TANJUNGPANDAN – Komunitas Diskusi 17 (KD-17) Belitong kembali menggelar diskusi lanjutan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Tanjungpandan (HJKT) ke-188 Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Sekretariat KD-17 Belitong, Jalan Air Serkuk No. 21 RT 28/RW 11, Tanjungpandan, pada Jumat malam, 26 Juni dan 10 Juli 2026, mulai pukul 19.30 WIB hingga 23.15 WIB.
Mengusung semangat “Diskusi Menjadi Solusi untuk Satoe Pulau Satoe Belitong”, forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan narasumber, di antaranya mantan Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung pertama Ir. H. Suryadi Saman, M.Sc., Ir. H. Nazalius, M.Sc., serta perwakilan PT Timah Wilayah Belitung, Andriansyah.
Diskusi juga diikuti oleh berbagai tokoh masyarakat, akademisi, praktisi, pengurus lingkungan, pemuda, serta perwakilan pekerja tambang, yaitu H. Soehadi Hasan
Juhri, Drs. Zainal Arifin, dr. H. Suhendry Syam, Sp.OG, Zulfriandi Afan, S.H., Sayuti Samad, Sabriansyah, SKM,H. Zukron, Suryanto Sudibyo, Yudhi Mustar Mus, Abu Bakar Idrus, S.E., Sayuti Muhammad, Drs. Ruspandi, Ketua RT 28/RW 11 Aik Saga, Perwakilan pekerja tambang Meja Goyang (5 orang), Perwakilan Karang Taruna (5 orang)
Kehadiran para peserta dari berbagai latar belakang tersebut menjadikan diskusi berlangsung dinamis dengan beragam masukan dan pandangan konstruktif mengenai pembangunan serta masa depan Pulau Belitung.
Acara diawali dengan makan gangan bersama dan ramah tamah yang berlangsung dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan silaturahmi. Selanjutnya, Sekretaris KD-17 Belitong, H. Hasimi Usman, membuka kegiatan dengan bacaan basmalah sekaligus menegaskan bahwa forum KD-17 bukan sekadar wadah berdiskusi, tetapi menjadi ruang untuk melahirkan solusi terhadap berbagai persoalan strategis di Pulau Belitung.
Dalam sambutannya, Ketua Komunitas Diskusi 17 (KD-17) Belitong, Rizali Abusama atau yang akrab disapa Pak Trek, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir, khususnya para tokoh yang selama ini telah memberikan kontribusi nyata bagi perjalanan sejarah dan pembangunan Belitung.

Menurut Rizali, sejumlah tokoh seperti H. Soehadi Hasan, Sayuti Samad, Juhri, Suryanto (Yanto) Sudibyo, Zainal Arifin, dan rekan-rekan lainnya merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang pernah menggerakkan arus reformasi di Belitung. Perjuangan mereka, kata Rizali, menjadi bagian penting dalam proses perubahan sistem pemerintahan daerah yang kemudian melahirkan kepemimpinan sipil di Kabupaten Belitung hingga saat ini.
Ia juga mengenang perjuangan para tokoh pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di antaranya Ir. H. Suryadi Saman, Drs. Ruspandi, Abu Bakar Idrus, almarhum H. A. Rani Rasyid, Momon, H. Zukron, serta tokoh-tokoh lainnya yang tergabung dalam Presidium Pejuang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Menurutnya, perjuangan mereka telah menghasilkan lahirnya provinsi baru yang kini menjadi rumah bersama masyarakat Bangka dan Belitung.
Selain itu, Rizali turut mengapresiasi jasa para tokoh yang berperan dalam memperjuangkan lahirnya Hari Jadi Kota Tanjungpandan, di antaranya almarhum Rosihan Sahib, Hadi Adjin, Ir. Hermanto, Karyadi Syahminan, Bakri Khauriyansyah, Sanem, H. Hasimi Usman, serta dirinya sendiri. Ia menegaskan bahwa para pelaku sejarah tersebut memiliki ikatan emosional yang kuat dengan peringatan Hari Jadi Kota Tanjungpandan yang kini diperingati setiap tahun.
Rizali menyampaikan bahwa semangat perjuangan para tokoh terdahulu menjadi inspirasi bagi generasi saat ini untuk terus menjaga persatuan, memperkuat kepedulian terhadap daerah, serta melanjutkan pembangunan Belitung ke arah yang lebih maju dan berdaya saing.
