Maulid Nabi di SDN 43: Habib Ahmad Al Habsyi Ajak Orang Tua Jadikan Rumah Madrasah Pertama Anak
- Bangka Belitung Wisata Belitung
- calendar_month 23 menit yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNGPANDAN, BELITUNG – Rumah bukan sekadar tempat anak pulang setelah seharian beraktivitas. Di sanalah madrasah pertama kehidupan bermula—tempat anak mengenal kasih sayang, belajar berbicara, memahami adab, mengenal agama, hingga meneladani akhlak orang-orang terdekatnya.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang digelar SDN 43 Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan yang menghadirkan Ustaz Habib Ahmad Al Habsyi tersebut berlangsung dengan melibatkan siswa-siswi, orang tua atau wali murid, serta keluarga besar SDN 43 Tanjungpandan.
Menariknya, peringatan Maulid Nabi kali ini tidak dikemas sekadar sebagai kegiatan seremonial. Peserta diajak terlebih dahulu menyaksikan film Ada Surga di Rumahmu, sebelum kemudian mengikuti kajian Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Habib Ahmad Al Habsyi.
Pilihan tersebut seolah menjadi pintu masuk untuk mengajak keluarga kembali melihat satu hal penting: seberapa besar kehadiran orang tua dalam kehidupan anak?
Jangan Hanya Ceritakan Rasulullah, Tunjukkan Akhlaknya
Dalam kajiannya, Habib Ahmad Al Habsyi mengajak para orang tua untuk mengenalkan kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada cerita dan hafalan.
Menurutnya, cara paling kuat untuk membuat anak mengenal dan mencintai Rasulullah adalah dengan menghadirkan keteladanan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau kita ingin anak mencintai Rasulullah SAW, jangan hanya kita ceritakan Rasulullah kepada mereka. Tunjukkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan kita.”
Ia mengingatkan, anak merupakan peniru ulung terhadap apa yang dilihatnya di rumah.
Cara orang tua berbicara, memperlakukan pasangan dan keluarga, menghormati orang lain, hingga menyelesaikan persoalan sehari-hari menjadi pelajaran yang secara tidak langsung direkam oleh anak.

“Anak melihat bagaimana orang tuanya berbicara, menyayangi keluarga, menghormati orang lain, dan menyelesaikan masalah. Dari situlah anak belajar.”
Karena itu, pendidikan akhlak menurut Habib Ahmad tidak cukup hanya disampaikan dalam bentuk nasihat.
Keteladanan justru menjadi bahasa pendidikan yang paling dekat dan mudah dipahami anak.
Anak Tak Hanya Butuh Pemberian, tetapi Kehadiran
Habib Ahmad Al Habsyi juga menyoroti tantangan keluarga di tengah kesibukan orang tua.
Menurutnya, memenuhi kebutuhan anak secara materi bukan satu-satunya bentuk kasih sayang. Anak juga membutuhkan waktu, perhatian, pendampingan, serta ruang untuk didengarkan.
“Anak tidak hanya membutuhkan apa yang diberikan orang tua, tetapi juga membutuhkan kehadiran orang tuanya.”
Ia mengajak orang tua meluangkan waktu untuk benar-benar hadir dalam kehidupan anak.
“Luangkan waktu untuk mendengarkan mereka, mendampingi mereka, dan menunjukkan kasih sayang. Jangan sampai ketika anak membutuhkan kita, kita justru tidak ada.”
Pesan tersebut terasa semakin kuat setelah peserta menyaksikan Ada Surga di Rumahmu, film yang diangkat dari novel karya Ahmad Al Habsyi.
Film tersebut mengisahkan perjalanan Ramadhan, seorang anak yang menempuh pendidikan di pesantren hingga kemudian menyadari besarnya pengorbanan dan kasih sayang kedua orang tuanya.
Maulid Nabi Jadi Jembatan Sekolah dan Keluarga
Kepala SDN 43 Tanjungpandan, Ayu Diah Widowaty, S.Pd., mengatakan pelibatan orang tua dalam peringatan Maulid Nabi tahun ini merupakan bagian dari upaya membangun kesinambungan pendidikan antara sekolah dan keluarga.
