Home / Bangka Belitung / PHRONESISME YANG HILANG
Oleh : Didin El Mughniy

PHRONESISME YANG HILANG

Bagikan :

Platonik dalam beberapa dekade telah membuat diksi tentang kebijaksanaan yang dikenal dengan sebutan phronesis. Hal.ini muncul terkait debat² diakademik Plato yang bersoal hal² yang bersifat testimologi. Dekade ini menjadi dekade kritik awal terhadap perkembangan ilmu sebagai “kubah manusia” mencari kebenaran.

Dialektika materialisme pengetahuan terus mengalami tantangan yang sifatnya konstruktif didalam menguji secara empiris pengetahuan manusia. Bisa dibilang pasca platonik—debat dan dialektika mengalami perubahan tajam pada penemuan ide serta gagasan. Episteme seperti yang disebut Michel Foucault sebagai penanda penemuan realitas dibalik tealitas—bukan hiperealitas yang melampaui.

Teks² empirisme diabad itu menjadi hal menarik bagi pemikirnya. Dimana filsafat terus berkembang seiiring dengan perkembangan nalar manusia dengan kosmologinya. Penemuan pengetahuan akan sesuatu tidak menjadi penting, tetapi sebagian dari mereka menganggap menjelaskan sesuatu secara detail dengan pertanyaan dari mana, mau Kemana dan tujuannya kemana—adalah hal terberat dengan konsekuensi bahwa disitulah akan ada jawaban tentang kebenaran.

Phronesis?, Adalah pemaknaan kebijaksanaan, bukan hanya dalam pikiran tetapi juga dalam perilaku dan etika (humaniora). Paham ini berusaha melacak secara apik dan jernih tentang “manusia dan perilaku”, perilaku yang dimaksud adalah tentang nilai etika, cinta dan kebijaksanaan. Sebab penganut paham inii menganggap bahwa kebijaksanaan manusia adalah derajat paling tertinggi pada.pencapaian manusia itulah yang disebut dengan kebahagiaan.

Namun demikian, diera serba terbuka seperti saat ini “phronesis” kadang tak dihiraukan. Kebenaran menjadi lain dan bahkan menjadi sesuatu yang salah bila kemarahan dan kebencian, emosional individu atau kelompok mendominasi inilah yang disebut era post-truth.

Lalu bagaimana menemukan kebijaksanaan itu?, Kebijaksanaan individu sesama individu itu baik, kebijaksanaan seseorang terhadap oramg lain walau disekat dengan perbedaan itu jauh lebih bijak. Guru dengan muridnya, pemimpin dengan rakyatnya—semua juga lebih baik. Kenapa kebijaksanaan itu harus dicari karena inti dari kebijaksanaan itu bukan hanya cinta, tetapi lebih dari itu mamahami manusia dengan manusia lainnya.

Dan dibanyak tempat “,kebijaksanaan” itu mulai tergerus karena kekuasaan. Keputusan² yang diambil seringkali dilakukan di “kegelapan”, maka kalau demikian adanya dimana konstruk kebenaran itu?,…..mereka yang lelah harus menjawab sudahlah “ini takdir” sebagai manusia yang hidup ditengah kekuasaan.

Phtonesi—kini hilang.
# CatatanSiang