Home / Bangka Belitung / Laili, Pengelola Rumah Tahfidz Alaqso & Kisahkan “Pelukan Dalam Doa”
IMG_20210821_183814

Laili, Pengelola Rumah Tahfidz Alaqso & Kisahkan “Pelukan Dalam Doa”

Bagikan :

TANJUNGPANDAN: Semoga kisah ini menjadi pelajaran dan ikhtibar, ini kisah nyata, kisah saya dengan wanita yang menjadi “ibu” saya.

Yang masih memiliki orangtua, saudara, teman karib, jangan lupa biasakan memeluk mereka, pelukan fisik dan pelukan doa, adakalanya nanti yang akan tertinggal dan tersisa adalah “pelukan dalam doa”.
.
Setelah saya membaca buku Parenting Elly Risman, betapa energi pelukan bisa membuat anak-anak kita jadi leader, seperti Bagaimana Rasulullah mendidik Generasi terbaik yang berawal dari “pelukan”

TANGAN YANG SELALU AKU TEPIS.

Untuk anak seperti kami, ternyata keangkuhan ini akhirnya luruh, bertahun tahun saat emosi dan silang pendapat dengan orang tua, selalu saja ada kata dari lisan yang terkadang lepas dari relnya, ada saja Gesture tubuh menepis setiap tangan Hangat itu, saat badan mulai meninggi, umur semakin bertambah, kawan semakin banyak dan tentunya tekanan dari dalam dan luar. Ada kebiasaan yang Dulunya paling sangat aku Benci, sekarang menjadi Hal yang paling aku rindukan, aku “tidak lapar pelukan” justru berlebih dari wanita itu, aku mau kemanapun tetap harus salam, peluk dan cium, risih iya, malahan tangannya sering aku tepis, aku sombong karena aku merasa aku mampu dan sudah dewasa, betapa aku Tak sadar aku telah aniaya terhadap diri ini.
.
Sedari kecil,saudara, tetangga dan keluarga sudah Tahu, kami adalah 3 anak yang dipercayakan Allah diasuh dari wanita “bertanganbesi” ini, adik dari ibundaku, tukang pecal dan gado-gado ini, sering sekali marah marah namun tak lupa sering memberi pelukan, Wajib malahan untuk kami anak-anaknya, terlebih aku, anak bungsu yang paling “tragis dan berkesan” diasuh beliau.
.
Bayangkan, kita harus menjadi anak dari ibu yang bukan lahir dari rahimnya dan beliau jadi ibu tanpa pernah merasa sakit melahirkan. Tapi Allah adil sekali, tak meleset, kami ternyata didik dengan cinta yang tak kalah hebat, saat ini baru terasa makna dari setiap Kata yang terucap, tindakan yang dituntuntkan dan doa sepanjang masa dari setiap sujud beliau untuk kami, amanah tuhan yang Dipercayakan.
.
Kebiasaan beliau ini adalah “memeluk” hal yang aku benci saat aku sudah beranjak memakai baju putih biru, kebiasaan menciumku ditengah orang ramai, malu iyalaah, tapi mau gimana lagi, aku terkadang menerima aja, bagaimanapun Saat beliau harus aku akui, ada energi tambahan didiri mengurangi setiap masa.


.
Selain pelukan Fisik, aku juga selalu dipeluk dengan buku rohani, sedari kecil, harus baca buku, hadiah pun selalu buku, yang semula tak hobi baca sekarang jadi kebiasaan. Sekarang Allah Peluk beliau dalam Tempat terbaik, madinah. Wajar dan memang Allah Tahu Betapa penyayangnya hamba itu. RABB, TITIP RINDU UNTUK Busuku. Salam cinta.
Semoga bermanfaat.

Dan kisah ini diungkapkan Laili Hayat yang menjadi pengelola Rumah tahfidz Alaqso. Lewat tangan Laili, kini Rumah Tahfidz Alagso lakukan aktivitas ajarkan kegiatan pengajian kepada para santri, yang beralamat di Jalan A. Yani Tanjungpandan (Samping TK Bina Warga).

Saat ini Rumah Tahfidz Alagso tengah dirampungkan untuk kepentingan syiar dakwah. Pembangunan ini tengah digarap, hingga pemenuhan fasilitas pengajian untuk para santri.

Bagi yang berminat untuk membantu pembangunannya,
Jazakumullah khairan
Infaq donasi operational 3720011515 bank muamalat a.n Rumah tahfidz Alaqso dan untuk pembangunan  3720011270 yayasan Alaqso Indonesia Madani. Kode (147). Informasi (081929661649) laili hayat,  sufriantini (087896192238) dan galih (087896488988)