Shuling ke-200 di Tanjungpandan: Merawat Subuh, Menebar Bahagia untuk Yatim dan Duafa
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 4 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNGPANDAN — Langit Tanjungpandan masih menyisakan sejuknya pagi ketika langkah-langkah kaki mulai berdatangan menuju Masjid Al-Mabrur, Ahad (30/8/2026). Ada yang datang sendiri, ada pula yang berjalan berkelompok. Tujuannya satu: menunaikan salat Subuh berjamaah sekaligus merayakan perjalanan panjang Gerakan Sholat Shubuh Berjamaah (Shuling) yang kini memasuki edisi ke-200.
Dua ratus kali pertemuan bukan sekadar angka. Di baliknya ada ketekunan untuk menjaga semangat berjamaah, membangun silaturahmi, sekaligus menghadirkan kepedulian kepada sesama.
Pelaksanaan Shuling ke-200 berlangsung semarak. Sejumlah tokoh dan organisasi turut hadir, di antaranya Asisten I Kabupaten Belitung, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Belitung, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Belitung, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kabupaten Belitung, Ketua Yayasan Infaq Jariyah Belitung, Lembaga Adat Melayu Belitong, para koordinator Shuling Kecamatan Tanjungpandan, Sijuk dan Badau, serta majelis taklim se-Kecamatan Tanjungpandan.
Namun, kemeriahan Shuling ke-200 tidak berhenti pada ritual ibadah. Pagi itu juga menjadi momentum untuk berbagi kebahagiaan.
Usai rangkaian kegiatan, kebahagiaan dibagikan kepada 20 anak yatim melalui pemberian amplop. Beras juga disalurkan kepada marbot dan kaum duafa. Sementara itu, jamaah mendapatkan mushaf Al-Qur’an dan sayuran sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan.
Pembagian bantuan tersebut dikoordinasikan langsung oleh Ustadz Muhajir, yang akrab disapa Kang Santri, Sekretaris DMI Kabupaten Belitung, bersama koordinator kegiatan, Drs. H. Ibnu Habban.
Senyum para penerima menjadi pemandangan yang tak kalah penting dari rangkaian acara pagi itu. Sebab, semangat Shuling bukan hanya bagaimana mengajak orang datang ke masjid, tetapi juga bagaimana kepedulian yang tumbuh di masjid dapat dibawa pulang dan dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Meneladani Akhlak Nabi
Suasana semakin khidmat ketika Ustadz K.A. Faisal Isfandiary menyampaikan tausiah.
Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah untuk mengenal dan meneladani kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai manusia pilihan.
Pesan tentang akhlak itu terasa relevan dengan semangat Shuling yang telah berjalan hingga 200 kali. Sebab, ibadah tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga bagaimana nilai-nilai kebaikan diwujudkan dalam kehidupan sosial.
Jamaah kemudian diajak memperbanyak shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa, memohon keberkahan agar gerakan Subuh berjamaah terus tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Belitong.

Dalam kesempatan iru, untuk mengenang alm H Warsono sebagai(perintis Shuling), Drs H Ibnu Habban mengajak para jamaah membaca suratul Fatihah untuk dikirim kepada Almarhum H Warsono.
Dari Bubur Ayam hingga Wedang Jahe
Ada satu hal lain yang membuat suasana Shuling begitu akrab: makan bersama.
Panitia menyiapkan beragam hidangan untuk jamaah. Bubur ayam, kopi, teh hingga wedang jahe—minuman yang menjadi salah satu favorit dalam kegiatan Shuling—tersaji menemani obrolan pagi.
Di antara kepulan wedang jahe dan hangatnya bubur ayam, sekat-sekat sosial seolah mencair. Jamaah duduk bersama, berbincang, bersilaturahmi dan menikmati kebersamaan setelah menunaikan salat Subuh.
Begitulah Shuling ke-200 di Masjid Al-Mabrur Tanjungpandan.Ia bukan sekadar pertemuan untuk mengejar jumlah ke-200. Ia adalah cerita tentang orang-orang yang memilih bangun lebih awal, melangkahkan kaki ke masjid, bershalawat, mendengarkan nasihat, lalu berbagi kebahagiaan.
Dari sajadah, lahir silaturahmi.
Dari masjid, mengalir kepedulian.
Dan dari Subuh, tumbuh harapan agar kebaikan terus menyala di tengah masyarakat.
Shuling ke-200 pun menjadi pengingat bahwa sebuah gerakan besar sering kali bermula dari kebiasaan sederhana: bangun ketika sebagian orang masih terlelap, lalu datang ke masjid untuk beribadah dan berbagi.
- person
- visibility 130
- forum 0