Menurutnya, pembentukan karakter anak tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti sebagai peringatan Maulid Nabi secara seremonial. Kami ingin anak-anak mendapatkan pengalaman dan pesan yang bisa mereka bawa pulang, sementara orang tua juga mendapatkan pengingat bahwa pendidikan anak tidak selesai ketika anak pulang dari sekolah.”
Ayu menilai, kehadiran orang tua bersama anak dalam kegiatan keagamaan merupakan bentuk keteladanan sederhana yang memiliki dampak besar.
Ketika orang tua bersedia hadir, mengikuti kegiatan, dan mendengarkan pesan yang sama bersama anak, pada saat itulah proses pendidikan keluarga sebenarnya sedang berlangsung.
“Anak melihat bahwa orang tuanya juga mau belajar dan memberikan perhatian terhadap nilai-nilai agama.”
Ia berharap momentum Maulid Nabi dapat menjadi ruang untuk mempererat hubungan orang tua dan anak.
“Kami ingin mengajak orang tua untuk tidak hanya mendidik anak agar menjadi pintar, tetapi juga menjadi pribadi yang beriman, beradab, dan berakhlak. Semua itu membutuhkan keteladanan, dan keteladanan yang paling dekat bagi anak dimulai dari rumah.”
Parmusi Belitung Apresiasi Konsep Kegiatan
Ketua Pimpinan Daerah Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Belitung, Indra Yuniardi, turut memberikan apresiasi terhadap langkah SDN 43 Tanjungpandan yang menghadirkan orang tua dalam peringatan Maulid Nabi.
Menurutnya, konsep kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sekolah dapat mengambil peran lebih luas dalam memperkuat hubungan antara pendidikan formal dan kehidupan keluarga.
“Kami mengapresiasi inisiatif SDN 43 Tanjungpandan. Kegiatan ini bukan hanya menghadirkan penceramah dan memperingati Maulid Nabi, tetapi juga mengajak orang tua hadir bersama anak. Ini penting karena pendidikan akhlak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah.”
Indra menilai, tema keluarga yang diangkat dalam kegiatan tersebut sangat relevan dengan kehidupan anak saat ini.
Di tengah berbagai tantangan dan perubahan lingkungan sosial, anak membutuhkan rumah yang membuat mereka merasa dicintai, didengar, sekaligus diarahkan.
“Anak membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa dicintai, didengar, dan diarahkan. Rumah menjadi tempat pertama mereka mendapatkan semua itu. Karena itu, orang tua harus mengambil peran sebagai teladan, bukan hanya sebagai pemberi nasihat.”
Ia berharap konsep serupa dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Belitung.
“Apa yang dilakukan SDN 43 Tanjungpandan bisa menjadi contoh bahwa kegiatan keagamaan di sekolah dapat dirancang lebih bermakna dan menyentuh kehidupan keluarga.”
Menurutnya, pendidikan generasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Sekolah, orang tua, tokoh agama, dan masyarakat perlu berjalan bersama agar anak-anak tumbuh bukan hanya menjadi generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki iman, adab, dan akhlak.
Karena Surga Anak, Bisa Jadi, Dimulai dari Rumah
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di SDN 43 Tanjungpandan akhirnya tidak hanya berbicara tentang sejarah kelahiran Rasulullah SAW.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai-nilai keteladanan Rasulullah perlu dihidupkan dalam lingkungan paling dekat dengan anak: keluarga.
Sebab pendidikan karakter tidak selalu lahir dari pelajaran panjang.
Terkadang ia tumbuh dari hal-hal sederhana—cara ayah berbicara kepada ibu, cara ibu mendengarkan anak, cara keluarga menyelesaikan masalah, dan bagaimana kasih sayang hadir setiap hari.
Dan sebelum seorang anak mencari kebahagiaan di luar rumah, semoga ia terlebih dahulu menemukan kasih sayang, ketenangan, keteladanan, dan nilai-nilai kebaikan di rumahnya sendiri.
Karena bisa jadi, “surga” pertama yang dikenalkan kepada seorang anak memang bukan tempat yang jauh, melainkan rumah tempat ia dibesarkan.*
- person
- visibility 41
- forum 0