Home / Bangka Belitung / ANTARA ALFA DAN INDO
Safari ANS

ANTARA ALFA DAN INDO

Bagikan :

Alfamart dan Indomaret kini dianggap hantu. Setidaknya bagi urang Belitong. Ia dituduh akan mematikan ekonomi rakyat. Patut diduga, banyak toko masyarakat tutup. Bangkerut. Masyarakat Belitong dianggap tak mampu bersaing dengan gerai milik konglomerat itu. Heboh. Ada juga yang marah. Tapi proses pendirian gerai menakutkan itu, tetap berjalan.

Adakah upaya jitu? Tak ada. UU Cipta Kerja yang sudah disahkan memang begitu. Jika gerai itu telah mengikuti prosedur sesuai UU itu. Bupati pun tidak berhak menolak. Apalagi Alfa dan Indo dianggap perusahaan dalam negeri. Perusahaan luar negeri pun kini boleh buka gerai di Belitong. Itu akibat ulah Pemerintah Pusat neken perdagangan bebas Indonesia dan Tiongkok. Era perdagangan bebas saat ini, berlaku.

Alfamart milik orang terkaya ke 20 versi Forbes. Joko Santoso. Indomaret punya grup Anthony Salim. Anehnya keduanya berada selalu berdampingan, dimanapun gerai mereka ada. Itu metode bersaing era modern. Seakan bersahabat, padahal bersaing. Gerai mereka kini mencapai 16 ribu lebih di Indonesia. Mereka kaya. Uang banyak. Apapun bisa mereka lakukan. Apapun bisa mereka bayar. Mereka beli. Politik pun mereka beli.

Tapi. Kalau DPRD Belitung bersidang. Sidang pun atas desakan masyarakat luas. Ramai. Membludak. Marah. Ngamuk. Baru DPRD bersidang secara paripurna. Lalu palu diketok, menolak dua gerai itu masuk Belitong. DPRD Belitung ngetok. DPRD Beltim ngetok. Dua DPRD Belitong ngetok tanda menolak gerai orang kaya Jakarta. Mungkinkah itu? Kalau tidak mungkin, selesailah sudah. Karena dua Bupati Belitong tak punya hak menolak, jika proses kehadirannya telah sesuai aturan.

Itu usaha terakhir. Berat memang. Sulit meminta DPRD bersidang begitu. Mereka orang politik. Orang politik patuh pada pimpinan partai. Belitong tidak ada partai. Yang ada partai milik orang pusat. Daerah tak ada partai seperti di Aceh. Jika pimpinan parpol di pusat telah setuju, maka orang politik di Belitong harus setuju. Itu problem besar. Karena memang tak ada lagi otonomi daerah. Boleh jadi otonomi daerah kini hanya mimpi.

Lalu apa? Daerah kini hanya mampu menggiring. Agar Alfa dan Indo mau berkolaborasi. Gerai mereka mau memajang produksi UMKM Belitong. Mau majang jajak urang Belitong. Mau jualan apam, pengenantalam, rintak, lepat pisang, dan sebagainya. Lalu, tenaga kerjanya harus urang Belitong. Ukan urang Jawe. Urang Belitong, adalah urang ber-KTP Belitong. Siapapun dia, jika sudah ber-KTP Belitong, maka dia urang Belitung. Kalau yang lahir di Belitong, pastilah urang Belitung walau diam de Jawe.

Jika urang Belitong menolak Alfa dan Indo. Berjuang secara sistematis dan terukur. Tolaklah secara logis dan santun. Jangan tolak tanpa memberikan alasan yang masuk akal. Karena masuknya gerai-gerai sejenis itu hanya soal waktu. Suka atau tidak suka, tapi itulah konsekuensi globalisasi. Global trade. Bukan saja ada Global Geopark. Salam cucuk Tok Layang Safari Ans.****