MEMBALONG: Safari Ramadhan MUI Belitung di Masjid Al-Ikhsan Simpang Rusa Kecamatan Membalong, pada 6 Maret 2026, berlangsung khidmat dengan digelarnya kultum bertema “Menjemput Berkah di Darat, Laut, dan Lubang Tambang.”
Kultum tersebut disampaikan oleh Drs. Huniyadi Bellia di hadapan jamaah yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, penambang, dan nelayan.
Dalam ceramahnya, Huniyadi Bellia mengajak masyarakat menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai momentum untuk memperkuat keimanan sekaligus meningkatkan keikhlasan dalam bekerja mencari nafkah.
Ia menyampaikan bahwa pekerjaan masyarakat di wilayah kecamatan Membalong yang banyak bergelut di sektor pertanian, pertambangan, dan perikanan memiliki nilai ibadah jika dilakukan dengan niat karena Allah.
Pesan untuk Petani
Huniyadi menuturkan bahwa setiap benih yang ditanam oleh petani memiliki nilai kebaikan di sisi Allah. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa tanaman yang dimakan oleh manusia, hewan, atau burung akan bernilai sedekah bagi penanamnya.
“Bagi para petani, Ramadhan adalah waktu memupuk batin. Saat berpuasa di bawah terik matahari sambil merawat tanaman, setiap tetes keringat tidak hanya jatuh ke tanah, tetapi juga dicatat sebagai pahala,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar puasa tidak dijadikan alasan untuk meninggalkan pekerjaan atau membiarkan lahan terbengkalai.
Pesan untuk Penambang
Kepada para penambang timah, Huniyadi mengajak agar menjadikan Ramadhan sebagai waktu untuk memurnikan niat dalam mencari rezeki. Ia mengibaratkan proses memisahkan bijih timah dari pasir seperti memurnikan rezeki yang diperoleh.
“Pastikan rezeki yang kita bawa pulang adalah rezeki yang halal, tidak merusak hak orang lain, dan tidak melupakan kewajiban seperti zakat,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa rasa haus dan lelah saat menambang di siang hari dapat menjadi penggugur dosa jika dilakukan dengan niat tulus untuk menafkahi keluarga.
Pesan untuk Nelayan
Bagi para nelayan, laut disebutnya sebagai bukti kebesaran Allah SWT. Ia mengajak para nelayan untuk memperkuat sikap tawakal saat melaut.
“Di tengah samudra, kita menyadari bahwa keselamatan hanya datang dari Allah. Sama seperti sabar menunggu jaring penuh ikan, di bulan puasa kita juga belajar sabar menunggu waktu berbuka,” ungkapnya.
Ia mengingatkan agar aktivitas melaut tidak menjadi alasan meninggalkan salat, bahkan sebaliknya, justru menjadi kesempatan memperbanyak doa.
Puasa Bukan Penghalang Bekerja
Dalam penutup kultumnya, Huniyadi menegaskan bahwa puasa bukanlah penghalang untuk bekerja. Justru Ramadhan menjadi penguat spiritual bagi masyarakat yang mencari nafkah di lapangan.
“Petani menjaga bumi, penambang mengambil titipan bumi, dan nelayan menjemput rezeki di laut. Apapun profesinya, jika dilakukan lillah karena Allah, maka akan membawa berkah bagi keluarga,” katanya.
Kultum ditutup dengan doa bersama untuk para petani, penambang, dan nelayan agar diberi keselamatan, kelancaran rezeki, serta keberkahan dalam setiap usaha yang dilakukan selama bulan Ramadhan.
Jamaah yang hadir tampak khusyuk mengikuti rangkaian kultum hingga selesai, menjadikan kegiatan tersebut sebagai pengingat bahwa bekerja dan beribadah dapat berjalan seiring dalam kehidupan sehari-hari.













