Home / Bangka Belitung / Hadirkan Perintis Pengelola Sampah, LAMBEL Diskusi Sampah Jadi Sumber Ekonomi
IMG_20220608_120304

Hadirkan Perintis Pengelola Sampah, LAMBEL Diskusi Sampah Jadi Sumber Ekonomi

Bagikan :

TANJUNGPANDAN: LAMBEL (Lembaga Adat Melayu Belitung) gelar diskusi lingkungan hidup khususnya tentang pengelolaan sampah sebagai sumber ekonomi, yang bertempat di Rumah Adat Belitung, pada Rabu, 8 juni 2022.

Acara kegiatan ini menghadirkan narasumber Suyatno dari Ketua Forum Swadaya Masyarakat Air Raya, yang merupakan perintis pengelola sampah secara mandiri di Belitung.

Acara kegiatan ini dihadiri Ketua LAMBEL Drs. H. Abdul Hadi Adjin dan pengurus LAMBEL Karseno serta Ketua LAM (Lembaga Adat Melayu) Kecamatan Tanjungpandan Sofwan Ar dan Alpiah, pengurus LAM Desa se Kecamatan Tanjungpandan.

IMG_20220608_120514

Ketua LAMBEL Drs. H. Abdul Hadi Adjin sampaikan diskusi ini membahas kaitan lingkungan seperti pengelolaan sampah sebagai sumber ekonomi dan sekaligus dalam rangka penciptaan Tanjungpandan lebih lestari bersih.

Diharapkan kata Hadi, melalui diskusi ini para LAM Desa se-kecamatan Tanjungpandan mendapat pemahaman dan motivasi pentingnya sampah yang tidak hanya menciptakan kebersihan namun memiliki nilai ekonomis bila dikelola secara profesional.

Sementara itu, Suyatno dari Ketua Forum Swadaya Masyarakat Air Raya dalam uraiannya menyampaikan materi seputar pengelolaan sampah sebagai sumber ekonomi.

Diawal acara diskusi Suyatno sampaikan bahwa pengalaman singkat pengelolaan sampah sudah mulai dirintis tahun 2008 sampai sekarang.

“Pada waktu itu banyak masyarakat yang memandang sebelah mata dan ada juga yang mengatakan Bung Yatno dianggap orang gila tetapi dengan tekad dan semangatnya bahwa penanangan sampah yang saya lakukan ini sangat menguntungkan,” katanya.

Menurut Suyatno, pengelolaan sampah yang bernilai ekonomis dan pengoptimalan sampah bisa diciptakan lewat kreasi tangan dan lewat pertanian.

Suyatno akui pengelolaan sampah oleh dirinya lebih difokuskan dengan pengembangan lewat pertanian hidroponik dan pemanfaatan pembuatan kompos.

“Semua sampah dikelola bisa bernilai jual dan dibuat beraneka ragam untuk dikembangkan. Kalau saya, memang pengelolaan sistim pengelolaan sampah organik lewat pertanian hidronik dan pembuatan kompos. Alhamdulillah secara ekonomi bisa teratasi dan menguntungkan, ” katanya.

Bila termovitasi, Suyatno menyarankan agar LAM Desa Se-kecamatan Tanjungpandan bisa mencoba alternatif untuk ikut mengelola sampah yang dimulai dari rumah ke skala kecil hingga menengah.
“Kalau LAMBEL ikut lakukan pengelolaan sampah. Ini menjadi yang pertama di Indonesia, LAMBEL menjadikan sampah sebagai sumber ekonomi disamping ikut membudayakan hidup bersih dengan pengelolaan sampah yang optimal,” katanya.

Seperti diketahui, saat ini Suyatno memiliki 400 pelanggan dan karyawan 7 orang. Sebagai pengelola sampah, Suyatno salah satu ikut penjaga kebersihan dan penciptaan lapangan kerja di masyarakat.

Dalam sesian tanya jawab, didiskusikan seputar bagaimana pengelolaan pembuatan kompos serta peruntukkan tanaman apa saja yang bisa digunakan untuk kompos, maupun pengelolaan sampah dalam pengembangan tanaman hidroponik.*