Meskipun tidak dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah, Rizali menegaskan bahwa kegiatan tersebut tetap berlangsung dengan penuh semangat karena yang terpenting adalah terjaganya silaturahmi dan ruang dialog di antara para tokoh, pejuang daerah, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap masa depan Belitung.
Menurut Rizali, jasa para tokoh tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Belitung yang patut dikenang oleh generasi saat ini.
Selain mengenang sejarah perjuangan daerah, forum KD-17 juga membahas sejumlah persoalan aktual yang dihadapi masyarakat Belitung. Di antaranya menurunnya daya beli masyarakat, fluktuasi harga timah, perlunya peningkatan kontribusi PT Timah terhadap kesejahteraan masyarakat, serta berbagai persoalan tata kelola pertambangan timah yang dinilai masih memerlukan perhatian serius.
Dalam diskusi, para narasumber dan peserta juga memberikan berbagai pandangan mengenai pengelolaan sumber daya alam, pengembangan ekonomi daerah, serta arah pembangunan Belitung di masa depan.
Salah satu rekomendasi penting yang dihasilkan forum adalah mendorong Pemerintah Kabupaten Belitung menjadikan peringatan Hari Jadi Kota Tanjungpandan ke-188 sebagai momentum penyusunan roadmap pembangunan lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Forum juga membahas informasi mengenai sejumlah izin usaha pertambangan (IUP) dan aset PT Timah yang pernah dilepas di Belitung pada masa lalu. Dalam diskusi tersebut disampaikan pula perlunya penelusuran lebih lanjut terhadap aspek administrasi dan status aset yang berkaitan dengan pemerintah daerah agar memiliki kejelasan data dan dokumen.
Perwakilan PT Timah menjelaskan bahwa perusahaan telah menerima lima unit smelter sitaan dari Kejaksaan Agung, salah satunya berada di Pulau Belitung. Saat ini perusahaan masih melakukan kajian menyeluruh terkait aspek finansial, sumber daya manusia, dan operasional sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Forum KD-17 turut menyoroti pentingnya tindak lanjut terhadap rekomendasi Panitia Khusus (Pansus) Timah DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Salah satu usulan yang mengemuka adalah perlunya dialog bersama Pansus Timah untuk membahas arah pengelolaan industri timah di Belitung.
Selain itu, peserta diskusi mendukung transformasi ekonomi Belitung sebagaimana visi pembangunan daerah yang mengarah pada sektor kemaritiman, pariwisata, perikanan, perkebunan, dan ekonomi berkelanjutan. Untuk mendukung transformasi tersebut, forum memandang revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) menjadi langkah strategis yang perlu segera diselesaikan.
KD-17 Belitong juga berencana membuka ruang dialog bersama DPRD Belitung, pemerintah daerah, PT Timah, kalangan akademisi, organisasi kemasyarakatan, serta para pemangku kepentingan lainnya guna membahas arah pembangunan Belitung secara komprehensif.

Di bidang lingkungan, forum menyampaikan rencana penyampaian somasi sebagai langkah awal audit terhadap dugaan dampak lingkungan yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan sebelum mempertimbangkan langkah hukum lanjutan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam forum diskusi tersebut, KD-17 menyarankan agar segera dibentuk tim independen untuk menyusun draf konsolidasi pasca Wakil Gubernur menjalani hukuman. Langkah ini dinilai penting agar proses konsolidasi dapat berjalan secara objektif, terarah, dan tetap mengedepankan kepentingan bersama.
Terkait penunjukan utusan, disampaikan bahwa utusan dari Wakil Gubernur adalah Bapak Ir. H. Suryadi Saman, M.Sc. Sementara itu, untuk utusan dari Gubernur, KD-17 menyerahkan kepada Bapak Ir. H. Nazalius, M.Sc. untuk mencari atau menunjuk siapa yang akan menjadi utusan setelah berkoordinasi dengan Bapak Hidayat Arsani selaku Gubernur Kepulauan Bangka Belitung.
Menutup kegiatan, Rizali Abusama mengajak seluruh elemen masyarakat terus menjaga persatuan, silaturahmi, dan solidaritas dalam membangun Belitung yang lebih maju, berdaya saing, dan berkelas.
Diskusi resmi ditutup oleh Sekretaris KD-17 Belitong, H. Hasimi Usman, pada pukul 23.15 WIB dengan ucapan hamdalah. Hasil rekomendasi forum akan disampaikan kepada pemerintah daerah serta instansi terkait sebagai bahan masukan bagi pembangunan Kabupaten Belitung ke depan.*

















