TANJUNGPANDAN: Komunitas Diskusi 17 Belitong (KD-17) kembali menggelar forum diskusi pada Sabtu (27/9/2025) pukul 09.00 WIB di Cafe ACA, Jalan Sijuk Air Merbau, Tanjungpandan. Dengan mengangkat tema “Budaya Begado”, acara ini dihadiri berbagai tokoh masyarakat, pejabat daerah, aktivis, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan.
Ketua KD-17, Rizali Abusama, menjelaskan bahwa diskusi kali ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya.
Rizali Abusama ungkapkan bahwa diskusi ini diambil tema Budaya Begado dalam bahasa Belitong berarti segera, peduli, atau perhatian. Makna ini penting untuk menekankan sikap tanggap terhadap persoalan masyarakat, baik dalam aspek pengamanan maupun ekonomi.
Sementara itu, Dalam sambutannya, Kapolres Belitung AKBP Sarwo Edi Wibowo menegaskan bahwa situasi di Kabupaten Belitung dalam keadaan aman dan kondusif. Ia mengajak secara bersama-sama menjaga suasana kondusif agar masyarakat merasakan rasa aman dan damai.
Sekda Belitung, Marzuki, SIP, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya diskusi yang diadakan KD-17 dapat bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Belitung serta menjadi wadah masukan konstruktif bagi pembangunan daerah.
Sedangkan Mantan Bupati Belitung Sahani Saleh menyambut baik, dan siap memberikan masukan bagi daerah lewat kegiatan, yang digelar dalam diskusi 17 Belitong ini.
Beragam masukan strategis terkait pembangunan dan arah kebijakan di Pulau Belitong, dalam diskusi ini. Salah satu sorotan utama adalah kebutuhan pembangunan smelter di Pulau Belitung. Kehadiran smelter dinilai dapat meningkatkan nilai tambah komoditas tambang, membuka peluang kerja baru, serta menggerakkan perekonomian lokal.
Selain itu, peserta diskusi menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja yang sejalan dengan kondisi demografi. Setiap tahun, sekitar 5.000 angkatan kerja baru muncul di Belitung. Tanpa terobosan, angka ini berpotensi menimbulkan persoalan pengangguran. Pemanfaatan lahan-lahan tidur yang belum produktif pun diusulkan untuk diberdayakan, termasuk melalui kolaborasi dengan PT Timah dan Pemerintah Kabupaten Belitung agar lahan produktif bisa diakses masyarakat.
Masukan lain yang muncul adalah evaluasi tata ruang wilayah. Hal ini terkait dengan tumpang tindih antara kebun rakyat dan kawasan tertentu yang sering menimbulkan konflik. Para peserta juga menilai perlunya kemandirian pangan, agar Belitung tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Persoalan bank tanah turut dibahas. Peserta meminta agar pemerintah mempertimbangkan kembali pengelolaan bank tanah dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat lokal. Selain itu, Pemkab Belitung juga didorong untuk ikut menjaga stabilitas harga bahan pokok melalui kerja sama dengan Bulog, sebagai langkah menekan laju inflasi di daerah.
Adapun dalam Kegiatan diskusi ini dihadiri Kapolres Belitung AKBP Sarwo Edi Wibowo, Sekda Belitung Marzuki, SIP, anggota DPRD Babel Taufik Mardin, serta Staf DPD RI Noviarto yang mewakili anggota DPD RI Ir. H. Darmansyah Husein. Turut hadir pula perwakilan PT Timah di Belitung, perwakilan Kejaksaan Negeri Belitung, mantan Bupati Belitung Sahani Saleh, Kepala Kesbangpol Belitung Robert Horizon, Ketua KD-17 Rizali Abusama, Sekretaris KD-17 Haji Hasyimi Usman, serta jajaran dewan pembina dan penasehat Diskusi 17.
Tidak hanya itu, acara ini juga melibatkan generasi muda, yakni mahasiswa dan pelajar, yang hadir sebagai undangan. Kehadiran mereka menjadi penegasan bahwa Diskusi 17 terbuka bagi semua kalangan untuk menyampaikan aspirasi dan gagasan demi kemajuan daerah.
Sebagai penutup, acara berlangsung penuh kekeluargaan dengan tradisi makan bedulang, salah satu adat khas Belitung yang sarat makna kebersamaan.*.












