Breaking News
Trending Tags
Beranda » Bangka Belitung » PUASA ; KESALEHAN SPRITUALIS & KESALEHAN SOSIAL

PUASA ; KESALEHAN SPRITUALIS & KESALEHAN SOSIAL

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Puasa ramadhan adalah merupakan salah satu dari rukun Islam, sebagai satu juga dari tiang agama. Sehingga tiap-tiap muslim berkewajiban untuk melaksanakannya setiap tahunnya dalam sebulan penuh. Tetapi puasa tak sebatas melaksanakan nilai syariatnya saja. Tetapi paling tidak kita akan mengetahui secara history asal muasal dari puasa itu sendiri. Sebelumnya puasa tidak langsung diperintahkan begitu saja untuk melaksanakannya, dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, sebagaimana kelaziman ummat Islam selama ini.

Namun menurut hadist yang di riwayatkan Mua’adz bin Jabal, sejarah puasa Ramadhan tidak muncul begitu saja. Dalam riwayatnya, sebelum nabi menerima perintah puasa ramadhan, Nabi telah melaksanakan puasa Asyura dan puasa tiga hari setiap bulannya. Secara singkat sejarah puasa ramadhan sendiri mulai diwajibkan (untuk melakukan ibadah puasa), yakni pada tahun ke 2 Hijriyah atau 624 Masehi setelah Nabiullah Hijrah ke Madinah. Bersamaan dengan disyariatkannya sholat Ied, zakat fitrah, dan kurban. Ini membuktikan bahwa puasa adalah suatu ibadah yang bersifat universal dan ibadah yang disempurnakan dari ummat-ummat terdahulu. Sebagaimana ayat Al Qur’an QS. Al Baqarah 183; Hai orang-orang yang beriman berpuasalah, sebagaimana telah diwajibkan sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Sehingga esensi puasa adalah bagaimana memperoleh nilai taqwa dihadapan Allah SWT.

Berkenanaan dengan isyarat taqwa, suatu ketika, Nabi Musa berjalan menuju Bukit Sina – tempat di mana Nabi Musa menerima perintah-perintah Tuhan. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang ‘abid (ahli ibadah) yang sedang ber-uzlah (menjauhkan diri dari keramaian). Ketika melihat Nabi Musa mendekatinya, sang ‘abid mendekat dengan penuh semangat. “Wahai Nabi Allah, pasti engkau akan menemui Allah. Tolong tanyakan kepada Allah, di surga tingkat berapa nanti aku ditempatkan di akhirat?” kata sang ‘abid penuh yakin.

“Lho, (jawab Nabi Musa), bagaimana engkau bisa memastikan dirimu akan masuk surga?”katadengan nadaheran. “Bagaimana tidak, wahai Nabi Allah. Aku mengasingkan diri dari keramaian sudah selama empat puluh tahun. Aku telah meninggalkan segala-galanya. Selama itu aku tidak pernah melakukan perbuatan dosa. Aku hanya berdzikir dan beribadah kepada Tuhan. Aku tidak makan kalau tidak ada daun-daun yang jatuh ke pangkuanku. Aku tidak minum kalau bukan air hujan. Tidak pastikah aku masuk surga?” tanyanya sang ahli ibadah tersebut dengan nada penuh keyakinan.

Nabi Musa kemudian melanjutkan perjalanannya. Di Bukit Sina, ia berjumpa dengan Allah. “Ya Allah, di tengah perjalananku aku bertemu dengan seorang hamba-Mu. Dia ingin tahu di surga tingkat berapakah gerangan tempatnya nanti?” Jawab Allah: “Wahai Musa, sampaikan kepadanya bahwa tempatnya di neraka.” Nabi Musa terkejut. Ia pun kembali menemui sang ‘abid. Melihat Nabi Musa datang, sang ‘abid dengan penuh semangat menemuinya. Ia ingin cepat mengetahui di surga tingkat berapa tempatnya kelak di akhirat.

