SIJUK: Anggota MPR RI B-36 sekaligus Senator Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ir. H. Darmansyah Husein, menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Pendopo Pantai Tanjung Kelayang, Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada Sabtu, 13 Desember 2025.
Kegiatan ini diikuti oleh pelajar, generasi muda, serta anggota Pramuka, dan berlangsung dalam suasana dialogis. Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika tersebut bertujuan memperkuat pemahaman serta pengamalan nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.
Dalam sesi tanya jawab, sejumlah peserta mengajukan pertanyaan kritis. Ahamd Fikri menanyakan keterkaitan nilai-nilai kepramukaan dengan pengamalan Empat Pilar Kebangsaan. Menanggapi hal tersebut, Darmansyah Husein menjelaskan bahwa nilai-nilai kepramukaan seperti disiplin, gotong royong, kepemimpinan, dan tanggung jawab memiliki keselarasan yang sangat kuat dengan Empat Pilar Kebangsaan.
“Melalui Pramuka, generasi muda dibentuk untuk patuh terhadap aturan, mampu bekerja sama, peduli terhadap sesama, serta memiliki rasa cinta tanah air. Ini sejalan dengan nilai Pancasila, semangat NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Sementara itu, Salsabilla mempertanyakan dampak jika sosialisasi Empat Pilar tidak dilakukan secara berkelanjutan. Menurut Darmansyah, hal tersebut berpotensi menyebabkan menurunnya pemahaman dan penghayatan nilai kebangsaan, khususnya di kalangan generasi muda. “Jika tidak dilakukan secara terus-menerus, rasa persatuan dapat melemah, sikap individualisme meningkat, dan generasi muda semakin jauh dari nilai dasar Pancasila,” jelasnya.
Menjawab pertanyaan Fajar Ramadhan mengenai relevansi Empat Pilar di tengah arus globalisasi dan budaya asing, Darmansyah menegaskan bahwa sosialisasi Empat Pilar justru semakin penting. Globalisasi, kata dia, membawa banyak pengaruh yang harus disikapi dengan bijak. “Empat Pilar Kebangsaan menjadi landasan dan identitas nasional agar bangsa Indonesia mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri,” tegasnya.
Adapun Ayu Kartika menyoroti nilai Empat Pilar yang paling sulit diterapkan oleh pelajar saat ini. Darmansyah menyebut nilai Bhinneka Tunggal Ika, khususnya dalam menghargai perbedaan dan membangun toleransi, sebagai tantangan terbesar. Pesatnya perkembangan media sosial, menurutnya, kerap memicu sikap eksklusif dan intoleran di kalangan pelajar. Selain itu, nilai gotong royong dan kepedulian sosial dalam Pancasila juga menghadapi tantangan akibat gaya hidup individualistis.
Di akhir kegiatan, para peserta menyampaikan sejumlah harapan dan masukan. Mereka menginginkan agar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan, serta generasi muda, termasuk anggota Pramuka, diberdayakan sebagai mitra strategis dalam penyebarluasan nilai-nilai kebangsaan. Peserta juga berharap penyampaian materi ke depan dilengkapi dengan contoh konkret dan studi kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja.
Selain itu, peserta mengusulkan agar sesi diskusi diperpanjang, waktu pelaksanaan disesuaikan dengan jadwal belajar dan kegiatan kepramukaan, serta dilakukan evaluasi kegiatan secara berkala sebagai bahan perbaikan ke depan.
Dengan terlaksananya kegiatan sosialisasi ini, diharapkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara semakin meningkat, sehingga Empat Pilar Kebangsaan dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.*












