Berdasarkan ilmu psikologi, manusia sejak lahir telah membawa sifat pada dirinya. Ada sifat yang bisa berubah dan ada pula sifat yang sulit dirubah.
Sifat yang bisa berubah dalam ilmu psikologi disebut ‘Perilaku’ dan yang sulit dirubah disebut ‘Karakter’.
Perilaku manusia bisa dirubah disebabkan karena lingkungannya. Misalnya, lingkungan dimana orang tersebut tinggal dan berinteraksi.
Sedangkan ‘Karakter’ adalah sifat seorang yang merupakan sifat bawaan dari orang tuanya.
Mengingat dalam pergaulan hidup sehari-hari di masyarakat, manusia perlu toleransi pada sesamanya. Agar dapat hidup berdampingan, harmonis dan damai. Maka di situ, sering kali diperlukan perubahan sifat diri manusia.
Orang tidak bisa mengatakan, yang tidak sesuai dengan pikirannya adalah salah. Dan pikiran dia adalah pikiran yang mutlak benar.
Kong Hu Cu, filsuf besar Tiongkok mengajarkan, dalam hidup ini, ada dua kutub yang menguasai manusia dalam berpikir dan bertingkah laku. Yakni, “ekstrim kiri” dan “ekstrim kanan”.
Bila seorang sudah berpikir dan berbuat pada kedua ekstrim tersebut. Berarti orang itu sudah menjadi ‘ekstrim kiri’ atau ‘ekstrim kanan’.
Dengan demikian, dia sudah berpikir secara ekstrim, lalu ia akan menjadi eksklusif dan dogmatis.
Maka perilaku dan bicaranya menjadi kaku dan tidak alamiah lagi.
Ia akan menolak keras sesuatu yang tidak sejalan dengan pikirannya. Ia akan melihat sesuatu di atas bumi ini, secara ekstrim, tanpa kompromi.
Sejarah membuktikan, bahwa orang yang berkelakuan ekstrim, akan mengalami kegagalan dalam kehidupannya dan ia tidak bisa diterima banyak orang.
Lalu, Kong Hu Cu mengajarkan. Tempuhlah “Jalan Tengah”. Karena ia tidak masuk ekstrim kiri dan juga tidak masuk ekstrim kanan. Ia merupakan jalan tengah yang moderat, arif dan bijak dalam menapaki hidup ini.
Jakarta, 19 Mei 2020
Kurnianto Purnama, SH,MH.













