Alumni IKPB Cabang Bandung Kembali Berkumpul: Sepiring Hidangan Kampung, Seribu Cerita Persaudaraan
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 55 menit yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNGPANDAN — Ada cerita yang tak pernah benar-benar selesai meski waktu terus berjalan. Begitu pula persaudaraan para alumni Ikatan Keluarga Pelajar Belitong (IKPB) Cabang Bandung.
Bertahun-tahun setelah menempuh pendidikan dan merasakan kehidupan sebagai pelajar di Kota Bandung, para alumni dari berbagai generasi kembali duduk bersama. Kali ini bukan di ruang kelas atau asrama, melainkan di sebuah sekretariat sederhana di kampung halaman.
Pertemuan penuh kehangatan itu berlangsung di Sekretariat Alumni IKPB, Jalan Keramik Dalam, RT 08/RW 04, Kelurahan Lesung Batang, Kecamatan Tanjungpandan, Belitung, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Sejumlah alumni senior dan junior hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya M. Syamsudin, Sidih, Ria Miskinah, Sahanan, Yuyu Herlina, Muhamad Tavip, Iriansyah, Alpiah, Arpan Arbaie, Asri, Hadi Karya, Zainal, Zulfriandi Afan (Ipen), Nizam, dan Junaidi Kalam.
Tak ada jarak antara mereka yang lebih dulu menapaki perjalanan di Bandung dengan generasi yang datang setelahnya.
Mereka duduk berdekatan, bercengkerama dan saling bertukar cerita. Kenangan masa lalu kembali muncul—tentang kehidupan sebagai pelajar di Bandung, pengalaman merantau jauh dari Belitong, hingga kabar tentang teman-teman alumni yang kini menjalani kehidupan masing-masing.
Ketika Cerita Lama Kembali Hidup
Suasana semakin hangat ketika hidangan khas Belitung tersaji di tengah-tengah mereka. Tidak perlu sajian mewah untuk menciptakan keakraban. Sayur nangka Belitung dengan masakan lemak, ikan asin jambal Roti, hingga ikan panggang, ditambah buah-buahan semangka hingga pepaya, dan kue Bingke Berendam, justru menghadirkan rasa yang begitu dekat dengan kampung halaman. Aroma masakan seolah membuka kembali pintu kenangan.
Percakapan yang awalnya ringan perlahan membawa mereka kembali ke masa lalu. Nama-nama lama disebut, kisah masa muda dikenang, dan pengalaman selama berada di Bandung menjadi bahan cerita yang tak ada habisnya. Sesekali tawa pecah di tengah percakapan.
Bagi mereka, makanan bukan sekadar hidangan. Ada rasa kampung halaman yang ikut tersaji di atas meja—rasa yang mungkin selama bertahun-tahun mereka bawa ketika hidup jauh dari Belitong. Usai menyantap hidangan, es sirup menjadi pelepas dahaga sekaligus teman melanjutkan obrolan. Sederhana, tetapi justru di situlah kehangatan pertemuan terasa.
Tak Ada Sekat Senior dan Junior. Yang menarik, pertemuan tersebut tidak memperlihatkan sekat antara alumni senior dan junior. Mereka melebur dalam satu suasana kekeluargaan.

Para senior membawa cerita dan pengalaman dari masa lalu, sementara generasi yang lebih muda menjadi bagian dari keberlanjutan hubungan kekeluargaan tersebut.
Pertemuan lintas generasi seperti ini menjadi ruang untuk saling mengenal lebih dekat sekaligus memastikan bahwa nama dan ikatan IKPB tidak berhenti pada satu generasi.
Patungan, Bukan Beban
Kegiatan silaturahmi tersebut juga menunjukkan semangat kebersamaan yang sederhana. Semuanya dikumpulkan secara bersama-sama dan sukarela dari para alumni. Tidak bertumpu pada satu atau dua orang. Semuanya mengambil bagian sesuai kemampuan dan keikhlasan.
Bagi para alumni, cara sederhana tersebut justru memperlihatkan bahwa kebersamaan bukan soal siapa yang paling banyak memberi, melainkan bagaimana setiap orang ikut mengambil bagian.
Nilai gotong royong yang sudah akrab dalam kehidupan masyarakat Belitong kembali terasa dalam pertemuan tersebut.
Lebih dari Sekadar Makan Bersama
Bagi para alumni IKPB Cabang Bandung, pertemuan seperti ini bukan sekadar agenda berkumpul atau makan bersama. Ada hubungan lama yang ingin dirawat. Ada teman yang ingin kembali disapa. Ada cerita yang ingin dikenang. Dan ada generasi muda yang ingin dirangkul agar tetap mengenal akar persaudaraan para pendahulunya.
Sebab, waktu mungkin mengubah banyak hal. Ada yang rambutnya mulai memutih, ada yang tak lagi tinggal di tempat yang sama, dan ada pula yang sudah lama tidak bertemu.

Namun, ketika mereka duduk bersama, sekat usia dan jarak seolah menghilang. Sepiring hidangan kampung halaman menjadi pengikat, sementara cerita masa lalu menjadi jembatan yang mempertemukan kembali generasi demi generasi.
Pada akhirnya, silaturahmi tidak selalu membutuhkan acara besar. Kadang cukup sebuah ruangan sederhana, makanan yang dimasak bersama, secangkir minuman, dan orang-orang yang pernah berbagi cerita di masa muda.
Karena persaudaraan yang dirawat bukan hanya membuat masa lalu tetap hidup, tetapi juga memastikan bahwa cerita itu memiliki tempat untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.*
- person
- visibility 38
- forum 0