TANJUNGPANDAN – Tokoh masyarakat Belitong, Fadhil Jamali mendesak instansi terkait segera membentuk tim monitoring Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG 3 kilogram. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengawasi distribusi dan pasokan energi agar kelangkaan tidak kembali terjadi dan meresahkan masyarakat.
Hal itu disampaikan Fadhil Jamali, yang juga sekretaris Forum Kedukunan Adat Belitong se pulau Belitong kepada media, Jumat, 30/1/2026), menyusul kelangkaan BBM yang sempat terjadi di sejumlah titik di wilayah Belitung dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut, menurutnya, telah memicu keresahan di tengah masyarakat.
“Sudah saatnya instansi membentuk tim monitoring BBM. Tim ini harus bekerja maksimal, mengawasi arus distribusi dan ketersediaan BBM di lapangan. Kalau perlu libatkan media sebagai tim monitoring biar transparan,” ujarnya.
Fadhil mengingatkan agar persoalan kelangkaan BBM tidak terus berulang, terlebih menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, di mana kebutuhan masyarakat biasanya meningkat signifikan. Karena itu, ia menekankan pentingnya kecepatan dan kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam mengantisipasi persoalan energi.
“Jangan sampai kejadian ini terulang lagi, apalagi sebentar lagi puasa dan Lebaran. Pemerintah harus cepat dan sigap dalam menangani persoalan BBM,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perubahan sistem distribusi BBM di Belitung. Jika sebelumnya distribusi dilakukan melalui jobber terdekat, kini pasokan BBM dikelola langsung oleh Pertamina tersendiri milik pemerintah.
“Dulu janjinya, setelah jobber, akan dibangun depo sendiri dengan kapasitas penampungan lebih besar. Artinya, saat cuaca buruk atau ada kendala teknis yang mengganggu distribusi, stok BBM seharusnya bisa ditampung lebih dulu di depo. Jadi masyarakat tetap aman dan tidak terjadi kelangkaan,” jelasnya.
Selain BBM, Fadhil juga menyoroti persoalan distribusi LPG 3 kilogram di Pulau Belitung. Menurutnya, alokasi gas yang tersedia belum mencukupi kebutuhan masyarakat sehingga penyalurannya tidak merata.
Ia mengungkapkan, idealnya Pulau Belitung membutuhkan sekitar 60 ribu tabung LPG per hari agar kebutuhan masyarakat, termasuk pelaku UMKM, dapat terpenuhi dan kelangkaan tidak terjadi.
“Asumsi ini dihitung berdasarkan kebutuhan sebelum konversi minyak tanah ke gas. Dengan jumlah itu, seharusnya tidak ada kelangkaan. Kalau tercukupi stok 60 ribu perhari, tidak ada spekulan permainan harga,” ujarnya.
Fadhil berharap instansi tidak hanya bersikap reaktif saat terjadi kelangkaan, tetapi juga proaktif melalui perencanaan yang matang dan pengawasan ketat, demi menjamin ketersediaan BBM dan LPG yang stabil serta merata di seluruh wilayah pulau Belitong.*













