BADAU: Prosesi perkawinan adat Belitung pasangan Taufik Hidayat dan Liela Puspita berlangsung khidmat dan penuh makna budaya di kediaman mempelai perempuan, Dusun Tiris, Desa Sungai Samak, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, pada Minggu (19/4/2026).
Acara ini menjadi istimewa karena pihak mempelai perempuan merupakan anak dari Fadhil Jamali, Sekretaris Forum Kedukunan Adat Belitung. Pernikahan tersebut juga mempertemukan dua keluarga besar, yakni pasangan Fadhil Djamali dan Zahirawati (almarhumah), serta pasangan Sahanan dan Martini (almarhumah).
Rangkaian prosesi dimulai dengan kedatangan keluarga mempelai pria yang memasuki rumah mempelai wanita. Kedatangan rombongan pengantin pria diiringi oleh pemantun Dona, yang memimpin jalannya tradisi berbalas pantun sebagai bagian penting dari adat Melayu Belitung.
Pada pintu pertama, rombongan disambut pihak mempelai wanita Kik Sulai, dengan rangkaian pantun yang sarat makna. Tradisi ini berlanjut ke pintu kedua dan ketiga, di mana adu pantun kembali digelar sebagai simbol komunikasi, kecerdasan, sekaligus penghormatan antar keluarga. Hingga akhirnya, kedua belah pihak mencapai kesepakatan sebagai tanda diterimanya mempelai pria secara adat.
Setelah melewati seluruh tahapan pintu, prosesi dilanjutkan dengan ritual adat “Tipa” yang menjadi bagian penting dalam tradisi Melayu Belitung. Acara kemudian diisi dengan doa bersama sebagai bentuk permohonan restu dan keberkahan bagi kedua mempelai.
Sebagai penutup, seluruh rangkaian kegiatan ditandai dengan tradisi makan bedulang, yakni makan bersama dalam satu hidangan besar sebagai simbol kebersamaan, persatuan, dan rasa syukur.
Dalam kesempatan tersebut, Fadhil Jamali menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir dan turut menyaksikan prosesi adat tersebut.
“Terima kasih atas kehadiran semua pihak dalam pernikahan anak kami. Semoga adat istiadat Belitung ini terus dilestarikan dan menjadi warisan bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Prosesi ini tidak hanya menjadi momen sakral bagi kedua mempelai, tetapi juga menjadi wujud nyata pelestarian budaya lokal yang terus dijaga oleh masyarakat Belitung.*












