Penulis Haril Andersen Serahkan Buku Kronik H. AS Hanandjoeddin kepada Ketua KPU Beltim

Melalui buku ini, sejarah bukan lagi sekadar cerita masa lalu, melainkan denyut inspirasi yang terus hidup di tengah masyarakat Belitung dan Bangka Belitung

TANJUNGPANDAN — Semangat menjaga jejak sejarah kembali digaungkan dari Pulau Belitung. Penulis dan pegiat sejarah Belitung, Haril Andersen, menyerahkan langsung buku terbarunya berjudul Kronik H. AS Hanandjoeddin: Jejak Dokumenter Perjuangan dan Pengabdian Sang Elang dari Bangka Belitung kepada Ketua KPU Belitung Timur, Marwansyah, di ruang kerjanya, Rabu (6/5/2026).

Penyerahan buku tersebut bukan sekadar seremoni biasa. Di balik lembar demi lembar buku itu, tersimpan jejak panjang perjuangan seorang putra terbaik Belitung yang namanya kini diabadikan menjadi bandar udara kebanggaan masyarakat Negeri Laskar Pelangi.

Marwansyah menerima langsung buku karya terbaru Haril Andersen tersebut dengan penuh apresiasi. Menurutnya, kehadiran buku ini menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan pencerahan sejarah kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak tercerabut dari akar perjuangan para tokoh daerah.

“Tokoh seperti H. AS Hanandjoeddin harus terus dikenalkan kepada masyarakat. Nilai perjuangan, pengabdian, dan nasionalismenya menjadi teladan penting bagi bangsa, khususnya masyarakat Belitung,” ungkap Marwansyah.

Marwansyah tertarik isi buku saat membuka lembar demi lembar halaman Kronik H.AS. Hanandjoeddin penuh dengan dokumen primer arsip dan foto foto bersejarah terutama potret Pulau Belitong di masa kepemimpinan Pak Long, sebutan masyarakat Belitong terhadap H.AS. Hanandjoeddin. “Beliau membangun Belitong tidak hanya di perkotaan, tapi sampai ke kampong kampong, ” tukas Marwansyah.

Buku Kronik H. AS Hanandjoeddin sendiri menjadi tonggak baru dalam penguatan literasi sejarah lokal. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Melati Tanjungpandan dan hadir sebagai dokumentasi yang lebih lengkap mengenai perjalanan hidup tokoh AURI asal Belitung tersebut.

Tak hanya mengandalkan riset personal, buku ini juga lahir dari kolaborasi serius lintas disiplin. Haril M. Andersen menggandeng Lettu Caj Muhammad Ivan Harish, seorang sejarawan militer dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat. Keduanya bekerja di bawah arahan akademisi sejarah terkemuka Indonesia, Prof. Dr. Bambang Purwanto, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada.

Kekuatan historis buku ini semakin diperkaya melalui proses penyuntingan yang dilakukan Brigjen TNI Arif Cahyono — putra daerah Belitung yang juga mantan Kepala Dinas Sejarah TNI AD — bersama sejarawan Ali Usman, S.S.

Bagi Haril Andersen, karya ini memiliki makna tersendiri. Buku tersebut merupakan karya ketiganya yang mengupas sosok Letkol Pas (Purn) H. AS Hanandjoeddin, setelah sebelumnya menerbitkan Sang Elang pada 2015 dan Memenuhi Panggilan Rakyat pada 2021.

Namun demikian, Haril menyebut buku terbaru ini sebagai karya paling lengkap dan komprehensif yang pernah disusunnya.

“Buku ini tidak hanya berbicara tentang sosok pejuang udara, tetapi juga tentang semangat pengabdian, keberanian, dan kecintaan terhadap tanah air yang diwariskan H. AS Hanandjoeddin kepada generasi sekarang,” ujar Haril.

Melalui buku ini, sejarah bukan lagi sekadar cerita masa lalu, melainkan denyut inspirasi yang terus hidup di tengah masyarakat Belitung dan Bangka Belitung.*