TANJUNGPANDAN —Kita tidak bisa menutup mata bahwa Idul Adha tahun 2026 ini hadir di tengah ujian yang tidak ringan. Di layar-layar ponsel kita, dunia sedang memanas. Konflik di Timur Tengah antara Amerika, Iran, dan Israel mencapai titik yang mengkhawatirkan. Blokade di Selat Hormuz mencekik jalur energi dunia.
Dampaknya bukan lagi sekadar berita di televisi. Dampaknya kini telah masuk ke dapur-dapur rumah kita di Belitung tercinta. Harga gas LPG melambung tinggi, membuat para ibu harus semakin cermat mengatur kebutuhan keluarga. Lapangan kerja yang makin sempit di tanah Laskar Pelangi ini membuat banyak ayah berjuang lebih keras mencari nafkah, sementara harga kebutuhan pokok terus merangkak naik.
Mungkin di antara kita ada yang bertanya dalam hati:
“Ya Allah… dalam keadaan sesulit ini, masihkah kami diminta untuk berkurban?”
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah…
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Mari kita menengok kembali ke masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Di lembah Bakkah yang tandus, Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil. Tidak ada air, tidak ada tanaman, tidak ada manusia lain. Jika dilihat dengan logika dunia, itulah krisis paling berat yang pernah ada.
Namun lihatlah jawaban seorang ibu yang penuh keimanan, Siti Hajar ‘alaihas salam. Ketika beliau mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah, beliau berkata:
“Jika demikian, Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Inilah pelajaran besar bagi kita hari ini.
Ekonomi dunia boleh krisis, tetapi rahmat Allah tidak pernah krisis.
Selat Hormuz boleh diblokade oleh kapal perang, tetapi pintu rezeki Allah tidak akan pernah bisa diblokade oleh siapa pun.
Tauhid… keyakinan kepada Allah… itulah pegangan kita di masa sulit seperti sekarang.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 6:
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah.”
Hadirin yang berbahagia…
Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Pelajaran berikutnya adalah tentang ikhtiar.
Siti Hajar tidak hanya duduk dan menangis. Beliau berlari antara Safa dan Marwah. Berkali-kali. Dengan penuh keyakinan dan harapan. Hingga akhirnya Allah menghadirkan air zamzam dari tempat yang tidak pernah disangka-sangka.
Artinya apa?
Doa harus disertai usaha. Tawakal bukan berarti menyerah. Dalam kondisi ekonomi yang sulit ini, kita harus tetap bergerak, tetap bekerja, tetap berusaha, dan tetap yakin bahwa pertolongan Allah itu nyata.
Dan hari ini… kita sedang belajar tentang makna qurban yang sesungguhnya.
Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Qurban adalah menyembelih rasa takut miskin. Menyembelih sifat kikir. Menyembelih ego dan kecintaan berlebihan kepada dunia.
Ketika kita rela berbagi di tengah keadaan sulit, di situlah letak kemuliaan qurban. Di situlah terbukti apakah yang paling kita cintai adalah harta… atau Allah Sang Pemilik Harta.
Daging qurban yang akan kita bagikan nanti adalah pesan persaudaraan. Di saat ekonomi sulit, jangan biarkan tetangga kita menanggung lapar sendirian. Jangan biarkan saudara kita merasa sendiri menghadapi kehidupan.
Jika kita hanya mampu berqurban sedikit, maka berikanlah dengan hati yang tulus. Karena Allah tidak melihat besar kecilnya hewan qurban kita, tetapi melihat ketakwaan dan keikhlasan hati kita.
Mari jadikan Idul Adha tahun ini sebagai momentum memperkuat solidaritas masyarakat Belitung. Kita saling membantu. Saling menguatkan. Saling mendoakan. Dan berhenti mengeluh secara berlebihan.
Kita adalah masyarakat yang lahir dari perjuangan.
Kita adalah anak-anak Melayu yang tangguh.
Kita adalah warga tanah Laskar Pelangi yang tidak mudah menyerah.
Jamaah yang dirahmati Allah…
Mari kita tundukkan hati dan menengadahkan tangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ya Allah… Ya Rahman… Ya Rahim…
Di hari yang mulia ini kami mengetuk pintu rahmat-Mu.
Engkau mengetahui betapa berat ujian yang sedang dihadapi hamba-hamba-Mu saat ini.
Ya Allah… angkatlah kesulitan ekonomi yang sedang melanda dunia.
Tenangkan hati para pemimpin dunia.
Redakan peperangan.
Hentikan pertumpahan darah.
Dan kembalikan kedamaian bagi umat manusia.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memberi Rezeki…
Khususnya untuk kami masyarakat Kabupaten Belitung.
Mudahkan urusan kami.
Bukakan pintu-pintu rezeki dari arah yang tidak kami sangka-sangka.
Berikan kekuatan bagi para ayah yang sedang berjuang mencari nafkah.
Berikan kesabaran bagi para ibu yang sedang mengatur dapur di tengah mahalnya kebutuhan hidup.
Ya Allah…
Terimalah qurban kami.
Jadikan setiap tetes darah hewan qurban kami sebagai penggugur dosa, pembuka keberkahan, dan jalan datangnya kemudahan hidup bagi kami.
Jangan biarkan kesulitan ini menjauhkan kami dari-Mu.
Jadikanlah ujian ini sebagai jalan agar kami semakin dekat kepada-Mu.
Ya Allah…
Jagalah saudara-saudara kami yang sedang menunaikan ibadah haji, terkhusus jamaah haji asal Belitung.
Lindungilah perjalanan mereka.
Mudahkan seluruh urusan mereka.
Terimalah ibadah hajinya.
Anugerahkan kepada mereka haji yang mabrur dan dosa yang Engkau ampuni.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
.*)Khotib Drs. HUNIYADI BELLIA, (Sekretaris MUI Belitung) di Masjid Al-Hidayah Jalan Kapten Saridin, Tanjungpandan Belitung



















