Home / Bangka Belitung / MEMBEDAH PESONA PULAU SELIU
Mansyur Mas'ud

MEMBEDAH PESONA PULAU SELIU

Bagikan :

MEMBALONG: Pulau Seliu berada di Selatan pulau Belitung dan masuk dalam wilayah Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung.

Di pulau Seliu ini kita masih dapat melihat bagaimana penduduk lokal membuat ‘emping’ atau ‘kerupuk melinjau’ dengan cara yang masih sama seperti nenek moyang mereka membuatnya beberapa ratus tahun lalu. Kita juga bisa melihat bagaimana mereka membuat ‘asam kandis’ yang bahan bakunya tumbuh liar dan subur di hampir seluruh permukaan tanah pulau Seliu.

Hampir tiap rumah memiliki halaman yang ditumbuhi pohon mangga berbagai jenis yang telah ditanam oleh 7 generasi sebelum mereka yang saat ini masih tumbuh kokoh subur dan produktif yang ketika musim buah entah berapa ratus ton buah mangga yang mubazir jatuh busuk dan mengering percuma di atas tanah.

Selain tumbuhan buah²an masih banyak tumbuhan lain yang seperti ‘jelutong’, samak, purun dan lain-lain yang bisa diolah menjadi produk yang mendatangkan sumber ekonomi baru.

Seorang seniman Belitung, Mansyur Mas’ud pernah berujar;
“Pulau Seliu bisa dikatakan sebagai benteng terakhir dari peradaban ‘Melayu Belitong’ karena penduduknya masih ada yang banyak yang melakukan kegiatan tradisi dan budaya seperti pendahulu mereka yang tidak lagi dilakukan oleh penduduk lokal lain yang ada di Belitung”.

Saat ini Mansyur Mas’ud sedang menggalang kekuatan bersama perangkat Desa, Pokdarwis serta Tokoh adat setempat untuk membangun Desa Seliu dalam aspek Seni Budayanya.

Banyaknya rumah tradisionil yang ditinggal pergi oleh pemiliknya ke daerah perkotaan, sehingga dapat dimanfaatkan menjadi galeri atau pusat workshop kegiatan berkesenian karena untuk mengembangkan suatu daerah menjadi tujuan wisata tak mungkin meninggalkan aspek seni dan budayanya.

Dalam pandangan Seniman Belitung Mansyur, Dulunya, Pulau Seliu menjadi basis kopra, sebagai salah satu ladang mata pencaharian dan usahanya. Sektor inilah menunjang PAD Daerah ketika itu

Namun seiring dengan waktu, pulau Seliu dihadapkan untuk bersinergi seiring pemerintah mengulirkan sektor wisata .

Mansyur melihat Pulau Seliu Tujuan Wisata Baru di Kabupaten Belitung. Nilai kemajuan nantinya akan terealisasi, karena pulau Seliu kaya akan potensi budaya.

Bahkan sisa-sisa kebudayaan di Seliu, ada jejak sosial budaya melayu tempo dulu di Pulau Seliu yang tak lekang di makan zaman dan menjadi nilai tambah untuk kemajuan wisata.

Ini terlihat, dulunya hingga sekarang masih tersisa rumah-rumah tradisi yang memiliki nilai keunikan.

Begitu juga, wisata empeng bagu juga menjadi alternatif bagi warga hendak berkunjung ke seliu sebagai oleh-oleh khas pulau Seliu.

Tak kalah uniknya, tanaman asam kandis yang tumbuh disembarang tempat yang digunakan untuk bahan masakan.

Produk unggulan lain di Seliu seperti masih adanya tumbuh pohon jeluntung (pelai)/kayu balsah yang merupakan kayu ringan untuk bahan pembuat ukiran.

Begitu dari dari tanaman juga bernilai wisata, seperti tali purun. Disamping punya keindahan berwisata, tali purun bisa buat kerajinan sebagai sumber ekonomi baru masyarakat.

Tak hanya itu. Buah-buahan, mangga yang bisa dibuat manisan dan buat ‘Selie’ maupun wisata panen buah mangga yang kini belum dimanfaatkan secara serius karena buah mangga ini bisa sebagai salah satu ketahanan pangan daerah.

Begitu pun. Dengan statusnya juga kawasan nelayan pesisir disamping Nelayan lakukan aktivitas siro, mukat dan mancing, juga boot bisa digunakan untuk transportasi wisata.

Yang paling uniknya. Keamanan dan kejujuran di Pulau Seliu sangat baik. Ambil contoh motor yang kuncinya tak pernah dicabut untuk selama beberapa hari ditinggal tidak dipakai. Karena ade pepatah yang dilestarikan. “men ukan punye diri jangan diambik”

Dan untuk menjadi daerah tujuan wisata, penyelenggaranya harus menciptakan ikon baru sebagai magnit untuk tujuan wisata. Harus menciptakan banyak tujuan wisata baru di pulau Belitung selain Tanjung kelayang dan ‘sekolah laskar pelangi’ yang telah ada.

Begitu pun, wahana yang ditawarkan banyak, jangan wisatawan hanya satu hari atau dua hari saja berkunjung, mereka sudah balik karena bosan kunjungan ke Belitung namun harus disiapkan alternatif wisata lainnya.

“Inilah salah satu upaya untuk membuka wisata daerah ke depan agar maju dan berkembang,” katanya.*