TANJUNGPANDAN – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Tanjungpandan melalui inovasi Bekisah turut mendukung Deklarasi Sekolah Anti Bullying dan Kekerasan yang digelar di SD Negeri 44 Tanjungpandan, Rabu (28/1). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan Gerakan Sekolah Ramah Anak dengan menitikberatkan pada pencegahan perundungan dan kekerasan sejak usia dini.
Dalam kegiatan tersebut, Bapas Tanjungpandan memberikan penguatan kepada tenaga pendidik dan kependidikan terkait Undang-Undang Perlindungan Anak, Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), serta mekanisme diversi sebagai pendekatan keadilan restoratif dalam penanganan konflik hukum yang melibatkan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH). Pendekatan ini menekankan pemulihan, tanggung jawab bersama, dan kepentingan terbaik bagi anak.
Materi teknis disampaikan oleh Bastian, Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Ahli Muda Bapas Tanjungpandan. Ia memaparkan praktik penerapan diversi berdasarkan pengalaman langsung dalam penanganan perkara anak. Menurutnya, PK memiliki peran strategis dalam seluruh tahapan proses peradilan anak, mulai dari asesmen sosial, penyusunan rekomendasi diversi, fasilitasi musyawarah, hingga pemantauan pelaksanaan kesepakatan.
“Dalam kerangka SPPA, PK melakukan penelitian kemasyarakatan untuk menilai faktor risiko dan kebutuhan anak. Apabila memenuhi syarat formil dan materil, diversi dapat direkomendasikan. Diversi bukan pembiaran, melainkan mekanisme hukum yang mengedepankan pemulihan korban, pertanggungjawaban anak, serta pencegahan stigmatisasi,” jelas Bastian.
Ia menambahkan, pemahaman guru terhadap prinsip kepentingan terbaik bagi anak, nondiskriminasi, serta partisipasi anak sangat penting dalam upaya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah. Prinsip-prinsip tersebut juga menjadi landasan dalam memastikan penanganan konflik yang tepat dan berkeadilan.
Sementara itu, Kepala Urusan Tata Usaha Bapas Tanjungpandan, Yovie Agustian Putra, menekankan pentingnya pencegahan bullying berbasis empati dan kasih sayang dalam ekosistem sekolah dan keluarga.
“Bullying meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat. Pencegahan paling efektif adalah membangun budaya saling mencintai, baik di rumah oleh orang tua maupun di sekolah oleh guru. Anak harus merasa dicintai, didengar, dan didampingi agar tumbuh percaya diri, berani bermimpi, dan berkarakter kuat,” ujarnya.
Kepala SDN 44 Tanjungpandan, Yulianti, menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan kontribusi Bapas Tanjungpandan. Ia mengaku terharu melihat dampak positif kegiatan tersebut terhadap peserta didik.
“Setelah materi disampaikan, siswa-siswi datang memeluk para guru. Itu momen yang sangat menyentuh. Materi yang disampaikan petugas Bapas tidak hanya informatif, tetapi juga menyentuh hati anak-anak kami. Terima kasih atas dukungan dalam pembentukan karakter siswa agar tumbuh penuh empati, saling menghargai, dan berani menolak kekerasan,” ungkapnya.
Melalui inovasi Bekisah, Bapas Tanjungpandan menegaskan komitmennya untuk terus hadir di ruang-ruang edukatif, memperkuat upaya pencegahan sejak dini, serta membangun sinergi antara sekolah, orang tua, dan negara demi terciptanya lingkungan belajar yang aman, ramah, dan berkeadilan bagi setiap anak.*













