MEMBALONG – Diskusi buku karya Ardi Yusuf bertajuk ngelakarkan kampong digelar di Ruang Serbaguna Kantor Desa Simpang Rusa, Kecamatan Membalong, Jumat (17/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari proses penyuntingan dan penyempurnaan akhir naskah buku budaya Belitung.
Naskah yang disusun secara mandiri oleh Ardi Yusuf tersebut mengangkat adat istiadat, kearifan lokal, sejarah kampung, dialek Bahasa Belitong—khususnya Bahasa Membalong—serta dilengkapi foto-foto klasik bernilai sejarah. Berbagai tema dibahas, mulai dari tradisi Be Ume dan Be Ladang, asal-usul Kampong Simpang Rusa, peran Dukun Kampong, hingga kisah rakyat seperti Tikus Ketuyu dan Burung Puyuh.
Peserta diskusi aktif memberikan masukan terkait substansi, penggunaan istilah lokal, serta ketepatan historis agar naskah semakin kuat dan autentik.
Ardi Yusuf menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh pihak, khususnya kepada Anggota DPD RI, Insinyur Haji Darmansyah Husein, yang turut memberi perhatian dan masukan dalam proses penyuntingan.
“Naskah ini masih berupa draf. Kami sangat berharap dukungan dan saran agar dalam waktu dekat dapat diterbitkan menjadi buku,” ujar Ardi.
Sementara itu, anggota DPD RI yang juga, Senator Bangka Belitung, Insyinyur Haji Darmansyah Husein, menyebut diskusi kali ini, membahas dua karya penting, yakni Kamus Bahasa Belitung–Membalong, dan buku kearifan lokal, karya Ardi Yusuf. Menurutnya, upaya ini patut didukung, sebagai bagian dari, pelestarian budaya daerah.
“Saya kira ini penuh inisiatif beliau ini. Saya menyambut baik, setiap gagasan-gagasan yang muncul, dari masyarakat dan kita fasilitasi serta kita dukung. Kemudian nanti barangkali, dengan lembaga adat juga, dengan para pemerhati masalah kebudayaan ini, kita perkaya dan kita sempurnakan.
“Mudah-mudahan bisa diterbitkan, dan menjadi satu warisan budaya, yang bisa kita turunkan, kepada generasi muda, lebih mengenal budaya daerahnya, tempat dia lahir,” katanya.
Ketua Lembaga Adat Melayu Belitung, Achmad Hamzah, berharap buku tersebut kelak menjadi warisan budaya sekaligus bahan pembelajaran yang memperkaya keilmuan siswa.
Diskusi ini dihadiri berbagai unsur, mulai dari Senator DPD RI, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Belitung, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Beliting, Dewan Kesenian Bangka Belitung dan Belitung, Lembaga Adat Melayu Belitung, seniman, tokoh adat, hingga undangan lainnya. Kegiatan ngelakarkan kampong diharapkan mampu mendokumentasikan kekayaan budaya Simpang Rusa sebagai referensi berharga bagi generasi mendatang.












