Silaturahmi Alumni Haji Belitung Angkatan 2017: Rawat Kemabruran dan Persaudaraan Sepanjang Hayat
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 1 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNGPANDAN — Koper memang sudah lama dibongkar. Oleh-oleh dari Tanah Suci mungkin juga sudah habis dibagikan kepada keluarga dan kerabat. Namun, ada satu kenangan yang tak pernah mereka biarkan ikut tersimpan di dalam koper: persaudaraan dan semangat menjadi manusia yang lebih baik setelah pulang dari Tanah Suci.
Itulah yang terus dirawat para alumni haji Kabupaten Belitung angkatan 2017.
Bertahun-tahun setelah menunaikan rukun Islam kelima, mereka masih rutin bertemu. Bukan sekadar untuk bernostalgia tentang perjalanan ke Tanah Suci, tetapi untuk menjaga silaturahmi, memperkuat kepedulian dan saling mengingatkan tentang arti kemabruran haji.
Tradisi itu diwujudkan melalui pertemuan dan arisan keluarga yang digelar setiap bulan, dari rumah ke rumah.
Terbaru, Pertemuan Bulanan Kelompok Haji Belitung Tahun 2017 berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai, di Dapoer Triple Q, Jalan Anwar, Tanjungpandan.
Lebih dari 30 orang pak haji dan ibu hajjah hadir dalam pertemuan tersebut. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai pertemuan yang menjadi salah satu cara mereka mempertahankan ikatan persaudaraan setelah bertahun-tahun pulang dari Tanah Suci.
Kelompok arisan haji angkatan 2017 tersebut diketuai H. Rusdin, S.I.Kom. Namun, arisan hanyalah salah satu bagian dari kegiatan mereka. Setiap pertemuan juga diisi dengan tausiah keagamaan, pengajian dan kegiatan bakti sosial.
Haji Bukan Garis Akhir
Bagi para alumni haji 2017, perjalanan spiritual tidak berakhir ketika pesawat yang membawa mereka dari Arab Saudi mendarat di tanah air.
Justru di sanalah tantangan berikutnya dimulai.
Nilai-nilai yang diperoleh selama menjalankan ibadah di Tanah Suci harus dibawa pulang dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemabruran, bagi mereka, bukan sekadar predikat. Ia harus terlihat melalui perubahan perilaku, meningkatnya ibadah, kepedulian terhadap sesama dan kesediaan untuk terus berbuat baik.
Karena itu, pertemuan bulanan menjadi ruang untuk saling mengingatkan. Dari satu rumah ke rumah lainnya, para anggota menjaga hubungan yang telah terjalin sejak perjalanan haji. Mereka berbagi cerita, mendengarkan tausiah, berdoa bersama dan membicarakan berbagai kegiatan sosial yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan keberadaan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) sebagai wadah untuk mempererat persaudaraan sekaligus mendorong para alumni haji agar terus mengamalkan nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan bermasyarakat.
IPHI: Dari Pengajian hingga Pengurusan Jenazah
Dalam pertemuan tersebut, hadir Ketua PD IPHI Kabupaten Belitung H. MZ. Hendra Caya bersama Wakil Ketua H. Asmaie Akhmad.
Keduanya menyampaikan informasi mengenai organisasi IPHI serta berbagai kegiatan keagamaan dan sosial yang dapat diikuti para anggota.
H. MZ. Hendra Caya menjelaskan, kegiatan IPHI mencakup berbagai aktivitas yang bertujuan memperkuat syiar Islam dan kepedulian sosial. Mulai dari ceramah agama dengan menghadirkan ustaz lokal maupun dari luar daerah, pengajian bulanan dan arisan, hingga kegiatan sosial berupa pemberian santunan dan khitanan massal.
Selain itu, terdapat pula kegiatan fardu kifayah dan pengurusan jenazah.
Beragam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat silaturahmi sesama anggota IPHI dan masyarakat sekaligus menjaga semangat “Haji Mabrur Sepanjang Hayat.”
Arisan yang Menjadi Perekat Persaudaraan
Sekilas, kegiatan mereka mungkin terlihat seperti arisan biasa. Namun, bagi para alumni haji 2017, pertemuan itu jauh lebih berarti.
Ada wajah-wajah yang pernah bersama-sama menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci. Ada cerita perjalanan yang tak mungkin dilupakan. Ada doa yang pernah dipanjatkan bersama.
Dan ada persaudaraan yang hingga kini masih ingin mereka pertahankan. Di tengah kesibukan masing-masing, mereka memilih untuk tetap menyediakan waktu bertemu.
Sebab, persaudaraan yang lahir dari perjalanan spiritual tidak ingin dibiarkan memudar hanya karena jarak dan waktu. Pertemuan dari rumah ke rumah menjadi cara sederhana untuk terus menjaga ikatan tersebut. Lebih dari sekadar arisan, mereka menjadikannya sebagai ruang untuk belajar, berbagi, peduli dan saling menguatkan. Dan mungkin di situlah makna kemabruran menemukan bentuknya.
Bukan hanya ketika seseorang berdiri di Tanah Suci, tetapi ketika ia kembali ke rumah, kembali ke masyarakat, lalu memilih untuk tetap berbuat baik. Sebab haji bukan tentang seberapa jauh seseorang pernah pergi, tetapi tentang seberapa besar kebaikan yang ia bawa pulang.
Bagi alumni haji 2017 Kabupaten Belitung, perjalanan itu masih terus berlangsung—dalam setiap silaturahmi, setiap doa, setiap kepedulian, dan setiap manfaat yang diberikan kepada sesama. Haji Mabrur Sepanjang Hayat.*
- person
- visibility 87
- forum 0