Dialog Kebangsaan Lintas Agama di Belitung, Rawat Kerukunan dan Perkokoh Persatuan
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 5 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNGPANDAN — Semangat menjaga persatuan dan kerukunan umat beragama menggema dalam Dialog Kebangsaan dan Kerukunan Lintas Agama Kabupaten Belitung Tahun 2026, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Ruang Billiton City Club, Jalan Depati Gegedek No. 50, Kelurahan Parit, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, tersebut mempertemukan unsur pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), akademisi, serta perwakilan lintas agama.
Mengusung semangat kebersamaan, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman sekaligus memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan rangkaian opening ceremony, mulai dari penayangan video perjuangan bangsa Indonesia, tarian selamat datang, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, hingga pertunjukan dari perwakilan lintas agama.
Ketua Panitia Pelaksana, Farrel Maulidin Azis, dalam laporannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran Forkopimda, para pemuka agama yang tergabung dalam FKUB Kabupaten Belitung, serta seluruh tamu undangan.
Menurutnya, kegiatan tersebut diinisiasi oleh perwakilan lintas agama sebagai upaya memperkuat persatuan, kebersamaan dan kerukunan masyarakat Belitung.
Momentum dialog tersebut juga dirancang tidak sebatas forum diskusi. Salah satu rangkaiannya adalah doa bersama serta ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Ksatria Tumbang Ganti, Desa Perawas, Kecamatan Tanjungpandan.
“Tujuannya adalah memperkuat komitmen generasi penerus dalam menjaga keutuhan NKRI, harmoni, serta kemajuan daerah,” demikian semangat yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Kerukunan Bukan Menghapus Perbedaan
Sambutan Bupati Belitung disampaikan oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Belitung, Robert Harison, S.Sos., M.Si.
Dalam sambutannya, Pemerintah Kabupaten Belitung menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan.
Robert menegaskan bahwa dialog kebangsaan bukan sekadar forum bertukar gagasan, tetapi menjadi ruang penting untuk merawat persaudaraan, memperkuat wawasan kebangsaan dan menjaga Belitung sebagai rumah bersama.
Menurutnya, Indonesia dibangun di atas keberagaman. Masyarakat memiliki perbedaan agama, suku, budaya, latar belakang hingga pilihan kehidupan. Namun seluruh perbedaan tersebut dipersatukan oleh identitas yang lebih besar, yakni Indonesia.
“Kerukunan bukan berarti kita harus menghilangkan perbedaan. Kerukunan adalah kemampuan kita untuk menghormati perbedaan, menjaga persaudaraan, dan bekerja bersama meskipun memiliki keyakinan yang berbeda,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan menjaga kerukunan semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.
Arus informasi yang begitu cepat, kata dia, harus diimbangi dengan kewaspadaan terhadap hoaks, ujaran kebencian, provokasi, intoleransi dan berbagai informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Karena itu, seluruh elemen masyarakat diajak menjadi penyejuk di tengah kehidupan sosial.
“Jangan sampai perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan bangsa justru dimanfaatkan untuk menciptakan perpecahan,” pesannya.
Tolak Intoleransi dan Ujaran Kebencian
Salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut adalah Deklarasi Komitmen Bersama Kerukunan Lintas Agama yang dibacakan Ketua FKUB Kabupaten Belitung, Harmizi, S.Pd.
Dalam deklarasi tersebut, para peserta menegaskan komitmen untuk menjaga dan merawat kerukunan umat beragama di Kabupaten Belitung sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam memperkokoh persatuan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Komitmen tersebut juga mencakup penghormatan terhadap perbedaan agama dan keyakinan, menjunjung tinggi toleransi serta memperkuat persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Selain itu, FKUB bersama seluruh elemen yang terlibat menyatakan sikap menolak segala bentuk intoleransi, diskriminasi, kekerasan, provokasi, ujaran kebencian, penyebaran berita bohong serta tindakan lain yang dapat merusak kerukunan dan memecah persatuan bangsa.

Nilai-nilai agama juga ditegaskan sebagai sumber kebaikan, kedamaian, kasih sayang dan persaudaraan.
Doa Bersama di Taman Makam Pahlawan
Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan rangkaian agenda lainnya, termasuk menuju TMP Ksatria Tumbang Ganti untuk melaksanakan ziarah, tabur bunga dan doa bersama.
Kegiatan tersebut menjadi simbol penghormatan kepada para pahlawan yang telah berjuang bagi kemerdekaan Indonesia sekaligus mengingatkan generasi saat ini bahwa kemerdekaan dan persatuan merupakan hasil perjuangan yang harus terus dijaga.
Dialog kebangsaan dan kerukunan lintas agama kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah hingga penutupan.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam keadaan aman, tertib dan lancar.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Belitung bersama FKUB dan seluruh elemen lintas agama berharap semangat toleransi tidak berhenti pada deklarasi, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, sebagaimana pesan yang disampaikan dalam kegiatan itu, Belitung yang maju adalah Belitung yang rukun, dan Belitung yang hebat adalah Belitung yang mampu menjaga persaudaraan.*
- person
- visibility 96
- forum 0