Home / Wisata Belitung / Catatan Redaksi : Belitung perlu wartawan Wisata

Catatan Redaksi : Belitung perlu wartawan Wisata

Bagikan :
  • 106
    Shares

KELAKAR SUNAN

Sebanyak tujuh orang jurnalis dari tujuh negara berkunjung ke Belitung. Mereka tergabung dalam kegiatan FEALAC (Forum for East Asia-Latin America Coorporation) Journalist Familiarization Trip (Fam Trip) untuk melihat sejauh mana Belitung bisa ditawarkan kepada outbond turis dari negara mereka.

Ketujuh wartawan tersebut berasal dari Australia, Cina, Chili, Iran, Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru.

Mereka melakukan peliputan potensi investasi pariwisata di Kabupaten Belitung sebagai tujuan wisata turis dari negara mereka. Mereka melihat langsung dengan kepala sendiri tentang pariwisat Belitung. Karena berbeda dengan liputan-liputan jurnalistik tidak bisa dilakukan dari belakang meja tanpa datang ke lapangan. Karena jenis liputan ini tidak bisa dilaporkan oleh para armchair writer, diapaksakan akan berbeda dengan keadaan lapangan. Bisa-bisa hasil laporannya akan kontra produktif pada wisata Belitung.

Selain beriklan di media besar di negara-negara sumber turis (tourist generating country), mengundang para penulis atau wartawan pariwisata dari negara tersebut, adalah praktek yang sering dilakukan oleh berbagai negara tujuang wisata. Maksudnya adalah, dalam kasus ini, Belitung sebagai daerah tujuan wisata dunia ketiga di Indonesia setelah Bali dan Lombok, akan terekspos di koran-koran yang diwakili para wartawan tersebut.

Penulis atau wartawan pariwisata mendapat tempat khusus oleh kalangan industri pariwisata. Mereka dikategorikan sebagai CIP (Comercially Important Person). Hotel manapun di dunia, kalau ada penulis pariwisata akan menginap, selalu memberi kemudahan. Sedikitnya mereka memberikan layanan complimentary room, bed dan breakfast. Bahkan kalau sudah terjalin hubungan yang erat dengan para penulis pariwisata, para general manager hotel, pasti memberikan compimentary tertentu kepada wartawan atau penulis pariwisata yang tinggal di hotelnya.

General manajer yang cerdas, biasanya dengan mudah mengubah status pembayaran, kepada sang wartawan. Dia tidak ragu-ragu mengubah status “full paying guest” si wartawan menjadi “complimentary fullboard” dengan catatan “on the account of the management”. Bahkan si general manager hotel akan mengirimkan keranjang buah lengkap dengan undangan makan malam, agar terjadi wawancara antara wartawan dengan dia.

Baca Juga :  Perisai Founders Group Jakarta Kunjungi Pulau Belitong

Di acara makan malam dia sudah menyiapkan press kit tentang hotelnya, yang tentu selama dinner terjadi pembicaraan yang bisa dipakai wartawan untuk melakukan penulisan. Tulisan wartawan itu di korannya bukan main tinggi nilainya, jauh lebih tinggi dibanding iklan. Jadi tidak heran kalau para hotelier mengkategorikan wartawan pariwisata itu sebagai CIP tadi.

Di dunia penerbangan pun demikian. Penerbangan mana saja, khususnya anggota IATA, selalu memberikan kemudahan khusus kepada wartawan pariwisata yang sedang melakukan tugas liputan. Karena tulisan wartawan itu nantinya pastilah akan ‘mendrive’ turis datang ke daerah yang ditulisnya, dan tentu naik maskapai mereka. Dalam salah satu paragraf IATA Regulation ada pasal yang intinya mewajibkan perusahaan penerbangan memberi kemudahan kepada wartawan pariwisata ini.

Kemudahan utama biasanya dalam memberikan potongan harga bagi wartawan pariwisata. Perusahaan penerbangan biasanya menerbitkan ID (industrial discount) tiket yang umumnya mereka cadangkan kepada para agen perjalanan, pejabat penerbangan, serta wartawan pariwisata. Di Indonesia tiket macam ini biasa disebut ‘tiket putih’.

Keringanan itu bervariasi, sesuai kemampuan perusahaan penerbangan. Misalnya diberikan ID 25, mendapat potongan 25%, artinya cukup membayar 75% dari harga tarif normal. ID 75, bayar 25%, dan yang paling menyenangkan kalau dapat ID 00, artinya dapat tiket gratis, tapi asuransinya harus dibayar pengguna.

