Kaitan New Normal, Ini Hasil Dialog CAI dengan 4 Anggota DPRD Babel

TANJUNGPANDAN: CAI (Centrum Arete Institute) kembali menggelar Diskusi sesi 31 sebagai agenda rutin dalam mengisi pikiran diruang publik, pada Rabu Malam 24 Juni 2020 Kemarin, yang bertempat di Kedai Makmor, Jalan Patimura Tanjungpandan, Belitung, Provinsi Babel.

Diskusi kali ini dipandu Dr. Saifuddin Al-Mughniy dengan menghadirkan nara sumber dari kalangan anggota DPRD Propinsi Bangka Belitung diantaranya ibu Hellyana SH, Erwandi A Rani, Beliadi SIP dan Rudi Hartono dengan tema “Kesiapan Pemerintah dalam memasuki New Normal ditengah keterpurukan ekonomi”

Disamping nara sumber hadir sebagai peserta dari berbagai kalangan, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda dan beberapa komunitas dan forum. Seperti Forum Komunikasi Ummat Beragama (FKUB), Forum Crisis Centre (FCC), Yayasan Melayu Rantau, Kaukus Politik Perempuan Indonesia Belitung Timur dengan Belitung.

IMG 20200625 WA0005

Bagi CAI diskusi ini adalah begitu penting bukan hanya membangun dialektika tetapi lebih pada membangun kultur percakapan, sehingga melahirkan budaya pengucapan dan pendengar yang baik. Dan ruang publik semestinya diucapkan melalui diskusi, agar ada “perseteruan pikiran” dan itulah yang disebut dengan suhu berfikir.

Ibu Hellyana lebih berpendapat bahwa New Normal seperti buah simalakama—tetapi bagaimana pun hal harus diterima sebagai konsekuensi logis dari kehidupan yang kurang lebih tiga bulan stagnan karena pendemi covid-19, yang seketika jantung perekonomian berhenti berdenyut. Rudi Hartono, begitu juga melihat bahwa pendemi ini telah membawa dampak yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat, terutama disektor gerak perekonomian. Dengan melihat kondisi demikian, maka sepertinya tidak ada pilihan new normal (tatanan baru) harus diterima, tentu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Disisi yang lain Erwandi yang juga selaku anggota DPRD Propinsi Bangka Belitung, memandang bahwa New Normal adalah kebijakan pemerintah sebagai tawaran solusi terhadap situasi yang berdampak pada lumpuhnya jargon-jargon ekonomi. Tetapi mau atau tidak new normal harus diterima, dengan selalu memperhatikan protokol kesehatan, bukan hanya pada saat pendemi itu ada—tetapi new normal adalah tahapan untuk membangun kesadaran baru masyarakat baik itu dibidang ekonomi, sosial, terlebih dalam kehidupan beragama. Sebab menurutnya, new normal ini secara perlahan-lahan semua sektor publik akan dibuka, termasuk rumah ibadah.

Sementara Beliadi yang dikenal kritis, lebih melihat new normal adalah solusi alternative yang dipilih pemerintah untuk menghidupkan kembali perekonomian masyarakat. Dan selain itu Beliadi menyoroti tentang biaya rapid test yang biaya begitu mahal dan beragam. Sehingga beliau berharap anggota DPRD kabupaten bisa berkomunikasi dengan pihak rumah sakit dan dinas terkait terkait biaya rapid test tersebut. Karena itu posisi anggota dewan adalah sebagai pengontrol pelaksanaan regulasi yang ada. Dengan harapan ditengah pendemi ini agar kiranya regulasi itu tidak memberatkan masyarakat.

Perbincangan itu begitu hangat, dan solutif ketika isu ketahanan pangan diangkat dipermukaan. Hal ini disampaikan perwakilan dari FCC Ismoyo, yang mengatakan bahwa 95 persen stok pangan kita berasal dari Jawa. Itu artinya Belitung tidak memiliki ketahanan pangan. Dari Melayu Rantau menyoal tentang biaya rapid test, dari FKUB menyoroti tentang masyarakat kita yang masih ngeyel dan berkecendrungan melabrak protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. dari pihak KPPI sebagai perwakilan gender—meminta kepada naggota dewan agar diskusi seperti dilakukan dibeberapa tempat untuk mendengarkan suara publik. Begitu pula saran dan pikiran dari dua anggota DPRD Belitung yang sempat hadir Mirza Dallyodi dan H. Amiruddin Supran juga memberikan masukan, dengan harapan kalau bisa hasil diskusi ini diteruskan kepada pemerintah dan DPRD Propinsi maupun Kabupaten.

Dan diskusi pada akhirnya ditutup oleh moderator saifuddin al mughniy, dengan kalimat indah new normal—ibarat kita dalam rumah dipagi hari tentu buka pintu dan jendela tidak akan mungkin bersamaan dan dalam waktu yang sama pula. Artinya new normal butuh tahapan dalam melaksanaknnya. Dan dilanjutkan dengan foto bersama.*Release CAI