Karhutla dan Keserakahan Manusia: Apa Kata Buddhisme?
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 5 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Indonesia kembali menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah musim kemarau, kebakaran terjadi di sejumlah wilayah dan menjadi perhatian pemerintah serta masyarakat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahkan masih menempatkan karhutla sebagai salah satu persoalan bencana yang perlu mendapat perhatian serius. Enam provinsi menjadi prioritas penanganan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Yang juga patut menjadi perhatian kita adalah bahwa persoalan ini bukan sesuatu yang jauh dari masyarakat Kepulauan Bangka Belitung. Pada 4 September 2026, BNPB melaporkan karhutla di Kabupaten Belitung Timur yang berdampak pada sekitar 17,81 hektare lahan.
Data tersebut semestinya tidak hanya kita baca sebagai angka. 17,81 hektare bukan sekadar angka. Di dalamnya ada tanah, tumbuhan, satwa, udara, dan kehidupan yang saling berkaitan.
Di sinilah perspektif agama, termasuk Buddhisme, menjadi penting.
Api di Hutan dan Api di Dalam Diri
Dalam Buddhisme terdapat ajaran mengenai tiga akar ketidakbaikan: lobha, dosa, dan moha—keserakahan, kebencian atau penolakan, serta ketidaktahuan.
Ketiganya bukan hanya konsep keagamaan yang dibicarakan di ruang vihara. Ketiganya dapat muncul dalam kehidupan sosial, termasuk dalam cara manusia memperlakukan alam.
Ketika hutan dibakar demi keuntungan sesaat, sementara dampaknya ditanggung oleh masyarakat luas, kita patut bertanya:
Apakah yang sebenarnya sedang membakar hutan—api di tanah atau api keserakahan di dalam diri manusia?
Pertanyaan ini penting.
Sebab api di hutan dapat dipadamkan dengan air.
Tetapi api keserakahan tidak akan padam hanya dengan air.
Ia membutuhkan kesadaran.
Selama manusia merasa bahwa kepentingannya sendiri lebih penting daripada kehidupan yang lain, selama alam hanya dipandang sebagai objek untuk dieksploitasi, maka persoalan akan terus berulang.
Alam Bukan Milik Kita Sepenuhnya
Buddhisme mengajarkan tentang paṭiccasamuppāda, kemunculan yang saling bergantungan.
Kehidupan tidak berdiri sendiri. Manusia membutuhkan air. Manusia membutuhkan udara. Manusia membutuhkan tanah. Manusia membutuhkan tumbuhan. Bahkan kehidupan manusia juga bergantung pada keberadaan berbagai makhluk yang sering kali tidak pernah kita sadari.
Karena itu, ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Yang terganggu adalah sebuah jaringan kehidupan.
Satwa kehilangan habitat.
Tanah kehilangan perlindungan.
Sumber air dapat terganggu.
Kualitas udara menurun.
Masyarakat menerima dampaknya.
Maka, menjaga hutan sebenarnya bukan hanya tindakan ekologis.
Menjaga hutan adalah menjaga kehidupan.
Karuṇā: Melihat Penderitaan di Balik Asap
Buddhisme mengajarkan karuṇā, yaitu welas asih.
Welas asih berarti kemampuan melihat penderitaan dan terdorong untuk menguranginya.
Ketika asap karhutla menyelimuti suatu wilayah, kita jangan hanya bertanya berapa hektare lahan yang terbakar.
Mari bertanya:
Berapa banyak manusia yang terganggu kesehatannya?
Berapa banyak keluarga yang kehilangan kenyamanan hidupnya?
Berapa banyak satwa yang kehilangan tempat tinggalnya?
Berapa banyak kehidupan yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari kobaran api?
Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita mulai melihat karhutla bukan semata-mata sebagai persoalan lingkungan, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan dan moral.
Mettā Harus Menjadi Tindakan
Buddhisme juga mengajarkan mettā, cinta kasih kepada semua makhluk.
Namun cinta kasih tidak boleh berhenti sebagai ucapan.
Kalau kita mengatakan mencintai kehidupan, maka cinta kasih itu harus terlihat dalam tindakan.
Tidak membakar lahan sembarangan adalah cinta kasih.
Menjaga hutan adalah cinta kasih.
Melindungi satwa adalah cinta kasih.
Mencegah kebakaran adalah cinta kasih.
Melaporkan kebakaran adalah cinta kasih.
Membantu masyarakat yang terdampak adalah cinta kasih.
Menanam kembali pohon adalah cinta kasih.
Dengan demikian, menjaga lingkungan dapat menjadi bagian dari praktik Dharma.
Jangan Salah Memahami Kamma
Dalam pembicaraan tentang bencana, terkadang muncul anggapan bahwa bencana adalah hukuman karma.
Pandangan seperti ini perlu kita sikapi dengan bijaksana.
Buddhisme tidak mengajarkan bahwa setiap bencana harus secara sederhana dianggap sebagai hukuman karma bagi orang yang mengalaminya.
