Dari Azan, Istighfar dan Paket kebahagiaan bagi Marbot/Kaum Duafa : Menghidupkan Subuh di Badau
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 1 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADAU — Ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam dinginnya udara pagi, suara azan perlahan memecah keheningan Desa Badau. Dari Masjid Raudhatul Jannah, lantunan azan itu datang dari suara seorang pelajar kelas VIII SMP Negeri 1 Badau, Wieky Wijaya.
Ahad, 20 September 2026, menjadi pagi yang berbeda bagi masyarakat Badau. Masjid Raudhatul Jannah dipenuhi jamaah yang datang untuk mengikuti Gerakan Sholat Subuh Berjamaah (Shuling) ke-44 Kecamatan Badau.
Azan yang dikumandangkan Wieky menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan. Setelah itu, jamaah menunaikan salat Subuh berjamaah dengan imam Arjuansyah, Sekretaris MUI Kecamatan Badau.
Suasana kemudian dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Shezi, santri TPA Raudhatul Jannah, membacakan Surah Al-Baqarah ayat 47–52, sementara saritilawah disampaikan oleh Ahwan, yang juga merupakan santri TPA Raudhatul Jannah.
Pagi itu bukan sekadar tentang berkumpul dan beribadah. Ada pesan tentang bagaimana sebuah gerakan kebaikan dapat tumbuh dari masjid, melibatkan anak-anak, orang tua, tokoh agama, pemerintah desa, hingga masyarakat.
Kepala Desa Badau, Irawan Sumantri, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Shuling di Desa Badau. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Desa Badau akan terus mendukung kegiatan salat Subuh berjamaah serta berupaya menguatkan syiar Islam di Desa Badau dan Kecamatan Badau.
Istighfar dan Ikhtiar
Pesan utama pagi itu disampaikan Ustadz Riswanto, S.Pd., M.M.Pd., Ketua IKADI Kabupaten Belitung. Dalam ceramah bertema “Istighfar Solusi Segala Musibah, Mengubah Kesulitan Menjadi Kemudahan”, ia mengajak jamaah untuk memperbanyak istighfar sekaligus tetap melakukan ikhtiar nyata.
Berbagai musibah dan persoalan yang terjadi di negeri ini, mulai dari gempa, kekeringan hingga kelangkaan BBM, menjadi pengingat agar manusia semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Namun, istighfar tidak berhenti sebagai ucapan.
Menurutnya, ikhtiar juga harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menjaga alam, mempertahankan sumber-sumber air, serta membangun kepedulian dan kebiasaan saling membantu di tengah masyarakat.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan sehari-hari: berdoa kepada Allah, sembari tetap bergerak dan berbuat.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Ustadz Riswanto, yang juga Ketua Yayasan Bina Insani Kabupaten Belitung.
Dari Masjid, Kebaikan Mengalir
Ada pemandangan lain yang membuat pagi itu semakin bermakna.
Di sela kegiatan, kebaikan tidak hanya berhenti pada lantunan doa dan tausiah. Sebanyak tiga buah tas, tiga pack buku, tiga kotak pulpen, tiga pasang kaos kaki, dan tiga cup Pop Mie dibagikan kepada muazin, qoriah, dan saritilawah.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari infak Shuling ke-43. Penyerahan dilakukan oleh Kepala Desa Badau bersama Ketua DMI Kabupaten Belitung.
Sebanyak empat kotak gunting kuku juga dibagikan kepada jamaah.

Sementara itu, empat paket kebahagiaan diberikan kepada marbot dan kaum duafa melalui Yayasan Infaq Jariyah Belitung. Penyerahan dilakukan oleh Rusdianto, S.I.Kom., anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang juga merupakan salah satu donatur yayasan tersebut.
Rangkaian kecil itu memperlihatkan bahwa gerakan Subuh bukan hanya mengajak masyarakat memenuhi masjid. Ia juga berusaha menghadirkan manfaat bagi orang-orang yang berada di dalamnya.
Anak-anak yang Menjadi Bagian dari Gerakan
Ada Wieky yang mengumandangkan azan.
Ada Shezi yang melantunkan ayat Al-Qur’an.
Ada Ahwan yang menyampaikan saritilawah.
Mereka mungkin masih anak-anak, tetapi pagi itu mereka mengambil peran dalam sebuah gerakan yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Dari masjid, mereka belajar bahwa syiar tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang ia bermula dari keberanian seorang anak berdiri di depan mikrofon untuk mengumandangkan azan, dari seorang santri yang membaca ayat suci, atau dari jamaah yang memilih bangun sebelum matahari terbit untuk melangkahkan kaki menuju rumah Allah.
Kegiatan Shuling ke-44 Kecamatan Badau ini turut dihadiri Ketua DMI Kabupaten Belitung Drs. Ibnu Habban, perwakilan Camat Badau, MUI Kecamatan Badau, majelis taklim se-Kecamatan Badau, tokoh agama, para ketua RT, anggota BPD se-Desa Badau, serta DKM Masjid Al Mukarromah Kacang Butor, H. Syarfi dan Hadian.
Pagi akhirnya bergerak menuju siang. Jamaah pun meninggalkan Masjid Raudhatul Jannah dengan membawa pesan yang sama: bahwa kebaikan akan lebih kuat ketika dikerjakan bersama.
Dari azan seorang pelajar, bacaan Al-Qur’an seorang santri, nasihat tentang istighfar, hingga paket kebahagiaan bagi marbot dan kaum duafa, Subuh di Badau menjadi lebih dari sekadar pertemuan rutin.
Ia menjadi cerita tentang masyarakat yang berusaha menjaga cahaya kebaikan agar tetap menyala—dimulai dari masjid, kemudian mengalir kepada sesama.
Semoga langkah-langkah kecil itu terus dimudahkan dan dikuatkan.
Syukron, Jazakumullahu Khairan Katsiran.*
- person
- visibility 47
- forum 0