MANGGAR — Pesan mendalam yang jarang diangkat di atas mimbar menjadi perhatian jamaah usai Salat Jumat di Masjid At Taqwa, Jalan Gajah Mada, Kecamatan Manggar, Belitung Timur, Jumat (5/6/2026).
Sekretaris MUI Belitung Timur, Ekocahyo Heppy, yang bertindak sebagai khatib, menyampaikan tema khutbah bertajuk “Jangan Berlebih-lebihan dalam Beragama”. Materi yang disampaikan berhasil menarik perhatian jamaah karena mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan umat Islam, namun jarang dibahas secara mendalam.
Melalui kisah nyata para sahabat yang pernah ditegur langsung oleh Rasulullah SAW, Ustadz Eko mengajak jamaah memahami bahwa semangat beribadah harus tetap berada dalam koridor yang diajarkan syariat. Dan pada akhirnya, ajakannya ini juga menggugah kesadaran warga tentang cara beribadah yang benar.
Salah seorang jamaah, Muhammad Ikhsan, mengaku terkesan dengan isi khutbah tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan tidak hanya berbobot, tetapi juga mengandung pesan penting agar umat Islam lebih berhati-hati dalam menjalankan ajaran agama.
“Menurut saya sangat menarik. Temanya cukup dalam dan mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menjalankan agama. Semuanya harus ada dasar dan dalil yang jelas. Kalau ibarat karya ilmiah, harus ada referensinya,” ujar Ikhsan di pelataran Masjid At Taqwa yang kini tampil megah pascarenovasi.
Kisah Sahabat yang Ditegur Rasulullah SAW.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Eko mengajak jamaah untuk tidak mengada-ada atau melampaui batas sebagai manusia dan umat Nabi Muhammad SAW. Ia mengacu pada Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 171 serta Kitab Shahih Bukhari Juz 7 halaman 7.
Ustadz Eko kemudian membedah hadis sahih tentang tiga orang sahabat yang datang mencari tahu bagaimana ibadah Rasulullah SAW. Merasa ibadah mereka belum seberapa dan ingin fokus mengejar akhirat, sahabat pertama mengaku berpuasa terus-menerus setiap hari tanpa putus. Sahabat kedua memilih selalu berada di dalam masjid demi urusan akhirat dan meninggalkan urusan duniawi. Sementara sahabat ketiga mengaku sengaja menjauhi istrinya demi mengekang hawa nafsu.
Bukannya memuji semangat tersebut, Rasulullah SAW justru menegur mereka dengan tegas melalui sabdanya:
“Aku adalah orang yang paling takut dan paling taat kepada Allah di antara kalian. Namun, aku terkadang berpuasa dan kadang tidak. Aku shalat malam, tetapi aku juga tidur, dan aku pun menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud).
Kunci Utama: Keseimbangan dan Istiqomah
Melalui kisah tersebut, Ustadz Eko menekankan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan (tawazun). Umat Islam dituntut untuk menyelaraskan antara ibadah ritual, pekerjaan duniawi, kehidupan keluarga, dan sosial kemasyarakatan.
Beribadah secara ekstrem hingga mengorbankan tanggung jawab hidup lainnya dinilai sebagai tindakan yang tidak baik. Di akhir khutbah, ia mengingatkan bahwa esensi ibadah yang paling dicintai Allah SWT bukanlah jumlahnya yang langsung banyak, melainkan konsistensi atau keistiqomahannya meskipun kuantitasnya sedikit.
Khutbah pun ditutup dengan ajakan menyentuh hati agar seluruh jamaah terus konsisten berbuat kebaikan demi kemaslahatan bersama agar menjadi hamba yang dicintai Allah SWT.*



















