Jauh sebelum deretan rumah berdiri rapi, sebelum jalan-jalan beraspal membelah kawasan, dan sebelum Komplek Timah menjadi denyut kehidupan masyarakat, di tempat yang kini dikenal sebagai Aik Ketekok hanya ada sebuah sumber air yang jernih. Warga tua menyebutnya Kepala Aik, letaknya berada di kawasan depan Toko Angok saat ini.
Airnya tak pernah benar-benar kering. Dari sanalah para penambang, pemburu, dan warga sekitar mengambil air untuk melepas dahaga atau sekadar beristirahat setelah menembus rimba Belitung yang masih lebat.
Namun, Kepala Aik itu menyimpan kisah yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan para orang tua.
Konon, di sekitar mata air tersebut hidup seekor ular manau berukuran sangat besar. Bagi masyarakat Belitung, ular manau bukan sekadar satwa liar. Ia dipercaya sebagai penghuni alam yang telah lebih dahulu mendiami hutan-hutan pulau ini.
Setiap kali musim kawin tiba, keheningan hutan akan pecah oleh suara yang terdengar berulang-ulang.
“Ketekok… ketekok… ketekok…”
Suara itu menggema dari arah Kepala Aik. Siang ataupun menjelang senja, bunyi tersebut terdengar begitu khas hingga menjadi penanda bagi siapa pun yang melintas.
Lama-kelamaan, orang-orang tidak lagi berkata, “kita ke kepala air.” Mereka mulai berkata,
“Kita ke aik yang bunyi ketekok.”
Ucapan itu kemudian dipersingkat menjadi satu nama yang melekat hingga hari ini:
Aik Ketekok.
Nama yang lahir bukan dari rapat, bukan pula dari keputusan pemerintah, melainkan dari cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, dari pengalaman orang-orang yang hidup berdampingan dengan alam.
Memasuki penghujung tahun 1960-an, kawasan ini mulai berubah. Seiring berkembangnya industri pertimahan di Belitung, dibangunlah Komplek Timah Aik Ketekok sebagai kawasan permukiman bagi para pekerja.
Rumah-rumah dinas berdiri satu demi satu. Jalan mulai dibuka. Sekolah, lapangan, hingga fasilitas umum dibangun untuk menunjang kehidupan masyarakat. Kawasan yang dahulu hanya dikenal karena mata air dan cerita seekor ular manau perlahan menjelma menjadi lingkungan yang hidup, penuh tawa anak-anak, semangat para pekerja, dan harapan banyak keluarga.
Generasi demi generasi tumbuh di sana.
Ada yang belajar bersepeda di jalan komplek, bermain sepak bola hingga senja, mandi di parit-parit yang airnya masih bening, atau sekadar duduk di teras rumah menikmati sejuknya angin sore.
Bagi mereka, Aik Ketekok bukan sekadar alamat. Ia adalah rumah yang menyimpan ribuan kenangan.
Kini zaman telah berubah. Banyak bangunan telah berganti wajah. Sebagian jejak masa lalu mungkin telah hilang ditelan waktu. Namun satu hal yang tetap bertahan adalah namanya.
Aik Ketekok.
Nama sederhana yang mengingatkan kita bahwa sejarah sebuah tempat tidak selalu ditulis dalam buku-buku besar. Kadang, ia lahir dari suara alam, dari cerita para leluhur, dan dari kenangan yang terus hidup di hati masyarakat.
Karena sebuah kampung akan selalu memiliki masa depan, selama warganya tidak pernah melupakan asal-usulnya.
Aik Ketekok bukan hanya sebuah nama. Ia adalah warisan cerita, saksi perjalanan zaman, dan identitas yang patut dijaga untuk generasi yang akan datang.











