Shuling ke-43 di Masjid Nurul Hikmah : Dari Sujud Subuh, Menebar Silaturahmi dan Kepedulian
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 1 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADAU — Ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam dinginnya dini hari, langkah kaki warga mulai berdatangan menuju Masjid Nurul Hikmah, Air Batu Buding. Ahad, 23 Agustus 2023, masjid tersebut kembali menjadi titik temu jamaah dalam Gerakan Subuh Berjamaah (Shuling) ke-43.
Suasana khidmat terasa sejak azan Subuh dikumandangkan oleh Hafiz, santri TPA Nurul Hikmah. Setelah itu, jamaah menunaikan salat Subuh berjamaah yang dipimpin Ustaz H. Fandil.
Nuansa religius semakin terasa ketika dua santri TPA Nurul Hikmah, Ganil dan Jihan, membacakan kalam Ilahi. Dari suara anak-anak yang masih belia itu, syiar Islam terasa begitu dekat sekaligus memberi harapan tentang tumbuhnya generasi muda yang mencintai masjid.

Kegiatan kemudian diisi dengan sejumlah sambutan. Pemerintah Desa Air Batu Buding yang diwakili Sekretaris Desa, Indiriansyah Saputra atau yang akrab disapa Bang Iin, menyampaikan apresiasi atas konsistensi Shuling dalam menguatkan syiar Islam. Ia juga mengingatkan jamaah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran di musim kemarau, termasuk berhati-hati dalam menggunakan api serta memahami konsekuensi hukum terkait kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Dukungan serupa disampaikan perwakilan Camat Badau, Arpandi atau Bang Repek. Menurutnya, Shuling bukan sekadar aktivitas ibadah, tetapi juga ruang mempererat silaturahmi, menjaga kebugaran dengan membiasakan bangun sebelum Subuh, sekaligus memperkuat pembangunan spiritual masyarakat di Kecamatan Badau.
Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rusdianto, S.I.Kom atau yang akrab disapa Pangak, mengajak jamaah ikut mengawal jalannya pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa Komisi I memiliki tugas yang berkaitan dengan pemerintahan dan mendorong masyarakat untuk bersama-sama mengambil bagian dalam mengawasi roda pemerintahan daerah.
Pesan yang tak kalah penting datang dari Syamsuri Ma’aruf, anggota Humas Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Belitung. Dalam tausiahnya, ia menekankan pentingnya pengelolaan program masjid secara baik dan terencana, termasuk dalam penyusunan jadwal khotbah Jumat maupun berbagai kegiatan keumatan lainnya.
Dari Masjid, Kepedulian Mengalir
Shuling ke-43 tidak berhenti pada ibadah dan silaturahmi. Di sela kegiatan, semangat berbagi juga hadir dalam bentuk kepedulian nyata.
Sebanyak tiga tas sekolah, tiga paket buku tulis, tiga kotak pulpen, tiga pasang kaos kaki, serta tiga cup Pop Mie diberikan kepada muazin, qari, dan saritilawah. Bantuan tersebut diserahkan Arpandi dan Sahminan, didampingi Rusdianto. Seluruhnya bersumber dari infak jamaah Shuling sebelumnya.
Kepedulian juga datang dari Yayasan Infaq Jariyah Belitung melalui pemberian paket kebahagiaan bagi kaum duafa dan fisabilillah. Paket tersebut diserahkan Sekretaris Desa Air Batu Buding kepada pengurus DKM Nurul Hikmah, Sahminan.
Yang membuat kegiatan ini semakin bermakna, separuh infak jamaah Shuling ke-43 disalurkan kepada Lazismu Daerah Belitung untuk membantu korban gempa di NTT. Dari masjid di Air Batu Buding, kepedulian pun bergerak melampaui batas daerah.
Hangatnya Silaturahmi Selepas Subuh
Kegiatan Shuling juga dihadiri berbagai unsur masyarakat dan penggiat dakwah. Di antaranya penggiat dakwah dari Kecamatan Sijuk sekaligus Koordinator Shuling Kecamatan Sijuk Ustaz H. Pipit Candra, pengurus IPHI dan DMI Kecamatan Sijuk beserta rombongan, serta penggiat dakwah Kecamatan Tanjungpandan Ustaz Agus.
Hadir pula Majelis Taklim Nurul Hikmah, Ketua DKM Al Mukarromah H. Syarfi, Ketua DKM Nurul Jannah Air Begantung Gunung Tajam Ustaz Sutirta, serta para ketua RT dan RW se-Desa Air Batu Buding.
Setelah rangkaian kegiatan ditutup dengan doa dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang kembali dipimpin Ustaz H. Fandil, jamaah tidak langsung beranjak. Panitia telah menyiapkan kudapan, sarapan, minuman, serta minuman favorit peserta Shuling: susu jahe.
Di situlah kehangatan Shuling terasa semakin lengkap. Ada ibadah, ada ilmu, ada silaturahmi, dan ada kepedulian yang dibawa pulang.

Gerakan Subuh Berjamaah ke-43 di Masjid Nurul Hikmah menjadi pengingat bahwa sebuah gerakan kebaikan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Cukup dengan membangunkan diri sebelum matahari terbit, melangkahkan kaki menuju masjid, lalu menyisihkan sedikit rezeki untuk sesama.
Dari saf-saf Subuh yang sederhana, lahir persaudaraan. Dari infak jamaah, mengalir bantuan. Dan dari sebuah masjid di Air Batu Buding, semangat berbagi terus dinyalakan.
Panitia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Semoga setiap langkah, infak, doa, dan kepedulian yang diberikan menjadi amal jariyah serta mendapat rida Allah SWT.
Syukron, jazakumullahu khairan katsiran.
- person
- visibility 19
- forum 0