Semogalah kemarin, selama para wartawan pariwisata dari mancanegara itu berada di Belitung mereka mendapat bahan sebanyak-banyaknya. Artinya semua mereka mendapat press kit lengkap tentang pariwisata Belitung. Mereka tak hanya mendapat keterangan tertulis, tapi juga foto digital tentang objek wisata Belitung dalam resolusi tinggi. Ini penting agar, gambar-gambar bagus itu, bisa ditampilkan di majalah mereka dengan bagus pula, yang tentu dapaknya mengundang pembacanya datang ke Belitung.

Baca Juga :  Oleh Oleh Istana Untuk Belitung

Tapi ingat tulisan yang dibuat oleh para wartawan pariwisata, umumnya berupa penyampaian informasi, bukan promosi. Karena untuk promosi sudah ada wadahnya, yaitu iklan. Jadi tak heran kalau bagian penjualan atau pemasaran, suatu industri wisata, berlomba-lomba memasang iklan pada halaman yang ada tulisan mengenai kegiatan mereka di media.

Kasarnya di tulisan tersebut tak bakalan si wartawan menulis ajakan untuk membeli, tapi dia akan menuliskan deskripsi selengkapnya mengenai apa yang dilihatnya. Pilihan tetap di tangan pembaca, iklan itu lah yang mempengaruhi pembaca agar datang ke tujuan wisata yang ditulis wartawan itu. Biasa simbiose mutualistis, karena wartawan itu berhamba kepada pembaca, bukan kepada orang memberinya sponsor. Mereka mau menginap di hotel mana, datang ke obyek wisata mana, makan di restoran mana, atau memakai travel biro yang mana, urusan para wisatawan sendiri. Di situlah mereka perlu dirayu lewat iklan.

Dalam kaitan inilah, saya melihat kita kaum wartawan di Belitung ini, perlu mengikat diri, katakanlah dalam Himpunan Penulis/Wartawan Pariwisata Belitung. Karena kalau kita berhimpun banyak yang kita bisa sampaikan tentang informasi pariwisata Belitung di media yang kita wakili. Dan di daerah lain, penulis/wartawan pariwisata ini adalah suatu komponen utama dari masyarakat pariwisata setempat.

Masyarakat pariwisata ini sedikitnya terdiri dari unsur-unsur: PHRI, ASITA, Airline Club, transportasi wisata, pramuwisata, penulis/wartawan pariwisata, dinas pariwisata, serta dinas terkait lainnya.

Berkenaan dengan Sail Wabe 2011 ini, sudah saatnya dalam scope yang lebih luas, kita membentuk Masyarakat Pariwisata Belitung, dan dalam lingkungan kecil, penulis/wartawan pariwisata berhimpun.

Penulis/wartawan pariwisata ini bisa menjadi motor. Misalnya dalam mencari terobosan-terobosan mengembangkan pariwisata Belitung. Katakanlah mengadakan seminar-seminar kecil tentang pariwisata, melakukan press tour ke berbagai destinasi yang ada di Bangka dan Belitung, yang hasil liputannya dimuat di media mereka.

Baca Juga :  Daya Tarik Wisata,Tanjungpandan Mata Rantai Sejarah Pertimahan dan Munculnya Bangunan Kuno

Ongkos? Itu tidak bisa dihindarkan. Tapi yakinlah dana yang dikeluarkan akan memasukkan uang yang berlipat-lipat. Selain menggunakan dana promosi dari kalangan industri pariwisata sendiri, Pemda pun punya dana promosi. Daripada dana itu dibuang-buang percuma dengan hanya membakar kembang api seperti yang dilakukan dalam Babel Archipelago 2010, hasilnya jauh lebih efektif dengan penyampaian informasi pariwisata melalui media.

Tapi juga kita harus berkaca, sejauh mana kemampuan para wartawan Belitung menulis artikel pariwisata? Itu tak usah diragukan, karena pada galibnya wartawan yang ada di Belitung itu bukan wartawan kemarin sore, yang mungkin kalau dilihat akreditasi mereka, memang masih termasuk wartawan muda. Justru ini keunggulannya, mereka masih mudah dibentuk dan dikembangkan. Tinggal dipoles sedikit jadilah.

Untuk itu kiranya para pemangku kepentingan harus urun rembug, bagaimana memoles bahan baku yang ada agar mengkilat dan akhirnya keberadaan mereka memberikan keuntungan kepada pariwisata Belitung. Kita adakan penataran yang tentunya, pertama mengandalkan potensi lokal dulu, tapi perlu mengundang nara sumber dari Jakarta, baik dari pemerintah, praktisi pariwisata, dan pentolan penulis pariwisata di Jakarta. Libatkan perkumpulan wartawan yang ada di Belitung, karena mereka lebih berkepentingan.

Setelah ditatar para wartawan kita tahu apa komponen penting dalam penulisan berita pariwisata, baik dalam penulisan straifht news atau berita lempeng, maupun features pariwisata.

Ini bukan sembarang kelakar, tapi kelakar membangun. Tak percaya, mari kita buktikan. ***