Ketika Pergaulan Menyimpang Dikalangan Pelajar: Ini Pandangan Samad S.M Seorang Praktisi Pendidikan
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 2 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNGPANDAN — Masa remaja seharusnya menjadi fase bagi seorang pelajar untuk tumbuh, belajar, menemukan jati diri, dan menyiapkan masa depan. Namun, di tengah derasnya arus teknologi dan perubahan pergaulan, anak-anak muda juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Salah satunya adalah perilaku menyimpang dan pergaulan bebas yang dinilai perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak yang peduli terhadap masa depan generasi muda di Belitung.
Kepala sekolah SMK Yaperbel 2 Tanjung Pandan, sekaligus praktisi pendidikan, Samad, S.M., mengingatkan bahwa persoalan pergaulan pelajar tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Pendidikan karakter justru harus dimulai dari lingkungan paling dekat dengan anak, yakni keluarga.
Menurut Samad, yang kini mengenyam pendidikan program S2 di Universitas Pertiba Pangkal Pinang, orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan bekal kepada anak. Bekal tersebut bukan hanya berupa kebutuhan finansial dan pendidikan formal, tetapi juga perhatian, etika, moral, serta nilai-nilai keagamaan.
“Anak tidak cukup hanya dipenuhi kebutuhan materinya. Mereka juga membutuhkan perhatian, pendampingan, pendidikan moral dan agama agar memiliki pegangan dalam menjalani kehidupan,” demikian pentingnya pesan yang disampaikan dalam konteks pendidikan generasi muda.
Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, pengawasan terhadap anak pun menjadi tantangan tersendiri. Dunia digital membuat anak dapat mengakses berbagai informasi dengan mudah. Tanpa pendampingan yang baik, teknologi yang seharusnya menjadi sarana belajar dan berkembang justru dapat membawa pengaruh negatif.
Karena itu, anak-anak perlu diarahkan untuk menggunakan teknologi secara bijak serta mengisi waktu dengan kegiatan yang positif dan produktif.
Kegiatan olahraga, organisasi, seni, pendidikan keagamaan, maupun aktivitas sosial dapat menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan potensi sekaligus membangun pergaulan yang sehat.
Penguatan kehidupan keagamaan juga dinilai penting sebagai salah satu fondasi pembentukan karakter. Nilai-nilai agama dapat menjadi pegangan bagi anak dalam membedakan mana yang baik dan buruk ketika mereka berhadapan dengan berbagai pengaruh lingkungan.
Namun, persoalan pergaulan bebas sejatinya bukan hanya persoalan pelajar.
Ini merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Masing-masing memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat dan mendukung tumbuh kembang generasi muda.
Pemerintah dapat memperkuat program pembinaan kepemudaan dan pendidikan karakter. Sekolah dapat memperkuat pengawasan serta kegiatan positif siswa. Masyarakat dapat menciptakan lingkungan sosial yang sehat. Sementara orang tua menjadi tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan kasih sayang, perhatian dan arahan.
Sebab, ketika seorang anak mulai mencari tempat untuk didengar, keluarga semestinya menjadi tempat pertama yang ia datangi.
Di situlah pendidikan sesungguhnya bermula.
Bukan hanya dari ruang kelas, tetapi dari percakapan sederhana di rumah, perhatian orang tua terhadap aktivitas anak, hingga keteladanan yang mereka lihat setiap hari.
Generasi muda Belitung adalah bagian dari masa depan daerah ini. Menjaga mereka dari pengaruh negatif bukan berarti membatasi ruang tumbuh mereka, melainkan memastikan mereka memiliki bekal yang cukup untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Di tengah derasnya arus zaman, perhatian orang tua, pendidikan karakter dan nilai keagamaan menjadi semacam kompas—agar anak-anak muda tidak kehilangan arah ketika memasuki dunia yang semakin terbuka.*
- person
- visibility 59
- forum 0