Di Kabupaten Bangka, IKA MAP Institut Pahlawan 12 Sungailiat bersama Dispora Bangka Gelar Seminar Kepahlawanan HAS Hanandjoeddin

Dengan semakin banyaknya dukungan dari akademisi, pemerintah, veteran, hingga masyarakat, perjuangan menjadikan H. AS Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional kian menguat dan diharapkan segera terwujud

BANGKA – Upaya memperjuangkan Letkol PAS (Purn) H.AS Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional terus mendapat dukungan luas.

Anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Haril Andersen, yang hadir pada acara tersebut, menyambut baik pelaksanaan Seminar Kepahlawanan HAS Hanandjoeddin yang digelar Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Magister Administrasi Publik (MAP) Institut Pahlawan 12 Sungailiat bersama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bangka.

Seminar tersebut berlangsung di Ruang Pertemuan Parai Tenggiri, Kantor Bupati Bangka, Senin (15/12/2025), dan diikuti para guru sejarah se-Kabupaten Bangka serta perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD).

“Kami menyambut baik dan berterima kasih sebesar besarnya ke Pemkab Bangka khususnya Pak Bupati Fery Insani, Ketua DPRD Kab. Bangka serta para tokoh masyarakat dan kalangan pendidikan di Kabupaten Bangka, serta komponen masyarakat. Ini adalah perjuangan bersama untuk mendorong HAS Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional,” ujar Haril Andersen, yang juga dikenal sebagai penulis buku tentang perjuangan HAS Hanandjoeddin.

Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam kegiatan seminar tersebut, di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Bangka Jumadi, Direktur Program S2 Institut Pahlawan 12 Dr Yan Megawandi, serta Tim Pengkaji yang dibentuk Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk mengusulkan HAS Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional.

Adapun seminar Kepahlawanan ini menghadirkan narasumber utama Prof Dr Bambang Purwanto, Guru Besar Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), yang merupakan alumni SMA Setia Budi Sungailiat. Kehadiran akademisi nasional ini menambah bobot ilmiah seminar sekaligus memperkuat narasi sejarah perjuangan HAS Hanandjoeddin.

Adapun kegiatan seminar ini menjadi bentuk dukungan konkret untuk membantu tim pengusulan sekaligus memperluas pemahaman publik, khususnya kalangan pendidik, tentang jasa besar HAS Hanandjoeddin bagi bangsa dan negara.

Sementara itu, Budayawan Babel Ali Usman yang juga anggota Tim Pengkaji Pengusulan HAS Hanandjoeddin menjadi Pahlawan Nasional, mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Bangka Belitung telah membentuk tim khusus untuk kembali mengajukan usulan tersebut.

“Sejumlah kegiatan telah dan akan terus kami lakukan. Hari ini seminar bagi guru-guru sejarah di Bangka, besok dilanjutkan seminar di Universitas Bangka Belitung,” ungkapnya.

Ali menambahkan, tim juga telah mencetak buku sejarah perjuangan HAS Hanandjoeddin yang rencananya akan dibagikan ke sekolah-sekolah dan perpustakaan.

“Dari lebih 300 Pahlawan Nasional yang ada saat ini, kami berharap Bangka Belitung kembali melahirkan Pahlawan Nasional. Dari Pulau Bangka sudah ada Depati Amir, ke depan diharapkan juga dari Pulau Belitung,” katanya.

Dukungan kuat juga datang dari Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Marsekal Muda TNI AU (Purn) Tatang Kurniadi menyatakan dukungan penuh terhadap pengusulan HAS Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional.

“Kami sesama dari TNI Angkatan Udara. Bahkan Mabes TNI AU sejak lama telah menyetujui penggunaan nama HAS Hanandjoeddin sebagai nama bandara di Pulau Belitung,” ujar mantan anggota DPR RI tersebut.

Menurut Tatang, sosok HAS Hanandjoeddin sangat unik dan langka di tubuh TNI AU. Selain sebagai teknisi udara, Pak Hananjoeddin juga sebagai komandan pasukan Teknik yang bertempur melawan penjajah Belanda serta memiliki kemampuan teknisi handal dengan memperbaiki pesawat-pesawat peninggalan Jepang untuk digunakan di Sekolah Penerbangan Adi Sucipto, Yogyakarta.

“Jarang ada anggota TNI AU yang memiliki kemampuan seperti beliau,” katanya.

Ia pun menyayangkan pengusulan HAS Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional yang dinilainya terlambat.

“Seharusnya beliau sudah lama diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Kami di TNI AU sejak dulu menyadari kelayakan beliau,” pungkasnya.

Dengan semakin banyaknya dukungan dari akademisi, pemerintah, veteran, hingga masyarakat, perjuangan menjadikan H. AS Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional kian menguat dan diharapkan segera terwujud.*