SIJUK: Semilir angin yang menyapu pepohonan, gemericik air yang menenangkan, serta tawa hangat yang bersahutan menjadi latar alami bagi sebuah pertemuan penuh makna. Di sudut Desa Sijuk, tepatnya di De Membarongan Sidjoek, kebersamaan terasa begitu nyata dalam gelaran halal bihalal yang mempertemukan komunitas komoditas Membarongan dengan ibu-ibu pengajian Desa Sijuk, pada Sabtu 4 April 2026.
Berlokasi di kawasan asri Jalan Kampung Pendalaman, Dusun Ulu, tempat ini bukan sekadar ruang terbuka biasa. Ia menjelma menjadi titik temu hati, tempat silaturahmi dirajut kembali setelah Hari Raya, sekaligus ruang berbagi semangat untuk membangun kebersamaan.
Sejak pagi, suasana sudah terasa hangat. Para peserta datang dengan wajah penuh senyum, saling menyapa, berjabat tangan, dan berbagi cerita. Kehadiran Ketua Wilayah Gemawira Pulau Belitung, Haryanto, bersama para tamu undangan lainnya semakin menambah semarak acara.
Owner De Membarongan Sidjoek, Sutami Sani, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Lebih dari itu, ini adalah upaya menghadirkan ruang kebersamaan yang hidup dan bermakna.
“Silaturahmi seperti ini sangat penting untuk merajut ukhuwah, apalagi dilaksanakan di alam terbuka yang sejuk dan alami,” ujarnya dengan penuh semangat.

Namun, kehangatan acara ini tidak berhenti pada ramah tamah. Ada langkah nyata yang menjadi simbol harapan ke depan. Sekitar 4.000 benih ikan nila air tawar ditebarkan ke kolam yang telah disiapkan. Prosesi ini dilakukan langsung oleh Ketua Wilayah Gemawira Pulau Belitung Haryanto bersama owner De Membarongan Sidjoek, Sutami disaksikan antusias oleh para peserta.
Penebaran benih ikan ini bukan sekadar kegiatan simbolis, melainkan bagian dari upaya mendorong pemanfaatan lahan pertanian secara produktif. Di balik riak air kolam, tersimpan harapan akan tumbuhnya kemandirian pangan berbasis potensi lokal.
Ketua Wilayah Gemawira Pulau Belitong Haryanto pun memberikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana silaturahmi dapat berjalan beriringan dengan aksi konkret yang berdampak bagi masyarakat.
“Kegiatan seperti ini sangat positif karena menggabungkan silaturahmi dengan aksi nyata di bidang ketahanan pangan,” ungkapnya.
Seiring waktu berjalan, suasana semakin cair. Doa bersama dilantunkan dengan khusyuk, dilanjutkan dengan obrolan santai yang mempererat hubungan antar peserta. Kehadiran ibu-ibu pengajian Desa Sijuk memberikan sentuhan religius yang kental, memperkuat nuansa kekeluargaan dalam setiap interaksi.
Di tengah kesederhanaannya, acara ini menyimpan makna besar. De Membarongan Sidjoek kembali membuktikan dirinya bukan hanya destinasi berbasis alam, tetapi juga ruang kolaborasi yang hidup—tempat bertemunya nilai sosial, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Lebih dari sekadar pertemuan, halal bihalal ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah fondasi utama dalam membangun masa depan. Dari Desa Sijuk, sebuah pesan sederhana mengalir: bahwa keberkahan tumbuh dari silaturahmi yang dijaga, dan kemandirian lahir dari langkah kecil yang dilakukan bersama.
Di bawah langit Belitung yang cerah, harapan itu pun ditanam—seiring benih ikan yang ditebar, dan ukhuwah yang semakin mengakar.*













