MANGGAR: Menjelang 17 Ramadan, khutbah Jumat yang disampaikan di Masjid Ahmad Dahlan Manggar pada Jumat (6/3/2026) mengajak umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.
Khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Eko Cahyo itu menegaskan bahwa takwa bukan hanya sebatas menjalankan ibadah ritual, tetapi juga kesadaran bahwa hidup merupakan amanah dari Allah dan setiap peristiwa sejarah mengandung pelajaran penting bagi umat manusia.
Menurut khatib, bulan Ramadan tidak hanya identik dengan ibadah puasa, qiyamul lail, serta membaca Al-Qur’an. Lebih dari itu, Ramadan juga merupakan bulan yang sarat dengan sejarah perjuangan umat Islam.
Salah satu peristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadan adalah Perang Badar yang berlangsung pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah. Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan dakwah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad.
Perang Badar dan Izin Membela Diri
Dalam khutbah dijelaskan bahwa Perang Badar bukanlah perang ekspansi ataupun agresi. Peristiwa itu terjadi setelah kaum Muslimin mengalami penindasan panjang di Makkah sebelum akhirnya berhijrah ke Madinah.
Izin untuk berperang diberikan sebagai bentuk pembelaan diri terhadap kezaliman, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Hajj ayat 39 yang menyatakan bahwa orang-orang yang diperangi diizinkan melawan karena mereka telah dizalimi.
Hari terjadinya pertempuran tersebut juga dikenal dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Anfal sebagai Yaum al-Furqan, yaitu hari pembeda antara kebenaran dan kebatilan.
Sekolah Kepemimpinan dan Strategi
Khutbah tersebut juga menekankan bahwa Perang Badar bukan sekadar kisah peperangan, tetapi juga menjadi “sekolah kepemimpinan”. Pada saat itu, pasukan Muslim hanya berjumlah sekitar 313 orang dengan kondisi ekonomi yang terbatas.
Namun dengan keimanan yang kuat, kepemimpinan yang bijak, serta barisan yang tertata rapi, mereka mampu menghadapi tantangan besar. Dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah Ali ‘Imran ayat 123, disebutkan bahwa Allah memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin di Badar ketika mereka berada dalam keadaan lemah.
Selain iman, kemenangan juga didukung oleh strategi yang matang. Rasulullah mengutus beberapa sahabat untuk mengumpulkan informasi serta memetakan kekuatan lawan sebelum mengambil keputusan dalam pertempuran.
Pentingnya Musyawarah
Nilai penting lainnya dari peristiwa Badar adalah budaya musyawarah. Dalam menentukan lokasi perkemahan, sahabat Al‑Hubab bin al‑Mundzir mengusulkan strategi mendekati sumber air serta menutup sumur-sumur lain agar kaum Muslimin memiliki keunggulan logistik.
Usulan tersebut diterima oleh Nabi Muhammad, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik tidak bersifat otoriter tetapi terbuka terhadap saran yang lebih maslahat.
Peristiwa ini sekaligus menunjukkan kerendahan hati seorang pemimpin serta keberanian para sahabat untuk menyampaikan pendapat dengan adab dan argumentasi yang baik.
Relevansi bagi Kehidupan Saat Ini
Di akhir khutbah, jamaah diingatkan bahwa nilai-nilai dari Perang Badar masih sangat relevan bagi kehidupan umat Islam saat ini. Ramadan harus menjadi momentum pembinaan diri melalui disiplin, kesabaran, dan pengendalian hawa nafsu.
Puasa melatih pengendalian diri, salat berjamaah melatih keteraturan dan persatuan, sementara musyawarah memperkuat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Jika puasa membuat kita lebih sabar, Al-Qur’an membuat kita lebih jernih berpikir, dan musyawarah membuat kita lebih bersatu, maka kita telah mengambil pelajaran dari Badar,” pesan khatib kepada jamaah.
Khutbah kemudian ditutup dengan doa agar umat Islam diberi kekuatan untuk istiqamah serta mampu meraih kemenangan sejati berupa ketakwaan dan akhlak yang mulia..*)
*)Khotib Jumat, yang disampaikan Ustadz Eko Cahyo (Sekretaris Umum FKUB Kabupaten Beltim) di Masjid Ahmad Dahlan Kecamatan Manggar, pada Jumat 6 Maret 2026













