TANJUNGPANDAN: Senin siang itu (13/4/2026) terasa berbeda di kawasan Bukit Marakas. Angin yang berembus pelan seolah ikut membawa suasana hangat dari sebuah pertemuan penuh makna. Di sebuah rumah di Jalan Anuar, Komplek Bukit Marakas E3, puluhan orang berkumpul, bukan sekadar untuk bertemu, tetapi untuk merayakan kebersamaan, saling memaafkan, dan mensyukuri kehidupan.
Di sanalah Halal Bihalal antar komunitas Belitung digelar, berpadu dengan momen istimewa ulang tahun ke-68 Hj. Messalina Oesman, S.Pd—sosok yang dikenal sebagai Ketua Universal Line Dance Cabang Belitung periode 2026–2031. Hari itu bukan hanya tentang bertambahnya usia, tetapi juga tentang perjalanan panjang, persahabatan, dan jejak pengabdian dalam komunitas.
Sejak awal acara, suasana terasa akrab. Para tamu dari berbagai organisasi seperti Senam Tera Indonesia Belitung, Simpor, Iwapi, orari hingga komunitas Universal Line Dance datang dengan senyum dan sapaan hangat. Tak ada sekat, tak ada jarak—semua larut dalam nuansa kekeluargaan.
Doa bersama menjadi pembuka yang khidmat. Dalam hening yang penuh harap, setiap kepala tertunduk, menyatukan doa untuk kesehatan, keselamatan, dan keberkahan bagi semua yang hadir. Momen itu menjadi pengingat sederhana bahwa di balik kesibukan dan rutinitas, kebersamaan adalah hal yang patut dirawat.
Saat tiba waktunya memberikan sambutan, Hj. Messalina menyampaikan bahwa pada hari ini merupakan kegiatan halal bihalal antar komunitas, seperti halnya Senam Tera Indonesia Belitung, Simpor, Iwapi, orari hingga Universal Lain Dance. Diharapkan lewat kegiatan ini halal bihalal terus terjaga dengan baik.
Sementara itu, saat bersamaan halal bihalal ini secara kebetulan ulang tahun dirinya, Hajah Messalina menyampaikan Ucapannya sederhana, namun terasa tulus dan menyentuh.
“Terima kasih atas kehadiran dan doa dari rekan-rekan semua. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan keselamatan,” tuturnya.
Tak ada kata-kata berlebihan, namun justru di situlah letak kehangatannya. Ia tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga pusat dari pertemuan yang mempertemukan banyak cerita dan kenangan.
Usai sambutan, tradisi salam-salaman menjadi puncak keakraban. Satu per satu tamu saling berjabat tangan, bertukar senyum, bahkan pelukan hangat. Ucapan selamat ulang tahun mengalir, diselingi canda ringan yang membuat suasana semakin hidup.
Acara kemudian berlanjut ke sesi santai. Beragam hidangan tersaji di meja—makanan dan minuman yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi medium kebersamaan. Di sela-sela santap siang, percakapan mengalir tanpa jeda: tentang kegiatan komunitas, kenangan lama, hingga rencana ke depan.
Di hari itu, tidak ada yang merasa sebagai tamu. Semua adalah keluarga. Lebih dari sekadar tradisi pasca Hari Raya, Halal Bihalal ini menjadi ruang pertemuan hati—tempat di mana hubungan dipererat, perbedaan dilebur, dan kebersamaan dirayakan. Dan di tengah semua itu, ulang tahun Hj. Messalina menjadi simbol bahwa perjalanan hidup yang panjang akan selalu lebih bermakna ketika dijalani bersama orang-orang yang peduli.
Sore pun perlahan turun, namun kehangatan yang tercipta siang itu seolah enggan beranjak. Dari Bukit Marakas, sebuah pesan sederhana mengalir: bahwa kebersamaan, sekecil apa pun, selalu punya cara untuk meninggalkan kesan yang mendalam.*












