Home / EDITORIAL / Kronologis Pelengseran Urip Dari Kursi Bupati Belitung

Kronologis Pelengseran Urip Dari Kursi Bupati Belitung

Bagikan :
  • 409
    Shares

TANJUNGPANDAN: Setiap bulan mei, Indonesia memperingati tragedi mei 1998 suatu peristiwa yang menjadi sejarah  nasional,Begitupun dengan Kabupaten Belitung, diakhir bulan Mei hingga Juni tahun 1998 juga hal yang sama terjadi, gelombang peristiwa besar terjadi di pulau Belitung. Dimana masyarakat Belitung menolak kepemimpinan Urip TP Alam sebagai Bupati Belitung.

Seperti diketahui, Urip TP Alam memimpin Belitung sejak tahun 1991 hingga 1998. Ia mendapat penolakan dari masyarakat untuk periode kedua kalinya. Penolakan itu, terjadi dengan gelombang aksi turun ke jalan yang dimulai pada tanggal 6 Juni 1998 hingga 23 September 1998.

Tuntutan masyarakat akhirnya berbuah manis. Urip TP Alam berhasil dilengserkan dari kursi empuk Bupati Belitung dengan terbitnya SK Menteri Dalam Negeri RI No 131.26-730 tanggal 3 september 1998. Surat mendagri ini berbunyi,tentang pemberhentian dan penunjukan pejabat bupati kepala daerah Tingkat II Belitung provinsi daerah tingkat I Sumatera Selatan.

Selanjutnya,serah terima jabatan dan penunjukan pejabat pelaksana harian dilakukan pada Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Belitung yagn berlangsung di ruang sidang DPRD Kabupaten Belitung, pada kamis 24 September 1998. Hasil keputusan itu, muncul surat perintah gubernur Tingkat I Sumatera Selatan No 096/ket/11/1998 yang memerintahkan H Nang Ali Solihin SH untuk menjadi pelaksana harian Bupati Belitung.Berikut kronologis perjuangan masyarakat Belitung melengserkan Urip TP Alam dari kursi Bupati.

  • Hari Sabtu, 6 Juni 1998: Kelompok Pro-Reformasi yang menamakan diri Komite Reformasi Belitung Untuk Masa Depan (KRBUMD) 21 yang motori Ir Suryadi Saman MSc dan Soehadi Hasan melibatkan ratusan massa mengelar demontrasi pertama di Gedung DPRD Kabupaten Belitung dengan tuntutan mendesak Bupati Belitung H Urip TP Alam mengundurkan diri dari jabatannya.

 

  • Hari Rabu, 17 Juni 1998: Ketua DPRD Belitung,Kamaru menegaskan hasil pertemuan pimpinan dewan dan ketua fraksi dengan Bupati Belitung yang prinsipnya Urip bersedia mundur sebelum masa jabatannya berakhir tahun 2001 asal dilakukan sesuai prosedur dan konstitusional.

 

  • Hari Kamis, 18 Juni 1998: Komite Reformasi Sesepuh Belitung mendatangi gedung DPRD Belitung dan mendesak agar anggota dewan mengeluarkan memorandum mosi tak percaya terhadap pemerintahan daerah. Waktu yang diberikan selambat-lambatnya tujuh hari setelah pernyataan ini dikeluarkan.

 

  • Hari Minggu, 21 Juni 1998: KRBUMD dengan ribuan massa mengepung kantor DPRD Belitung mendesak Urip TP Alam membuat pernyataan mengundurkan diri secara tertulis. Beberapa wakil KRBUMD berdialog dengan Urip di ruang Sidang Pemda Belitung. Urip pun menyatakan mundur asal dilakukan prosedur dan konstitusional.Di hari yang sama, Ketua DPRD dan Fraksi berangkat ke gubernur dan Dirjen PUOD (otonomi daerah) untuk menyampaikan aspirasi masyarakat Belitung yang berisi krisis kepercayaan Belitung terhadap kepemimpinan Urip TP Alam.

 

  • Hari Kamis-Jum’at 25- 26 Juni 1998: Selama dua hari di Belitung, Tim Pencari Fakta tingkat I Sumsel bentukan Gubernur datang ke Belitung untuk mencari kebenaran fakta sehubungan adanya laporan krisis kepercayaan.

 

  • Hari Rabu 15 Juli 1998: Dari pagi hari sampai dengan tengah malam, tim reformasi berdialog dengan anggota DPRD dan melalui sidang serta menghasilkan kesepakatan dengan SK: 006/DPRD/VII/1998 tentang mosi tak percaya terhadap kepemimpinan H Urip TP Alam selaku bupati dn mengusulkan kepada mendagri agar SK pengangkatan Urip dicabut.

