Jadi Polsus Puluhan Tahun Menjaga Timah: Sahirin Kuasai Beladiri, Main Sangkur dan Menembak
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNGPANDAN — Menjadi Polisi Khusus (Polsus) bukan sekadar mengenakan seragam dan berdiri menjaga aset perusahaan. Di balik tugas itu ada disiplin, kesiapsiagaan, serta tanggung jawab yang harus dijalankan tanpa mengenal cuaca dan waktu.
Hal itulah yang puluhan tahun dijalani Sahirin, warga Air Merbau. Lelaki ini pernah mengabdikan dirinya sebagai Polsus Timah,selama puluhan tahun, menjaga aset perusahaan di tengah berbagai tantangan pada zamannya.
Bagi Sahirin, menjadi Polsus bukan pekerjaan yang bisa dijalankan sembarangan. Ada persyaratan yang harus dipenuhi, pendidikan yang harus dijalani, hingga aturan ketat yang wajib dipatuhi.
“Pokoknya harus disiplin. Dulu perusahaan Timah memang menerapkan aturan itu,” kenangnya.
Sistem kerja tiga sif menjadi bagian dari kesehariannya. Ada yang masuk pukul 07.00, pukul 15.00, dan pukul 23.00. Setiap sif berlangsung selama delapan jam.
Bagi Sahirin, sif malam menjadi salah satu tantangan tersendiri. Hujan deras, petir dan kilat bukan alasan untuk meninggalkan tugas.
“Kalau namanya tugas dinas, harus sampai ke tempat dan tepat waktu. Jas hujan disiapkan, kendaraan juga ada,” ujarnya.
Bahkan, ketika jadwal masuk pukul 07.00, Sahirin dan rekan-rekannya dituntut sudah berada di lokasi sebelum waktunya. Mereka harus dalam kondisi siap siaga.
“Masuk jam tujuh, sebelum jam tujuh kita sudah standby,” katanya.
Bukan Sekadar Menjaga, Tapi Memikul Tanggung Jawab
Pada masa itu, keberadaan Polsus tersebar di sejumlah wilayah tambang Timah di Pulau Belitung. Sahirin mengenang sejumlah lokasi yang menjadi bagian dari pengamanan, seperti Kelapa Kampit, Manggar, Gantung hingga Damar.
Di tempat tugas, para Polsus memiliki tanggung jawab untuk mengawal aset dan memastikan proses pengiriman berjalan sesuai ketentuan.
Sahirin masih mengingat bagaimana dirinya harus datang lebih awal ketika bertugas mengawal pengiriman.
“Kalau berangkatnya jam tujuh, jam enam kita sudah di sana. Barang yang dinaikkan dihitung, berapa karung, kemudian ada suratnya. Setelah itu diserahkan sampai Tanjungpandan,” tuturnya.
Bagi Sahirin, tugas tersebut membutuhkan ketelitian. Jumlah barang harus sesuai, dokumen harus lengkap, dan seluruh proses harus berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, satu hal yang menurutnya penting: tugas Polsus bukan untuk mencari keributan dengan masyarakat.
“Mengejar orang maling itu tidak ada. Kalau bentrok dengan masyarakat juga tidak,” katanya.
Ia menggambarkan suasana pada masa itu sebagai masa ketika pengamanan aset perusahaan dilakukan dengan kedisiplinan dan prosedur yang jelas.
Pendidikan Keras, Disiplin Tak Bisa Ditawar
Sebelum menjalankan tugas, Sahirin harus mengikuti pendidikan Polsus. Latihan fisik dan kemampuan pengamanan menjadi bagian yang harus dikuasai. Seperti bela diri, yang harus dikuasai oleh Polsus.
Latihan menggunakan senjata dan sangkur juga menjadi bagian dari pendidikan yang ia jalani. Ia masih mengingat bagaimana para peserta dilatih menggunakan sangkur dengan sasaran tertentu.
Namun, latihan tersebut bukan untuk membabi buta. Ada aturan yang harus dipatuhi.
“Dalam latihan maupun tugas ada SOP. Tidak boleh sembarangan,” ujarnya.
Dalam situasi penangkapan, misalnya, penggunaan borgol menjadi bagian dari prosedur. Semua dilakukan dengan tujuan mengamankan, bukan mencederai.
Menurut Sahirin, pendidikan Polsus pada masa itu membentuk mental dan kedisiplinan. Gerak dan sikap saat menjalankan tugas pun harus teratur.
“Gerak Polsus itu seperti tentara,” katanya sambil mengenang masa mudanya.
Seragam yang dikenakan pun dibedakan sesuai kebutuhan. Ada pakaian dinas harian (PDH) untuk tugas kantor dan pakaian dinas lapangan (PDL) untuk kegiatan di lapangan.
Dari Polsus, Tetap Mengabdi untuk Kampung
Kini, masa tugas sebagai Polsus Timah telah menjadi bagian dari kenangan panjang hidup Sahirin. Namun, semangat untuk mengabdi rupanya tidak ikut pensiun.
Di lingkungan tempat tinggalnya, ia juga bertugas sebagai anggota perlindungan masyarakat (Linmas) di Desa Air Merbau.
Pengalaman puluhan tahun menjadi Polsus menjadi bekal berharga baginya. Disiplin, kesiapsiagaan, dan rasa tanggung jawab yang dahulu melekat dalam pekerjaannya tetap ia bawa dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi Sahirin, pengabdian tidak selalu harus dilakukan dengan seragam dan pangkat.
Ada masa ketika ia menjaga aset perusahaan dengan berdiri dalam sif panjang, menembus hujan dan malam. Kini, ia berada di tengah masyarakat, menjalankan peran sebagai Linmas.
Waktu boleh berganti. Seragam boleh berubah. Namun satu hal yang tetap melekat pada dirinya: siap siaga ketika dibutuhkan.
Puluhan tahun menjaga Timah telah meninggalkan lebih dari sekadar cerita pekerjaan bagi Sahirin. Ia membawa pulang sebuah nilai yang terus ia pegang hingga kini—bahwa menjaga amanah membutuhkan disiplin, ketekunan, dan kesediaan untuk hadir ketika orang lain membutuhkan.
- person
- visibility 279
- forum 0