Home / Bangka Belitung / Kelakar Santai Bang Mansyur Antara Lukisan & Pariwisata di Berandun Coffee

Kelakar Santai Bang Mansyur Antara Lukisan & Pariwisata di Berandun Coffee

Bagikan :

TANJUNGPANDAN: Banyak yang tidak tahu akan sosok Bang Mansyur, perupa yang sudah melanglang buana. Karyanya bertaburan ke berbagai belahan dunia.

Di tataran nasional, nama bang Mansyur, sosok tak asing lagi, sejajar dengan rekan rekan perupa lainnya kerap menghiasi acara kegiatan lukisan nasional.

Kendati tak lagi banyak di luar dan kini tinggal di kampong daerah, Belitong. Bang Mansur punya galery di Tanjungpendam, sebagai aktivitasnya dalam berkarya.

Sayangnya, nasib para perupa di daerah cukup memperihatinkan dan semakin redup. Pelukis kurang mendapat simpati dari berbagai pihak, meski memang hadir hanya sekali lewat.

Ini kenapa ketika ditanyakan ke Bang Mansyur “Sulit berkata-kata,” ungkapnya.

Memang, dunia kesenian tak dapat dipisahkan dalam pengembangan pariwisata. Di Bali, Yogya dan kawasan lainnya menjadi barang yang amat penting ikut mendongrak pariwisita.

Ambil contoh, di berbagai kota pariwisata seperti relief, lukisan ataupun karya seni rupa yang lain kerap terpampang dibandara, di restoran berciri khas daerah, ataupun relief lukisan di tempat jalan jalan utama yang menunjukkan kekhasan daerah.

“Gagasan untuk membuat atau memanfaatkan tembok² milik pemerintah untuk melukiskan karakteristik daerah agar terasa atmosafer kedaerahannya sudah sering disampaikan liwat Dinas² terkait namun belum pernah direspon dgn baik”,
katanya berterus terang.

Keterlibatan pemangku kebijakan amat perlu. Kata Mansyur, tanpa campur tangan pengambil kebijakan, tidak akan pernah merubah keadaan menjadi lebih baik. Semisal tadi yang diungkapkan diatas.
“Bagaimana lukisan menjadi magnet wisata,” katanya.

Itu lukisan karya cukilan kayu dengan Judul: “Musik Melayu”, bahan kayu jati dengan ukuran 35 x 40 Cm, tebal 1 Cm.

 

Lukisan bisa menjadi bagian pendorong bangkitkan wisata dan mampu penciptaan lapangan kerja dan berdampak pada pendapatan kecil masyarakat.

Sebab itu, bang Mansur tak tinggal diam. Kendati nol rupiah tak dibantu siapa pun, dirinya berobsesi,
Setiap Sabtu akan melukis ditengah halaman publik, “Harapannya karya lukisan dikenal banyak orang.
Mungkin 40 tahu ke atas kenal, namun generasi baru kenal mungkin tak akan tahu bila tak dimulai dari sekarang. Dan yang penting masyarakat Belitung bisa mengetahui bahwa daerahnya memiliki perupa yang dapat dibanggakan” tambahnya.*