 

  • Hari kamis-Jumat : 16 Juli – 17 Juli 1998: Ketua DPRD dan Fraksi-Fraksi menemui kembali Dirjen PUOD, Prof Riyas Rasyid untuk menyampaikan mosi tak percaya mendapat sambutan positif. Namun, saran Prof Riyas Rasyid, untuk mencabut SK Bupati harus memerlukan rekomendasi dari Gubernur Sumsel. Pada hari Jumat, ketua DPRD dan Fraksi DPRD Belitung menghadap gubernur dan Pagdam IV Sriwijaya sampaikan mosi tak percaya dari aspirasi masyarakat Belitung. Dari pembicaraan itu, pada dasarnya Pagdam IV Sriwijaya ketika itu tidak ada masalah, dan gubernur menerima aspirasi dan meminta waktu.

 

  • Hari Senin- Selasa : 27 Juli -28 Juli 1998: Ratusan massa yang tergabung dalam KRBUMD dan GEMPUR, Karbel, mendatangi kantor gedung pemerintah daerah Belitung di Jalan A Yani Tanjungpandan. Massa pun pun beringas dan memasuki kantor dan pada kesempatan itu kembali Urip TP Alam menegaskan kalau ia bersedia mundur. Nyaris terjadi bentrokan fisik antara Urip TP Alam Dengan massa, secara bergantian massa menduduki gedung pemkab Belitung. Pada hari Selasa 28 Juli 1998: Dengan membawa usungan (karanda) mayat yang ditutup kain putih bertuliskan Urip TP Alam mundur.”Kami tak ingin kau lagi”, massa kembali mendatangi kantor pemda dan rumah dinas bupati belitung yang letaknya berdekatan dengan kantor Bupati Belitung. Di hari yang sama tanggal 28 Juli 1998: merasa keselamatan terancam, Urip TP Alam dan keluarga terpaksa kabur dan meninggalkan belitung dengan menggunakan pesawat khusus Hercules/sebelumnya disebut hercules tetapi pesawat (Deraya Air) adalah pesawat yang ditumpangi urip*Ralat seorang pembaca kami yang kami percayai karena adho sutrisman saksi mata di TKP di bandara melihat secara langsung jenis pesawat yang urip tumpangi saat kejadian itu berlangsung adalah pesawat Deraya Air.

 

  • Hari Minggu 2 Agustus 1998:sekitar 100 massa dari Front Reformasi pemuda dan pelajar tanjungpandan menduduki rumah dinas bupati belitung dan mendesak Urip membuat pernyataan mundur dari jabatannya secara tertulis.

 

  • Hari Jumat 7 Agustus 1998: berdasarkan pertemuan Gempur dengan Setwilda Belitung H Makmun Rasyid menyatakan bahwa Urip telah dipanggil gubernur sumatera selatan melalui telex tertanggal 28 Juli 1998 dan tampuk pemerintahan kabupaten Belitung sementara dipegang Setwilda.

 

  • Hari Sabtu 8 Agustus dan Hari Rabu 2 September 1998: Masa tenang, namun lobi-lobi politik ditingkat pusat dan daerah yang dilakukan ketua DPRD dan Fraksi terus berjalan.

 

  • Hari Kamis 3 September 1998: Surat keputusan Mendagri RI No 131.26-730 tentang pemberhentian H Urip TP Alam keluar dan Penunjukan pejabat kepala daerah tingkat II Belitung dikeluarkan. Selanjutnya SK ini diterima gubernur, informasi ini juga sampai ke pulau Belitung walau hanya isu-isu muncul kepermukaan.

 

  • Hari Selasa 15 September 1998: Gubernur Sumsel Rosihan Arsyad bertandang ke Belitung untuk melihat secara langsung sikap masyarakat terhadap keberadaan Urip dan menyatakan permohonan maafnya atas kesalahan atau pun kehilafan Urip selama memimpin belitung dan waktu itu beliau menegaskan bahwa Urip TP Alam pasti diberhentikan.

 

  • Hari Rabu,16 September 1998- Kamis 24 September 1998: Gubernur Sumsel mengeluarkan surat perintah 096/Ket/II/1998/ yang menunjuk H Nang Ali Solihin sebagai pejabat harian Bupati Belitung terhitung mulai tanggal serah terima. Selanjutnya tanggal 24 September 1998: H Urip TP Alam resmi diberhentikan dari jabatan bupati KDH Tingkat II Belitung yang ditandai serah terima dengan pejabat pelaksana harian H Nang Ali Solihin SH yang disaksikan Gubernur Sumsel H Rosihan Arsyad dihadapan sidang paripurna DPRD tingkat II Belitung.

