Di Balik Cerita Sosok Calon Kepala Desa Perawas, Yahya SE: Memandirikan Untuk Topang Kemajuan Desa
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 6 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNGPANDAN — Ketika puluhan desa di Belitung harus menghitung ulang langkah akibat pemangkasan Dana Desa 2026, Desa Perawas memilih jalan yang berbeda. Desa itu tidak sekadar bertahan. Ia mencoba membuktikan bahwa sebuah desa bisa memiliki “napas panjang” ketika fondasi kemandiriannya dibangun jauh sebelum masa sulit datang. Di balik cerita itu tentunya, ada sosok Kepala Desa Perawas, Yahya SE.
Selama lebih dari empat tahun, Yahya membangun sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam bentuk bangunan atau proyek fisik. Ia merangkai enam pilar pembangunan—pendidikan, budaya, sosial, ekonomi, ketahanan pangan, dan keagamaan—menjadi sebuah ekosistem yang saling menopang.
Bagi Yahya, pembangunan desa bukan sekadar soal apa yang bisa dibangun hari ini, tetapi tentang bagaimana warga tetap memiliki alasan untuk berdiri tegak ketika bantuan dari luar berkurang.
Anak Desa Tak Boleh Kalah Karena Biaya
Di Perawas, pendidikan ditempatkan sebagai investasi jangka panjang.
Program beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah diberikan bagi anak-anak dari tingkat SD hingga SMA. Tidak berhenti di sana, pemerintah desa juga membuka ruang kerja sama dengan perguruan tinggi agar anak-anak Perawas memiliki jalan untuk melanjutkan pendidikan ke kampus.
“Kami tidak ingin anak Perawas kalah sebelum bertanding hanya karena biaya,” ujar Yahya dalam satu kesempatan.
Kalimat itu menggambarkan cara pandangnya: kemiskinan tidak boleh diwariskan hanya karena seorang anak lahir di desa.
Ketika Budaya Menjadi Perekat
Pembangunan rumah adat dan penghidupan kembali tradisi Maras Taun juga menjadi bagian dari perjalanan Perawas.
Bagi Yahya, budaya bukan sekadar acara seremonial atau tontonan tahunan. Di dalamnya ada gotong royong, perjumpaan antarwarga, dan rasa memiliki terhadap kampung halaman.
Sebab, desa yang kuat bukan hanya desa yang memiliki pendapatan. Ia juga harus memiliki masyarakat yang masih saling mengenal dan mau saling membantu.
Hadir Saat Warga Berada di Titik Terlemah
Ada pula sisi pembangunan yang barangkali paling mudah dirasakan warga: ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja.
Bantuan kesehatan bagi warga yang sakit, santunan bagi keluarga yang berduka, hingga penataan rencana pemakaman baru yang lebih layak menjadi bentuk kehadiran pemerintah desa.
Di titik seperti inilah pembangunan terasa bukan sebagai angka dalam laporan, melainkan sebagai tangan yang datang ketika seseorang sedang membutuhkan.
Mengubah Sampah Menjadi Napas Ekonomi
Namun, kisah Perawas menjadi semakin menarik ketika berbicara soal ekonomi desa.
Yahya mendorong sampah agar tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan. Melalui unit usaha BUMDes, sampah diolah menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PAD).
Pengelolaan pasar desa dan pengem9bangan peternakan ayam petelur turut menjadi bagian dari strategi tersebut.
Hasilnya menjadi semakin penting ketika Dana Desa Perawas disebut turun drastis, dari sekitar Rp1,3 miliar pada 2025 menjadi Rp373 juta pada 2026.
Di saat ruang fiskal menyempit, roda pembangunan tidak serta-merta berhenti. Ada sumber pendapatan lain yang telah disiapkan.
Barangkali di situlah letak pelajaran terbesar Perawas: kemandirian tidak dibangun ketika krisis datang. Kemandirian dibangun jauh sebelum krisis dibutuhkan.
Bukan Memberi Ikan, Melainkan Menyiapkan Kail
Di sektor ketahanan pangan, pendekatan yang dipilih pun serupa. Warga didorong menjadi pelaku produksi. Dua unit cultivator dihibahkan kepada Gapoktan Panca Sakti, sementara pelatihan budidaya perikanan dan pendampingan usaha ternak rakyat diberikan agar masyarakat memiliki kemampuan sekaligus sarana untuk mengembangkan usaha.
Tujuannya sederhana: warga jangan hanya menjadi penerima bantuan.
Mereka harus menjadi produsen.
Dengan cara itu, program ketahanan pangan tidak berhenti ketika bantuan selesai. Harapannya, kegiatan ekonomi justru terus tumbuh setelah program pemerintah berakhir.
Memakmurkan Masjid, Memuliakan Manusia
Pilar terakhir adalah keagamaan.
Bantuan rutin untuk mendukung kemakmuran masjid terus berjalan. Kini, program pemberangkatan umrah juga disiapkan bagi imam, guru ngaji, dan warga yang dinilai berjasa bagi desa.
Di sini, pembangunan Perawas tidak hanya bicara tentang jalan, pasar, peternakan, atau PAD.
Ada pula upaya membangun manusia dari sisi spiritual dan penghargaan terhadap mereka yang selama ini ikut menjaga kehidupan sosial desa.
Empat Tahun yang Menjadi Modal Pilihan
Enam pilar itu pada akhirnya bertemu pada satu gagasan: desa harus memiliki kemampuan untuk mengurus masa depannya sendiri.
Pendidikan membuka jalan bagi generasi berikutnya. Budaya menjaga kebersamaan. Program sosial memastikan warga tidak sendirian ketika menghadapi masa sulit. Ekonomi menciptakan sumber pendapatan. Ketahanan pangan memperkuat kemampuan produksi. Sementara agama menjadi salah satu fondasi moral masyarakat.
Investasi sosial Jangka Panjang
Ketika menjadi pemimpin empat tahun sebelumnya, Yahya SE tak hanya berpikir jangka pendek dalam kehidupan sosial masyarakat, namun dalam hal jangka panjang menjadi perhatian serius. Salah satunya, perluasan untuk pemakaman warga masyarakat. Ini merupakan sosok pemimpin yang visioner ke depan yang mau memikirkan masyarakat.
Kini, ketika Yahya kembali maju sebagai Calon Kepala Desa Perawas dalam Pilkades 2026, warga dihadapkan pada sebuah pilihan yang lebih besar daripada sekadar memilih nama di surat suara.
Mereka juga sedang menentukan arah.
Apakah sistem yang telah dibangun selama lebih dari empat tahun akan dilanjutkan dan dikembangkan, atau Perawas akan memilih jalan baru?
Apa pun jawabannya nanti, satu hal telah menjadi catatan: Perawas menunjukkan bahwa desa tidak harus menunggu kaya untuk mulai mandiri. Kadang, yang dibutuhkan terlebih dahulu adalah keberanian untuk membangun sistem—pelan, sunyi, tetapi terus bekerja.
Dan ketika anggaran menyusut, sistem itulah yang kemudian menjadi napas panjang.*
- person
- visibility 113
- forum 0