Home / Bangka Belitung / Alternatif Pertanian Belitong Selama Pandemi, Ayo Berkebun Tanam Porang

Alternatif Pertanian Belitong Selama Pandemi, Ayo Berkebun Tanam Porang

Bagikan :

TANJUNGPANDAN: Menjanjikan, itulah tanam Porang yang kini lagi booming dan dikembangkan para petani di Bangka Belitung.

Ketua Komunitas Petani Porang (KARANG) Belitong, Yan Sintani sebut tanam porang kini lagi sedang dikembangkan di sejumlah daerah, termasuk di Belitung.

Menurut Yan, hasil panen dari tanaman porang yaitu umbi porang yang sudah di proses menjadi chips yang kering selama ini sebagian besar di eksport di berbagai negara di Asia karena sangat bermanfaat untuk kesehatan (menurunkan kolesterol, menurunkan berat badan dan membantu penyerapan kalsium), bahan baku industri (kosmetik) dan bahan dasar makanan (mie, nasi, tepung).

Di kabupaten Belitung ini, kata Yan, tanaman porang ini terbukti hidup dan kini mulai dijajakinya.

“Anggota komunitas kita sudah tanam porang di Desa Air Seruk, Kacang Butor, Perawas dan Tanjungpandan,” katanya.

Bagaimana pola penanaman porang itu? Yan ungkap bahwa umur panen dari tanam porang selama 7 bulan. Jarak tanaman porang yang satu dengan tanaman porang lainnya katanya berjarak 40 sampai 50 cm.
“Bisa ditumpang sarikan dengan tanaman yang lebih besar seperti sawit, sahang, gaharu, karet dan tidak ada gangguan hama seperti kera , babi dan tupai,” katanya.

Untuk jenis pupuk kata Yan cukup dengan modal pupuk kompos sudah hidup dan bisa ditanam di mana saja.
“Untuk penanaman porang ini bila punya lahan 1 hektar dapat ditanam sebanyak 40 ribu bibit,” katanya.

Bagaimana target dicapai apabila usaha tanaman porang ini? “Satu tanaman porang dengan menggunakan bibit katak bisa menghasilkan umbi seberat 5 ons atau sampai 1 kg dengan musim tanam selama 7 bulan lebih dan penanaman di mulai biasanya pada awal musim penghujan.
Ibarat 1 hektar misalnya ditanam 40000 bibit maka jika harga per kg berkisar Rp 8000 maka dapat diraih omzet sekitar Rp 200-300 juta an hasilnya per sekali musim,” katanya.

Khusus untuk bibit? Kata Yan, bagi yang berminat bisa menghubungi komunitas petani porang. “Bibit dengan jumlah 300 bibit dengan harga Rp 250.000 per kg,” katanya.

Yan sebut di Bangka sedang dibangun pabrik khusus tanaman porang. Sedangkan dari Belitung sedang menunggu investor untuk pembangunan pabriknya.

Memang saja, tanaman umbi porang kini tidak hanya dikembangkan di Bangka Belitung tetapi juga sudah lama di kembangkan di beberapa daerah di Indonesia khususnya di Pulau Jawa bahkan mereka sudah melakukan eksport ke berbagai negara. Di beberapa daerah juga sudah banyak pabrik pengolahan umbi porang.

Praktisi Pertanian Porang yang sudah di kenal, Pak Paidi, yang punya pabrik pengolahan Porang dan sudah sering ekspor ke Jepang menyebutkan bahwa tanah Babel pun sangat potensial pengembangan tanaman Porang ini karena karakteristiknya yang berpasir.

“Bangun komunitas”

Yan Sintani bersama rekan-rekan lainnya membentuk Komunitas Petani Porang yang disingkat KARANG di Belitung yang saat ini beranggotakan sekitar 30 orang petani. Keberadaan sekretariatnya di Perumahan Belitong Regency. Penggagas awal komunitas ini adalah Ayub Sukoli, Yan dan Eko. Sebagai Ketua adalah Yan Sintani, Wakil Ketua Freddy Boen, Sekretaris Eko dan Bendahara Badrun.

Untuk memperkenalkan komunitas ini pihaknya telah beraudensi dengan Wakil Bupati Belitung Isyak Meirobie S.Sn MSi dan Kadis Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Belitung Destika Efenly.*