Cikal Bakal

Memang saja, tonggak reformasi di Belitung sudah digulirkan sejak bulan mei 1998. Sebuah surat yang masih tersimpan di arsip trawangnews.com bahwa rencana reformasi sudah dimulai sejak tanggal 1 juni 1998. Waktu itu namanya Forum Reformasi Daerah Tingkat II Belitung. Pertemuan awalnya di rumah tempat tinggal Suryanto Sudibyo. Dalam pertemuan hadir empat orang Sayuti Samad, Suryanto Sudibyo, Soehadi Hasan dan Ramli Matsum.
Pertemuan itu dicetuskan Forum Reformasi daerah tingkat II Belitung.

Kala itu forum menyatakan sikap mendukung sepenuhnya reformasi total di segala bidang, menurunkan harga pokok, menghapuskan dan menghentikan praktek KKN. Forum ini kemudian dikembangkan anggotanya menjadi belasan Orang. Diantaranya Syaparudin alias Anom, Ny Suhaibah Saad, Eryat AZ alias Bu’e, M Arsyad Hasan, Hadi Alias Bugil, H Sukron alias Kuyan, Ir Suardian,Bismi Prabowo, Junaidi Eka Brahma alias Juned, Subhan, Warmin Saat, Drs Zainal, Effendi Suud, Martinus.

Berkembangnya anggota Forum Reformasi Daerah Tingkat II Belitung dan membuat situasi dan kondisi politik daerah meningkat sangat cepat. Sehingga proses kegiatan disepakati oleh forum strategis dirubah menjadi Komite Reformasi Untuk Belitung masa Depan yang dipimpin Ir Suryadi Saman MSc, Suhadi Hasan, dan Rusli Yasin.

Setelah dibentuk Komite Reformasi ini dukungan pun meluas dari berbagai organisasi kepemudaan, organisasi pelajar IKPB, Organisasi Kemasyaratan (Ormas),organisasi sosial politik,Serta berbagai Komponen yang tergabung Gempur, Karbel,FKMB (Forum Komunikasi Masyarakat Belitung), serta organisasi lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu (maaf kalau ada yang belum dicantumkan).

Begitu pun posko di luar daerah dari kalangan mahasiswa dan pelajar pun bermunculan. Seperti Posko Aksi Reformasi Mahasiswa Belitung (PARMB) yang bersekretariat di Jalan Supratman Bandung, Posko Aksi mahasiswa di Padang, Kalimantan, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Palembang, serta wilayah lainnya.

Tak hanya itu. Suara penolakan pun muncul dari berbagai kecamatan dalam kabupaten Belitung seperti di Kecamatan Manggar, Kelapa Kampit, Dendang, dan Gantung, Badau, Sijuk, Tanjungpandan. Muncul nama-nama, Alm Moestar Moes, Syirwan Buang Ali, Alm.Hamdani Halil serta sejumlah tokoh-tokoh, dan dukun, serta semua pihak tidak dapat disebutkan satu persatu.Bukan Sebatas itu, peran organisasi para mantan karyawan timah yang tergabung dalam PMKT ketika itu juga ikut mewarnai kegiatan tersebut seperti muncul tokoh Masri Kaman, Syamsudin, Sofyan Ismail. Bahkan pentolan tokoh-tokoh muda yang tampil juga terlihat aktif, seperti Junaidi Haminte, Rizali Abusama, Firman Satam, Boni (Gempur), Dharmawan (Enggon) (Gempur), Feri Lukmantara,Jumhari, Mansur Munir, Juhri AMPd.

Tentu saja, dalam tulisan ini mohon maaf karena disajikan bukan untuk mengada-ada. Namun fakta sejarah tidak bisa dilupakan bagi orang Belitung. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kalangan generasi ke depan terhadap sepak terjang dan kegiatan memorial yang terjadi di Pulau Belitung
sejak mei 1998 silam.

Tentu artikel ini belum sempurna karena terlalu pendek untuk mengungkap detail sejarah, mungkin suatu saat nanti akan ada yang membukukan nya dalam versi lebih lengkap.

Sekian dari kami.

Team Editorial *trawangnews.com
Setiap Minggu atau 2 minggu team Trawang akan menyajikan Artikel Editorial dalam kategori Editorial.