Karhutla memiliki banyak sebab dan kondisi: cuaca, kekeringan, tata kelola lahan, aktivitas manusia, bahkan kemungkinan tindakan yang disengaja.
Namun ajaran kamma memberikan satu pengingat penting: Setiap tindakan yang dilakukan dengan kehendak memiliki konsekuensi. Karena itu, seseorang yang dengan sengaja merusak lingkungan dan membahayakan kehidupan orang lain tidak dapat melepaskan dirinya dari tanggung jawab moral atas tindakannya.
Inilah pentingnya pendidikan moral.
Kita membutuhkan masyarakat yang bukan hanya takut kepada hukum, tetapi memiliki kesadaran untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain meskipun tidak ada aparat yang melihat. Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendiri.Karhutla tidak mungkin diselesaikan hanya dengan pemadaman. Pemadaman memang penting. Penegakan hukum juga penting.
Tetapi pencegahan jauh lebih penting.
Pemerintah perlu memperkuat pengawasan, tata kelola lahan, edukasi masyarakat, kesiapsiagaan dan penegakan hukum.
Dunia usaha harus memastikan aktivitas ekonomi tidak mengorbankan lingkungan.
Masyarakat harus ikut menjaga wilayahnya.
Tokoh agama perlu membangun kesadaran moral umat.
Dan media memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik.
Dengan demikian, karhutla harus menjadi agenda bersama.
Bukan hanya urusan pemerintah. Bukan hanya urusan pemadam kebakaran. Bukan hanya urusan aktivis lingkungan. Tetapi urusan seluruh masyarakat.
Agama Harus Berbicara tentang Masa Depan
Di sinilah agama memiliki peran yang sangat penting.
Agama tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia menjalani kehidupan spiritual, tetapi juga bagaimana manusia bertanggung jawab terhadap kehidupan.
Buddhisme mengajarkan kebijaksanaan. Buddhisme mengajarkan cinta kasih. Buddhisme mengajarkan welas asih. Buddhisme mengajarkan pengendalian diri. Semua nilai tersebut sangat relevan dalam menghadapi krisis lingkungan. Kita membutuhkan kebijaksanaan agar tidak mengejar keuntungan sesaat.
Kita membutuhkan pengendalian diri agar tidak mengambil lebih dari yang kita perlukan.
Kita membutuhkan welas asih agar mampu melihat bahwa alam bukan benda mati yang bebas diperlakukan sesuka hati.
Jangan Wariskan Asap kepada Anak Cucu
Setiap generasi memiliki tanggung jawab kepada generasi setelahnya. Kita mungkin tidak merasakan seluruh dampak dari kerusakan lingkungan yang kita lakukan hari ini. Tetapi anak cucu kita mungkin akan merasakannya. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang kita dapatkan dari hutan hari ini?”
Tetapi:
“Apa yang masih dapat kita wariskan kepada generasi berikutnya?”
Jangan sampai anak cucu kita hanya mengenal hutan yang hijau dari foto. Jangan sampai mereka mengenal udara bersih sebagai sesuatu yang mahal. Jangan sampai mereka bertanya mengapa manusia pada zaman kita mengetahui bahaya kerusakan lingkungan, tetapi tetap memilih untuk mengabaikannya.
Memadamkan Api di Hutan, Memadamkan Api di Dalam Diri.
Karhutla mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat sederhana. Kita memang harus memadamkan api di hutan. Tetapi kita juga harus belajar memadamkan api di dalam diri manusia.
Api keserakahan. Api ketidakpedulian. Api egoisme. Api keinginan menguasai alam tanpa batas. Karena kalau api-api tersebut tidak dipadamkan, kebakaran akan selalu memiliki kemungkinan untuk berulang. Dari perspektif Buddhis, menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial. Ia adalah latihan kesadaran. Ketika kita menjaga hutan, kita menjaga kehidupan. Ketika kita menjaga air, kita menjaga kehidupan. Ketika kita menjaga udara, kita menjaga kehidupan.
Dan ketika kita mampu mengendalikan keserakahan dalam diri, kita sedang ikut menjaga masa depan kehidupan.
Pada akhirnya, bumi bukan milik satu kelompok, satu agama, satu generasi, atau satu kepentingan.
Bumi adalah rumah bersama. Karena itu, mari kita padamkan bukan hanya api yang membakar hutan, tetapi juga api keserakahan yang ada di dalam diri manusia. Dari keserakahan menuju kecukupan. Dari eksploitasi menuju keseimbangan. Dari ketidakpedulian menuju welas asih. Dari kesadaran menuju tindakan nyata. Menjaga alam adalah menjaga kehidupan. Dan menjaga kehidupan adalah bagian dari Dharma.
.*)Penulis adalah Romo Budi Dhammapañño/Tokoh Agama Buddha / Ketua Majelis Mahayana Indonesia Kabupaten Belitung
- person
- visibility 89
- forum 0