dan mendukung seluruh program pemerintah yang ujungnya akan memakmurkan rakyat. Wartawan bisa memicu dan memacu masyarakat maju.

Terlepas dari ada atau tidaknya pihak-pihak yang tak ingin pers membuka “pekasam” mereka, kaum wartawan di Babel siap-siaplah ambil sertifikasi kompetensi itu. Kalau tidak, Anda pasti bakal dicap sebagai wartawan amatir.