TANJUNGPANDAN – Komunitas Bace Belitong (KBB) sukses menggelar program perdana bertajuk “Jelajah Literasi ke Rumah Adat Belitung” pada Minggu (31/5/2026) pagi. Kegiatan yang diikuti 30 peserta umum ini menjadi langkah awal komunitas dalam mengajak masyarakat membaca, memahami, dan memaknai Belitung secara lebih mendalam melalui karya tulis.
Program tersebut dilaksanakan di Rumah Adat Belitung atau Rumah Panggong, yang dipilih sebagai lokasi perdana karena memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat. Peserta diajak menyelami berbagai aspek kehidupan masyarakat Melayu Belitung, mulai dari arsitektur rumah adat, tradisi pernikahan, hingga prosesi Makan Bedulang.
Inisiator Komunitas Bace Belitong, Raufa, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman literasi yang dekat dengan identitas dan kekayaan budaya daerah.
“Rumah Panggong dipilih karena menjadi salah satu simbol budaya Belitung yang sarat nilai adat dan adab. Kami ingin peserta tidak hanya mengetahui sejarahnya, tetapi juga mampu memaknai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta didampingi oleh pemandu lokal, Ibu Nunik, yang memberikan penjelasan mengenai sejarah dan filosofi Rumah Panggong. Melalui sesi eksplorasi ini, para peserta diajak memahami bagaimana warisan budaya Belitung tetap relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Usai mengikuti sesi pengenalan budaya, peserta diberikan kebebasan untuk menuliskan cerita, kesan, serta sudut pandang pribadi mereka mengenai Rumah Panggong dalam bentuk tulisan bebas. Karya-karya tersebut nantinya akan dihimpun oleh Tim Penggerak Bace Belitong dan didigitalisasi menjadi sebuah karya kolektif yang dapat diakses masyarakat luas.
Proyek berkelanjutan ini diharapkan menjadi salah satu bentuk kontribusi literasi dalam memperkenalkan Belitung kepada publik yang lebih luas melalui perspektif masyarakatnya sendiri.
Salah satu peserta, Adi, mengaku mendapatkan pengalaman yang berkesan selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Wah, tadi berkesan sekali bagi aku pribadi. Karena selain dapat wawasan tentang adat budaya Belitung, ternyata sebagai orang Belitung asli aku masih banyak yang belum tahu. Selain itu, melihat tulisan teman-teman peserta juga luar biasa. Ini membuktikan bahwa literasi di Belitung tidak mati, masih hidup. Banyak yang masih melek literasi dan hanya membutuhkan wadah serta dukungan,” ungkapnya.
Selain kegiatan menulis, Bace Belitong juga memberikan apresiasi kepada peserta yang berhasil menyelesaikan tantangan “22 Hari Baca Buku” sebagai bentuk penghargaan atas konsistensi mereka dalam membangun kebiasaan membaca.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Genius Air Mineral dan Kedai PiSi MiSi yang turut berkontribusi dalam menyukseskan program literasi tersebut.
Komunitas Bace Belitong sendiri berdiri sejak September 2025, berangkat dari keresahan terhadap minimnya ruang interaksi bagi para pencinta buku dan pegiat literasi di Belitung. Sejak berdiri, komunitas ini rutin mengadakan berbagai kegiatan seperti Kelakar Buku, BERKATA (Bersama Kita Berkarya dan Bercerita), serta beragam tantangan membaca yang bertujuan menumbuhkan budaya literasi di tengah masyarakat.
Melalui gerakan yang inklusif dan kreatif, Bace Belitong berkomitmen menjadi wadah bagi masyarakat untuk belajar, berkarya, dan berbagi gagasan. Komunitas ini juga membawa harapan besar agar Belitung dapat semakin dikenal dunia melalui karya-karya literasi yang lahir dari masyarakatnya sendiri.
Semangat tersebut sekaligus diharapkan mampu melahirkan generasi baru pegiat dan tokoh literasi Belitung yang dapat meneruskan jejak para maestro dan tokoh literasi daerah seperti almarhum Fithrorozi, Ian Sanchin, dan Andrea Hirata.*



















