Home / Bangka Belitung / Kisah Pilu Wanita Tua Di Tanjungpandan,Awal Mula Berdirinya AL MAA UUN

Kisah Pilu Wanita Tua Di Tanjungpandan,Awal Mula Berdirinya AL MAA UUN

Bagikan :
  • 435
    Shares

TANJUNGPANDAN: Suatu masa Wanita tua itu Jompo,Lapar,kotor,meringis tanpa makanan.

duduk di samping terminal kota tanjungpandan seorang diri,di sinilah awal mula cerita itu dimulai.

keprihatinan merasakan penderitaan warga lanjut usia,membuat H Warsono mendirikan sebuah Panti Jompo Lansia Al-Maauun Muhammadiyah yang berdiri sejak delapan tahun silam.

Pencetus Panti itu adalah H Warsono, yang merupakan pimpinan Muhammadiyah kabupaten Belitung ketika itu.

Lokasinya tepat di samping panti Asuhan Putra Anda Muhammadiyah,jalan KH Ahmad Dahlan Air Raya,kecamatan Tanjungpandan ini dibangun tempat penampungan para warga lanjut Usia.

Ketua Pimpinan Panti Jumpo Lansia Al – Maauun Muhamadiyah Samsudin Usman menyebutkan pendirian itu dilakukan akhir tahun 2007. Awal pendirian panti ini mulai tahun 2008.

Awal-awal berdiri Panti Jompo ini,baru satu pasien wanita lansia. Kisah wanita lansia ini adalah Awal dari segalanya,disinilah kisahnya dimulai

Kala itu, seorang wanita Lansia yang sehari-harinya tinggal di terminal Tanjungpandan. Saban hari, wanita ini hanya diberi makan dan minuman bila ada orang yang nongkrong di terminal.

Dia mendapatkan hal itu, karena hanya mengharapkan iba dan belas kasihan dari orang-orang yang secara kebetulan main-main ke terminal atau bertemu dengan berbagai urusan.

Bila tak ada yang beri, cukup puasa,Bahkan,tak jarang tukang Ojek pun dari hasil ngojeknya memberikan nasi bungkus ke wanita tersebut.

Alhasil,Ketika itu,kata Samsudin,Haji Warsono kala beliau menjadi pimpinan muhammadiyah kabupaten Belitung secara tak sengaja datang ke terminal Tanjungpandan (dekat rumah sakit lama).

Namun setelah menyaksikan lansia itu begitu memprihatinkan, kata Samsudin lagi, Warsono pun mengajak ke rumahnya.

Sayangnya, tawaran dari Haji Warsono ini awalnya ditolak namun akhirnya diamini juga oleh wanita lansia itu.

Sebelum diajak wanita lansia itu kondisinya dalam keadaan kotor yang melekat di badannya.

Oleh Haji Warsono ketika itu dimintakan kepada almarhumah Ny Sarifih untuk membersihkan wanita tua tersebut.

Kebetulan Ny Sarifih di masyarakat setempat dianggap sebagai tukang memandikan mayat.Maka Ny Syarifih pun ketika itu tak mengelak ketika diminta.

Namun alangkah kagetnya Ny Sarifih saat akan menuju ke tempat wanita lansia itu,bukannya untuk memandikan jenazah namun untuk membersihkan wanitia lansia dari kotoran-kotoran yang melekat dibadannya.

Barulah ketika itu,Ny Sarifih paham dan akhirnya membersihkan wanita lansia tersebut dari berbagai kotoran yang melekat di badannya.

Disela-sela itulah Haji Warsono terbersit Ide untuk membangun Panti Jompo Lansia sebagai hal yang harus dipikirkan ke depan.

“Boleh jadi, bukan hanya satu, bisa dua atau lebih kedepan nantinya bisa dialami lansia seperti wanita tua di atas,” ungkap Haji Warsono seperti ditirukan Samsudin.

Karenanya, sembari membangun Panti, Wanita lansia tadi tetap berada atau tinggal di lokasi bangunan tempat pembangunan panti Jompo tersebut didirikan.

“Karena, si wanita lansia ini tak mau diajak ke rumah Pak Haji Warsono, terpaksa tinggal di lokasi bangunan.

Setelah berdiri bangunan Panti Jompo, yang pertama kali masuk adalah wanita lansia tersebut di tahun 2008.

Dan selanjutnya, ditahun-tahun berikutnya bertambah enam hingga 10 orang bahkan sempat mencapai sekitar belasan orang. Hanya saja, biasanya dalam setiap bulan atau pertengahan tahun karena ada yang berkurang lantaran ada yang meninggal.

Dan di tahun 2017 ini jumlahnya sekitar 10 orang pasien lansia. Memang saja, yang masuk ke Panti ini bukan hanya orang Islam semata. Namun ada beberapa orang seperti warga non muslim lansia seperti dari Agama Kristen, Budha, Hindu dan Khonghu chu. Mereka juga tinggal di Panti Jompo ini.

Samsudin menambahkan, dalam pengelolaan panti ini mengkedepankan sosial dan kemanusian.

“Jadi, tidak ada masalah non muslim atau muslim yang masuk. Semuanya sama. Asalkan memenuhi persyaratan dari Panti Jompo.

Misalnya, para lansia yang masuk ke panti adalah mereka rata-rata usia 60 ke atas dan masih bisa untuk hajat dan buang air kecil maupun besar. Dan tentunya dalam perjalanan mereka terkena sakit tetap menjadi tanggungjawab panti Jompo,” ungkap Samsudin.

Begitu pun. Awal pembangunan di bantu dengan dana badan amil zakat dari Muhammadiyah. Selanjutnya, dalam perjalanannya dibantu oleh berbagai dermawan yang ikut peduli.

Bagaimana dengan dana pengeluarannya dalam pengelolaan panti dalam setiap bulan? Samsudin menyebut hampir sekitar 5 juta perbulan untuk melaksanakan operasional dari Panti Jompo lansia ini.

“Dana rutin dari Muhammadiyah, termasuklah bantuan-bantuan tak mengikat dari berbagai pihak,” ungkap samsudin.

Samsudin juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berbuat untuk kepentingan sosial dan kemanusian”Moga mereka diberikan keberkahan dari Allah SWT,” ucapnya.*trawangnews.com