MANGGAR — Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Belitung Timur (Beltim). Dalam dua bulan terakhir, puluhan kejadian kebakaran tercatat terjadi di berbagai wilayah, didominasi kebakaran lahan yang dipicu kondisi kering dan angin kencang.
Data Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Beltim mencatat 50 kejadian kebakaran sepanjang Juli 2026. Memasuki Agustus, kasus kebakaran masih terus terjadi. Hingga 10 Agustus 2026, sudah tercatat 27 kejadian.
Artinya, hanya dalam kurun waktu sekitar satu bulan lebih, sudah terdapat 77 kejadian kebakaran di Kabupaten Beltim.
Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Beltim. Pasalnya, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga mencapai puncaknya pada September mendatang. Fenomena El Nino juga berpotensi memperbesar risiko kebakaran.
Kepala Dinas Satpol PP Kabupaten Beltim, Novis Ezuar, mengatakan peningkatan kejadian kebakaran mulai terlihat signifikan memasuki triwulan ketiga 2026.
Berdasarkan data Satpol PP Beltim, sepanjang Januari hingga Maret 2026 tercatat 33 kejadian kebakaran. Jumlah tersebut sempat menurun menjadi 13 kejadian pada April hingga Juni.
Namun situasi berubah drastis pada Juli.
“Untuk bulan Juli 2026, tercatat 50 kejadian. Mayoritas merupakan kebakaran lahan, sekitar 90 persen,” ungkap Novis saat ditemui Diskominfo Beltim di ruang kerjanya, Selasa (11/8/2026).
Manggar Jadi Wilayah Paling Banyak Terjadi Kebakaran
Dari 50 kejadian selama Juli, Kecamatan Manggar menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 28 kejadian.
Selanjutnya Kecamatan Gantung dengan 10 kejadian, Damar delapan kejadian, Renggiang tiga kejadian, dan Kelapa Kampit satu kejadian.
Memasuki Agustus, tren tersebut belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Hingga 10 Agustus, tercatat 27 kejadian kebakaran.
Manggar kembali menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, mencapai 14 kejadian, disusul Damar enam kejadian dan Gantung lima kejadian. Sementara Lenggang dan Kelapa Kampit masing-masing mencatat satu kejadian.
Novis menjelaskan, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kebakaran lahan.
Musim kemarau membuat vegetasi, semak belukar, dan rerumputan mengering sehingga sangat mudah terbakar. Risiko tersebut semakin besar karena hembusan angin yang cukup kencang.
“Kalau kebakaran lahan, salah satu faktornya adalah musim kemarau. Kondisi lahan dan rumput-rumput sudah kering. Kemudian ditambah kondisi angin yang sekarang cukup kencang,” jelasnya.
Bakar Lahan Jadi Salah Satu Pemicu
Selain faktor cuaca, aktivitas manusia juga turut menjadi pemicu kebakaran.
Salah satunya adalah praktik pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara dibakar. Api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan dapat dengan cepat menyebar ketika kondisi lingkungan kering dan angin bertiup kencang.
“Jadi kemungkinan ada pembersihan lahan yang dilakukan masyarakat, kemudian dilakukan pembakaran dan akhirnya menyebar sehingga tidak bisa diantisipasi,” ujar Novis.
Kebakaran lahan yang tidak segera dikendalikan juga berpotensi merembet ke kawasan permukiman maupun bangunan di sekitarnya.
Situasi ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena kemampuan penanganan di lapangan masih menghadapi keterbatasan armada.
Armada Pemadam Terbatas, Hanya Satu Unit yang Bisa Diandalkan Maksimal
Novis mengungkapkan, unit pemadam kebakaran yang dimiliki Pemkab Beltim pada dasarnya lebih diperuntukkan untuk menangani kebakaran bangunan di kawasan perkotaan.
“Pemadam kebakaran yang ada di Satpol PP sebenarnya unit untuk melakukan pemadaman tingkat kota. Artinya lebih didesain untuk bangunan,” jelasnya.
Untuk menangani kebakaran lahan dan hutan, Satpol PP berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Beltim yang memiliki kendaraan yang lebih sesuai untuk menjangkau lokasi kebakaran lahan.
Namun, persoalan armada masih menjadi kendala.
Dari empat unit kendaraan pemadam kebakaran milik BPBD Beltim, hanya dua unit yang masih dapat beroperasi. Itu pun kondisinya belum sepenuhnya optimal.
“Yang masih bisa aktif beroperasi cuma dua. Itu pun kondisinya tidak bisa digunakan secara efektif. Tidak berfungsi dengan baik,” ungkap Novis.
Kondisi semakin terbatas setelah salah satu kendaraan mengalami kerusakan. Dengan demikian, hanya satu unit yang saat ini dapat diandalkan secara maksimal untuk mendukung pelayanan pemadaman.
Novis mengatakan perbaikan armada menjadi kebutuhan mendesak, terlebih kasus kebakaran terus meningkat.
Pihaknya akan berkoordinasi dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah terkait kemungkinan dukungan anggaran untuk memperbaiki kendaraan pemadam.
“Kami akan koordinasikan dengan pihak Tim Anggaran Daerah terkait apakah bisa diberikan anggaran untuk perbaikan. Ini harus segera kami perbaiki karena berkaitan dengan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Puncak Kemarau Diperkirakan September, Warga Diminta Jangan Bakar Lahan
Dengan tren kebakaran yang terus meningkat, Satpol PP Beltim meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Warga secara khusus diminta menghindari pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara dibakar.
Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Kondisi lahan yang kering ditambah angin kencang membuat api jauh lebih mudah membesar dan menyebar.
Novis menyebut berdasarkan kajian cuaca, kondisi kemarau dan fenomena El Nino di wilayah Kepulauan Bangka Belitung diperkirakan mencapai puncaknya pada September.
“Juli dan Agustus sekarang saja kondisinya sudah sangat meningkat. Oleh karena itu, kami mohon kerja samanya kepada masyarakat. Intinya, hindari dulu pembukaan lahan dengan cara dibakar,” pintanya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh api, meskipun pembakaran dilakukan dengan tujuan membersihkan lahan.
“Angin sekarang bertiup cukup kencang. Kami khawatir pembakaran-pembakaran seperti itu tidak bisa dikendalikan,” ujarnya.
Bukan Hanya Lahan, Rumah Juga Harus Diwaspadai
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan di lingkungan rumah.
Masyarakat diminta memeriksa instalasi listrik, sambungan listrik, kompor, hingga selang gas sebelum meninggalkan rumah atau setelah selesai melakukan aktivitas yang menggunakan api maupun listrik.
“Kalau ingin meninggalkan rumah ataupun melakukan kegiatan yang menggunakan api atau listrik, dicek kembali. Sambungan listrik, kemungkinan korsleting, kemudian kompor dan selang gas juga perlu diperiksa,” kata Novis.
Menurutnya, keterbatasan armada pemadam tidak boleh membuat masyarakat lengah. Justru pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko kebakaran.
Satpol PP Beltim berharap masyarakat dapat bersama-sama mencegah munculnya titik api, terutama selama periode kemarau yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga September.
“Kami mengharapkan kerja sama masyarakat. Jangan membuka lahan dengan cara dibakar. Lebih baik kita cegah sejak awal daripada kebakaran terjadi dan kemudian sulit dikendalikan,” pungkas Novis.









