Distangan Beltim Pastikan Hewan Kurban Aman dan Layak Konsumsi Jelang Iduladha 1447 H

Pihaknya terus melakukan pemantauan dan pemeriksaan kesehatan hewan ternak, baik dari peternak lokal maupun sapi dan kambing yang didatangkan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan kurban masyarakat.

MANGGAR: Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Dinas Pertanian dan Pangan (Distangan) Kabupaten Belitung Timur memastikan kondisi hewan kurban di daerah itu aman, sehat, dan layak dikonsumsi masyarakat.

Kepastian tersebut disampaikan Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distangan Beltim, drh. Therissia Hati, seizin Plt Kepala Distangan Beltim, Heru Indramarta, SPt., di ruang kerjanya, Rabu (13/5/2026) sore.

Therissia mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan pemeriksaan kesehatan hewan ternak, baik dari peternak lokal maupun sapi dan kambing yang didatangkan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan kurban masyarakat.

“Selama ini memang kami rutin melakukan pemantauan di lapangan, termasuk menjelang Iduladha sekarang. Hewan-hewan yang masuk dari luar daerah tetap kita periksa dan pantau kesehatannya,” ujar Therissia kepada Diskominfo Beltim.

Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengungkapkan bahwa pada awal tahun 2026 sempat ditemukan beberapa kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Namun, seluruh ternak yang terindikasi telah mendapatkan penanganan dan dinyatakan sembuh.

“Kasusnya tidak banyak dan semuanya sudah dilakukan treatment atau pengobatan. Kondisinya sekarang sudah sembuh,” ungkapnya.

Berdasarkan data Distangan Beltim per 8 Mei 2026, ketersediaan hewan kurban saat ini mencapai 274 ekor sapi dan 123 ekor kambing. Sementara kebutuhan masyarakat diperkirakan mencapai 357 ekor sapi dan 405 ekor kambing.

Dengan kondisi tersebut, sebagian besar kebutuhan hewan kurban masih harus dipenuhi dari luar daerah.

“Kalau untuk sapi lokal sendiri mungkin baru bisa memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan. Sisanya masih didatangkan dari luar,” jelas Therissia.

Meski demikian, perempuan yang akrab disapa Temi itu melihat adanya tren positif perkembangan peternakan lokal di Kabupaten Belitung Timur. Jika pada tahun sebelumnya kontribusi sapi lokal hanya sekitar 30 persen, kini meningkat menjadi sekitar 40 persen.

Menurutnya, peningkatan tersebut didorong mulai berkembangnya pola integrasi peternakan sapi dengan perkebunan kelapa sawit yang mulai diterapkan sejumlah peternak lokal.

“Sekarang sudah mulai banyak peternak yang mengembangkan sapi Bali di kawasan kebun sawit. Jadi ada perkembangan yang lebih baik dalam pengembangan perbibitan ternak sapi,” katanya.

Beltim Kembali Dapat Bantuan Sapi Kurban Presiden

Sementara itu, Kabupaten Belitung Timur tahun ini kembali mendapatkan bantuan satu ekor sapi kurban dari Presiden Republik Indonesia.

Therissia menyebutkan sapi bantuan presiden tersebut rencananya akan ditempatkan di Masjid Al Falaah, Desa Senyubuk, Kecamatan Kelapa Kampit.

“Untuk bantuan sapi kurban presiden tahun ini satu ekor dan ditempatkan di Masjid Al Falaah Desa Senyubuk,” ujarnya.

Selain bantuan sapi kurban presiden, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga akan memberikan bantuan ternak yang saat ini masih dalam proses CPCL (Calon Penerima Calon Lokasi). Bantuan tersebut diperkirakan akan disalurkan kepada kelompok peternak.

“Harapannya tentu untuk menambah populasi ternak lokal yang ada di Kabupaten Belitung Timur,” tambah Temi.

Ia menjelaskan pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan peternak lokal melalui program perguliran ternak. Program itu dilakukan dengan cara peternak penerima bantuan sebelumnya menggulirkan kembali ternaknya kepada kelompok peternak baru.

“Alhamdulillah beberapa kelompok peternak yang sebelumnya menerima bantuan sudah mulai berkembang dan bersedia menggulirkan ternaknya ke kelompok baru. Ini yang terus kita dorong supaya peternak lokal semakin banyak,” bebernya.

Menurut Temi, tantangan utama pengembangan peternakan di Kabupaten Beltim saat ini masih berkaitan dengan pola pikir masyarakat yang umumnya menjadikan beternak sebagai usaha sampingan.

“Mindset masyarakat kita masih banyak yang menjadikan beternak itu sebagai usaha sampingan. Diharapkan ke depan akan bertambah banyak peternak yang menjadikan beternak sebagai penghasilan utama mereka,” katanya.

Selain itu, dukungan dari berbagai pihak juga mulai dirasakan peternak, termasuk bantuan pakan tambahan dari perusahaan sawit serta penjajakan dukungan dari sejumlah lembaga untuk pengembangan sektor peternakan di Belitung Timur.* sumber; Diskominfo SP Beltim