MEMBALONG – Penulis sekaligus penyusun buku budaya, Ardi Yusuf, menggelar diskusi penyempurnaan akhir naskah buku budayanya di Ruang Perpustakaan Daerah dan Kearsipan Daerah Kabupaten Belitung, Rabu (4/2/2026).
Diskusi ini dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Belitung Hendri Suzanto, Ketua Lembaga Adat Melayu Belitung Achmad Hamzah, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Fitrorozi dan Carolina, pustakawan Dewi Astuti dan Sri Umiati, serta sejumlah pegiat seni dan penggerak budaya. Forum tersebut menjadi ruang dialog terbuka untuk memperdalam substansi naskah agar semakin kuat, akurat, dan autentik sebelum diterbitkan.
Ardi Yusuf menjelaskan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari diskusi penyempurnaan buku dalam agenda Ngelakarkan Kampong yang sebelumnya digelar di Ruang Serbaguna Kantor Desa Simpang Rusa, Kecamatan Membalong, pada 17 Januari 2026 lalu. Diskusi lanjutan ini menitikberatkan pada penajaman materi berdasarkan masukan tokoh adat dan pelaku budaya.
“Diskusi hari ini menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan naskah sebelum diterbitkan. Saya mengucapkan terima kasih atas fasilitasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah serta dukungan Lembaga Adat Melayu Belitung,” ujar Ardi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Darmansyah Husein yang sejak awal konsisten mendukung proses penulisan buku tersebut.
Salah satu peserta diskusi, Wandasona Alhamd, yang merupakan Ketua Dewan Kesenian Bangka sekaligus seniman dan penggerak budaya, menilai kegiatan ini sangat inspiratif. Menurutnya, literasi budaya menjadi fondasi penting dalam proses penciptaan karya seni.
“Bahan-bahan yang disampaikan Pak Ardi sangat memberi referensi bagi kami, baik dalam menciptakan lagu, musik, maupun karya seni lainnya. Buku ini bisa menjadi sumber ide yang luar biasa,” ungkapnya. Ia berharap buku tersebut dapat segera dibukukan dan dicetak agar manfaatnya dirasakan lebih luas.
Adapun naskah buku yang disusun secara mandiri oleh Ardi Yusuf mengangkat adat istiadat dan kearifan lokal Belitung, mulai dari sejarah kampung, dialek Bahasa Belitong khususnya Bahasa Membalong, hingga dokumentasi visual berupa foto-foto klasik bernilai sejarah. Beragam topik menarik dibahas, seperti tradisi Be Ume dan Be Ladang, asal-usul Kampong Simpang Rusa, peran Dukun Kampong, serta kisah rakyat Tikus Ketuyu dan Burung Puyuh.
Melalui diskusi ini, para peserta aktif memberikan masukan terkait ketepatan historis, penggunaan istilah lokal, dan penguatan narasi agar buku tersebut benar-benar merepresentasikan identitas serta kekayaan budaya Belitong secara utuh dan berkelanjutan.*












