MANGGAR: Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) masih menghadapi tantangan serius. Berdasarkan data terbaru per 19 Mei 2026, terdapat lima desa yang masih mencatatkan prevalensi stunting di atas target kabupaten sebesar 15,38 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian utama dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Belitung Timur yang digelar di Ruang Rapat Gunung Lumut, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida), Selasa (2/6/2026) sore.
Lima desa dengan prevalensi stunting tertinggi itu adalah Desa Renggiang sebesar 24,53 persen, Desa Simpang Tiga 21,88 persen, Desa Aik Madu 20 persen, Desa Tanjung Batu Itam 19,10 persen, dan Desa Simpang Pesak 16,37 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa hampir satu dari empat balita di Desa Renggiang mengalami stunting. Sementara itu, secara keseluruhan prevalensi stunting Kabupaten Belitung Timur per April 2026 tercatat sebesar 7,83 persen, meningkat dibandingkan baseline tahun 2025 yang berada pada angka 6,11 persen.
Wakil Bupati Belitung Timur, Khairil Anwar, mengatakan persoalan stunting masih menjadi tantangan yang harus ditangani secara serius dan terintegrasi oleh seluruh pihak.
“Permasalahan stunting masih menjadi tantangan serius yang harus kita tangani bersama. Data yang ada menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Beltim masih menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa periode terakhir,” kata Khairil saat membuka rapat.
Menurut Khairil, rapat koordinasi TPPS menjadi momentum penting untuk mengevaluasi berbagai program yang telah dijalankan sekaligus memperkuat strategi percepatan penurunan stunting ke depan.
Sebagai Ketua TPPS Kabupaten Belitung Timur, Khairil menegaskan bahwa penanganan stunting tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari perangkat daerah, kecamatan, puskesmas, penyuluh keluarga berencana (PLKB), pemerintah desa hingga Tim Pendamping Keluarga.
“Kecamatan harus aktif sebagai koordinator wilayah, puskesmas memperkuat layanan kesehatan dan gizi, sementara PLKB dan Tim Pendamping Keluarga melakukan pendampingan serta pemantauan terhadap keluarga sasaran secara berkelanjutan,” ujarnya.
.
Desa Buding Jadi Contoh Keberhasilan
Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, sejumlah desa justru menunjukkan capaian positif dalam upaya menekan angka stunting.
Desa Buding tercatat sebagai desa dengan prevalensi stunting terendah di Kabupaten Belitung Timur, yakni hanya 1,20 persen. Posisi berikutnya ditempati Desa Lalang Jaya dengan angka 2,09 persen dan Desa Kurnia Jaya sebesar 2,28 persen.
Khairil juga meminta seluruh anggota TPPS untuk terus meningkatkan kualitas data sebagai dasar penyusunan kebijakan dan pelaksanaan program di lapangan.
“Data yang akurat dan mutakhir sangat penting agar program dan intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran dan memberikan hasil yang optimal,” tegasnya.
Keberhasilan desa-desa tersebut dinilai menjadi bukti bahwa penanganan stunting dapat dilakukan secara efektif apabila intervensi kesehatan, pendampingan keluarga, serta dukungan pemerintah desa berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.
Melalui rapat koordinasi ini, Pemerintah Kabupaten Belitung Timur berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi dan menghadirkan langkah-langkah konkret guna mencapai target percepatan penurunan stunting serta meningkatkan kualitas generasi masa depan daerah.sumber: *Diskominfo SP Beltim –













