BELITUNG – Dalam semangat mengenang perjuangan dan menjaga ruh integrasi kebangsaan, Komunitas Diskusi 17 Belitong menggelar diskusi istimewa bertajuk “78 Tahun Moektamar Rakjat Indonesia Pulau Belitong”, yang dilaksanakan pada Minggu, 15 Juni 2025, bertempat di Resto Mak Ute, Jalan Raya Batu Itam, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung.
Diskusi ini menghadirkan tokoh nasional Ir. H. Darmansyah Husein, anggota DPD RI Komite Prasarana dan SDA, sebagai narasumber utama. Turut hadir sejumlah tokoh penting Belitong, di antaranya Ketua Komunitas Diskusi 17 Belitong Rizali Abusama, serta tokoh-tokoh senior seperti Ir. H. Suryadi Saman, MSc, Ir. H. Nazalius, MSc, Oktaris Candra, ST, H. Soehadi Hasan, Abu Bakar Idrus, SE, Drs. Ruspandi, Suryanto Sudibyo, dan H. Hasimi Usman (Sekretaris).
Mengenang Moektamar 1947: Ikrar Pro NKRI dari Simpang Tige
Diskusi ini berakar pada peristiwa bersejarah Moektamar Rakjat Indonesia yang berlangsung pada 13 Juli 1947 di Kampong Simpang Tige, pusat Pulau Belitong.
Dalam tekanan propaganda Belanda yang berupaya membentuk negara boneka BABERI (Bangka Belitung Riau), para pejuang Belitong justru menyatakan dengan lantang bahwa mereka pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di bawah pimpinan dr. Marsidi Jeodono, mereka mengusung semangat “Satoe Poulaoe, Satoe Belitong”.
Kini, setelah 78 tahun berlalu, Komunitas Diskusi 17 Belitong mengangkat kembali “batang terendam” sejarah ini untuk membangkitkan kesadaran generasi muda akan pentingnya integrasi, ditengah tantangan globalisasi, informasi bebas, dan digitalisasi.
Hasil Diskusi: Dari Tugu Integrasi hingga Isu Jetfoil dan Jakarta
Dalam diskusi, Ir. H. Darmansyah Husein menyatakan dukungan penuh terhadap rencana peringatan 78 tahun Moektamar pada 13 Juli 2025 mendatang.
Ia juga mendukung rencana pembangunan Tugu Integrasi, simbol ikrar kebangsaan rakyat Belitong. Drs. Ruspandi, Burhanudin Simin, Antonius Uston, serta Sekda Belitung Timur ditunjuk untuk menyiapkan desain visual monumen tersebut.
Dalam situasi diskusi ini, Beberapa poin penting yang mengemuka dalam diskusi diantaranya,:
— Pendangkalan Alur Kapal Jetfoil: Perlu segera diusulkan ke Komisi DPD RI dan bahkan diajukan ke pusat jika tidak ada respons dari provinsi.
— Pemeliharaan Monumen Ikrar Tanjung Kelayang: Harus diperjelas dari segi anggaran dan kelanjutan fungsi sejarahnya.
— Visi Pulau Satu, Belitong Satu: Harus tetap menjadi dasar perjuangan dalam membangun daerah, memperjuangkan keadilan fiskal dan infrastruktur.
— Seruan Kritis: “Kita jangan seperti anak kecil, dikasih permen lalu diam,” tegas Suryanto Sudibyo, menyindir sikap pasif dalam menghadapi kebijakan pusat dan provinsi.
— Opsi lainnya : Bila perlu, Belitong harus “hijrah ke DKI Jakarta”, apabila Provinsi Babel dianggap tidak berpihak pada kepentingan Pulau Belitong, ujar H. Soehadi Hasan.
Penutup: Dari Sejarah ke Aksi Nyata
Ketua Komunitas, Rizali Abusama, menekankan bahwa mengenang Moektamar bukan sekadar nostalgia, tetapi refleksi sejarah dan titik tolak untuk aksi nyata.
Ia mengajak semua pihak, khususnya generasi muda, untuk kembali menyadari bahwa Belitong memiliki harga diri dan sejarah perjuangan yang luar biasa, yang harus dijaga dan dijadikan spirit membangun masa depan yang lebih baik.*












