TANJUNGPANDAN – Tradisi Makan Bedulang bukan sekadar jamuan makan khas Belitung, tetapi menjadi simbol kuat kebersamaan, kesetaraan, dan penghormatan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Melayu Belitung.
Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Adat Melayu Belitung, Ahmad Hamzah, saat Pemerintah Kabupaten Belitung menyambut kedatangan dua asesor UNESCO Global Geopark, Mrs. Kana Furusawa dan Mrs. Han Jinfang, di Rumah Adat Belitong, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Lesung Batang, Kecamatan Tanjungpandan, Senin (3/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Ahmad Hamzah menjelaskan bahwa Makan Bedulang merupakan tradisi yang mengajarkan nilai persaudaraan tanpa memandang latar belakang maupun status sosial.
“Tradisi ini dilakukan dengan empat orang duduk bersila mengelilingi satu dulang yang berisi nasi dan aneka hidangan khas Belitung. Seluruh peserta menikmati makanan dari wadah yang sama sebagai simbol kebersamaan, kesetaraan, dan saling menghormati,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap prosesi Makan Bedulang juga memiliki tata krama yang sarat makna. Orang yang paling tua diberikan kehormatan untuk membuka tudung saji sebagai bentuk penghormatan kepada yang dituakan dalam budaya Melayu Belitung.
“Ini adalah salah satu nilai luhur yang terus kami lestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Belitung,” katanya.
Prosesi adat tersebut menjadi bagian dari penyambutan resmi terhadap dua asesor UNESCO Global Geopark yang tengah melaksanakan proses evaluasi terhadap Belitung Global Geopark. Suasana hangat dan penuh nuansa budaya mewarnai kegiatan yang dimulai sejak pukul 14.08 WIB itu.
Melalui penyambutan dengan tradisi Makan Bedulang, Pemerintah Kabupaten Belitung ingin memperkenalkan kekayaan budaya lokal sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya berjalan beriringan dengan upaya menjaga warisan geologi yang menjadi bagian penting dari Belitung Global Geopark.
Kunjungan Mrs. Kana Furusawa dan Mrs. Han Jinfang merupakan bagian dari proses revalidasi UNESCO terhadap Belitung Global Geopark. Hasil evaluasi ini diharapkan dapat mengantarkan Belitung kembali meraih status Green Card setelah sebelumnya memperoleh Yellow Card, sekaligus memperkuat posisi Belitung sebagai destinasi geopark dunia yang mengedepankan konservasi alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.*











