Home / EDITORIAL / Madun Kian Seronok, Dari Anak Kecil Hingga Kakek-Kakek pun Turun Gunung

Madun Kian Seronok, Dari Anak Kecil Hingga Kakek-Kakek pun Turun Gunung

Bagikan :
  • 71
    Shares

Madun alias musik kian digemar masyarakat, terutama pada acara kondangan atau pesta anak maupun perkawinan. Madun alias musik itu selalu saja dipergunakan orgen tunggal atau Musik gede.

Sayangnya, dibalik keasyikan madun yang dinyanyikan oleh seorang biduan rupanya ada yang terselip bila pakaiannya terlalu seksi dengan rok tipis setinggi lutut dan baju kadang kala sangat transparan.

Kondisi keseksian itu menjadi tontonan seronok dari warga masyarakat. Tampilan yang begitu eksostik itu tentu kurang begitu baik lantaran ditonton bukan hanya warga yang kategori dewasa melainkan anak kecil dan kakek kakek pun turung gunung juga.

Tengok saja pada event pesta perkawinan misalnya, pakaian seksi yang biasa dipakai biduan sudah dianggap hal biasa. Tanpa rasa malu atau etika, biduan itu tak mau tahu. Apalagi saat membawakan lagu, acapkali sibiduan itu bah goyangnya bergaya seperti membakar birahi kaum adam.

Wajar saja anak kecil pun hingga kakek melotot matanya kearah biduan karena tingkah lakunya aneh aneh dan mengumbar auratnya.

Banyak warga sebetulnya yang menyoroti perlunya ada batasan batasan bagi seorang biduan agar menggunakan pakaian yang sopan saat menyanyi.”Kita bukan minta dilarang,tapi tolong sopan dikit terutama para biduan biduannya saat menyanyi,”kata Aminan,seorang warga yang tinggal di Tanjungpandan.

Menurutnya, bukan rahasia umum lagi para pengelola musik selalu memanfaatkan biduan sebagai salah satu strategi untuk mendapatkan job yang lebih banyak. “Sebenarnya penonjolan yang penting adalah bagaimana menyanyikan lagu dengan baik, begitu juga cara memainkan alat musik itu yang lebih baik, bukannya lebih banyak menonjolkan aurat,”ungkap Aminan.

Aminan berharap agar ke depan perlu ditata menyangkut pengelolaan musik terutama etika berbusana yang baik yang mengkedepankan kesopanan kepada para biduan alias penyanyi.
“Mohon kiranya untuk ditampilkan dengan sopan, karena kalau sudah ditonton ke khalayak ramai apalagi ditonton anak kecil ternyata kurang baik untuk mereka ke depan,”harap Aminan.

Baca Juga :  Kisah Abdul Fatah Saat Ikut Memuluskan Pemekaran Wilayah

Memang saja, di era tahun delapan puluhan musik alias madun bahasa Belitong, sangat banyak ditonton dan cukup memukau para warga yang menonton walaupun tak ada tampilan biduan yang seronok. Bila madun berada tak jauh dari jalan biasanya warga bejibun hingga arus lalu lintas macet hingga acara madun selesai. Mereka menampilkan bagaimana cara menyanyi lagu dengan merdu, memainkan alat musik dengan baik. Nah, kalau sekarang, tentu sangat beda. Madun saat ini dengan lebih banyak menonjolkan tampilan biduan dengan rok tipis yang setinggi dengan pakaian seksi menjadi kesukaan warga saat menonton.Meski memang, masih ada kelompok musik yang tetap menjaga etika kesopanan terutama para biduan itu sendiri.

Sayangnya, pemuka pemuka agama atau tokoh tokoh masyarakat belum terdengar suaranya terhadap persoalan ini. Walaupun ada, mungkin hanya sebatas ngerenum (marah dalam hati). Agaknya masalah ini akan menjadi pekerjaan bersama untuk mencari solusi ke depan agar biduan berpakaian sopan dan beretika baik.