Home / Bangka Belitung / Antraksi Budaya di Klenteng THAI SONG LO KHIUN Layak Masuk Kalender Wisata
IMG_20220320_065820

Antraksi Budaya di Klenteng THAI SONG LO KHIUN Layak Masuk Kalender Wisata

Bagikan :

TANJUNGPANDAN: Rangkaian antraksi budaya, saat perayaan HUT (hari ulang tahun) Klenteng THAI SONG LO KHIUN digelar pada Kamis, 17 Maret 2022, yang dipusatkan di Klenteng SUHU ATO Jln. Prumnas Aik Baik Dalam – Belitung, Desa Aik Pelempang Kecamatan Tanjungpandan, sebetulnya layak dijadikan agenda event pariwisata, dalam setiap tahun.

Antraksi budaya yang dipertunjukan pada event peringatan tersebut ditonton banyak orang. Terlebih antraksi ini sulit ditemukan di wilayah indonesia. Kalaupun ada, itu di beberapa tempat seperti di kalimantan.

Ketua Klenteng THAI SONG LO KHIUN, Suhu Ato sebut sebelum corona, disaat event peringatan HUT (hari ulang tahun) Klenteng THAI SONG LO KHIUN ini dihadiri puluhan warga luar negeri di acara klenteng.
“Ada dari singapura cina, maalaysia, hadir ke Belitung,” katanya.

Belakangan dengan kondisi covid-19 sejak dua tahun lalu, wisatawan kata Suhu Ato, hanya menonton lewat You tube serta informasi lewat media sosial.
“Mereka ingin sekali ke Belitung berwisata dan sembari menyaksikam antraksi budaya tersebut,” katanya.

Untuk diketahui,
rangkaian peringatan di Klenteng THAI SONG LO KHIUN ini unik dan menarik. Disamping adanya ritual dan digelarnya antraksi budaya.
Seperti terpantau diacara peringatan yang dilaksanajan tanggal 17 Maret 2022, terlihat kegiatan ritual misalnya warga Thionghoa mulai berdatangan ke kelenteng tersebut, mulai dari anak-anak, dewasa. Mereka secara inisiatif  satu persatu warga mulai mengambil garu dan membakarnya. Disela-sela warga lakukan aktivitas sembayang, suhu ato mulai melakukan berbagai antraksi. Mulai tusuk besi di pipi, iris bagian tubuh dengan pedang, dan berbagai antraksi lainnya.
Memang saja, tontonan antraksi ini, ada yang panik, atau juga khawatir. Bahkan, ada yang sudah biasa menyaksikannya tanpa rasa takut. Dan bila tak biasa, mungkin akan memalingkan mukanya ke belakang.
Tentu saja, berbagai rangkaian peringatan klenteng ini berakhir pada malam hari atau tengah malam sesuai dengan tradisi yang dilakukan.

Ketua Klenteng Suhu Ato
Ungkapkan bahwa kegiatan ulang tahun ini merupakan upaya untuk mengangkat tradisi dan pelestarian budaya sebelumnya yang kerap dilakukan para leluhur terdahulu.

Melalui peringatan ini kata Suhu Ato, adalah tentunya sebagai bagian pengembangan wisata di pulau Belitung.*