“Di surga ke berapa tempatku nanti? Katakan secepatnya, wahai Nabi Allah!” kata sang ‘abid seraya mengguncang-guncang bahu Nabi Musa. “Katakan wahai Nabi Allah, jangan biarkan aku menderita karena menunggu.” Nabi Musa lama terdiam. Ia kesulitan mengungkapkan jawaban yang santun agar tidak mengejutkan sang ‘abid. ‘Abid itu terus mengguncang bahunya.

“Sabar wahai sahabatku. Kata Tuhan, tempatmu nanti di neraka.” “Bagaimana mungkin wahai Musa. Ibadah empat puluh tahun diganjar dengan neraka? Tidak mungkin. Pasti engkau salah dengar. Tolong engkau kembali lagi kepada Tuhan, tanyakan di surga ke berapa tempatku kelak.” Nabi Musa kembali. Di tengah perjalanan ia bergumam sendirian, “Iya ya, jangan-jangan aku salah dengar.”

“Tuhan, hambamu ingin kejelasan, apa benar tempatnya kelak di neraka?” tanya Nabi MusakepadaAllah sekali lagi. “Katakan, tempatnya di surga.”“Jadi,Tuhan, tadi akusalah dengar?” “Tidak. Wahai Nabi-Ku, engkau tidak salah dengar. Aku tadinya memang akan menempatkannya di neraka. Aku menciptakan manusia bukan untuk egoistis, apapun alasannya, termasuk alasan spiritual. Aku menciptakan manusia sebagai khalifah dan untuk saling membantu sesamanya. ‘Abid tadi bukan mendekatkan dirinya kepada-Ku. Tetapi ia menghindari kehidupan sosialnya.

“Lalu secepat itukah keputusan-Mu berubah?” tanya Nabi Musa. “Pada saat engkau berjalan menuju ke sini, ‘abid itu tersungkur sujud, ia menangis sejadi-jadinya. Ia memohon kepada-Ku – kalau benar ditempatkan di neraka – agar tubuhnya diperbesar sebesar neraka Jahanam, supaya tidak ada orang lain yang masuk ke dalamnya selain hanya dirinya. Pada saat itu, ia tidak lagi egoistis. Ia kembali ke pangkuan realitas kehidupan. Saat itu ia telah memikirkan kepentingan orang lain selain dirinya.”

Dalam cerita tersebut, ada pesan Al-Qur’an yang ingin disampaikan, yaitu ibadah individu dan ibadah sosial yang dalam bahasa agama disebut habl min Allah wa habl min an-nas (hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama) merupakan dua sisi ibadah yang tidak dapat dipisahkan. Kita tidak diperbolehkan hanya mementingkan ibadah sosial atau kesalehan sosial, dan melupakan ibadah ritual atau kesalehan individu, atau sebaliknya, hanya mementingkan ibadah ritual atau kesalehan individu, dan melupakan kesalehan sosial.

Akhir-akhir ini, ada kecenderungan beberapa kalangan di Indonesia yang tidak mau beragama secara formal. Mereka memeluk satu agama, tetapi mereka tidak melakukan ibadah ritual agama. Bagi mereka, yang penting adalah berbuat kebaikan kepada sesama manusia yang mendatangkan manfaat bagi orang lain. Islam dengan tegas tidak memperkenankan kecenderungan kalangan tersebut. Kita tidak diperbolehkan hanya mementingkan ibadah sosial atau kesalehan sosial dan melupakan ibadah ritual atau kesalehan individu. Kedua ibadah tersebut merupakan kesatuan yang terpadu. Memisahkan salah satu dari keduanya bagaikan fatamorgana.

Dalam Q.S. al-A’raaf ayat 96, Al Qur’an menggambarkan hubungan antara ketakwaan di satu sisi dan masyarakat di sisi lain. ”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”

Kesalehan individu identik dengan hubungan seseorang secara pribadi kepada Allah swt. Ia melakukan ibadah yang pahalanya hanya untuk dirinya sendiri, tetapi manfaat ibadah yang dilaksanakannya tidak dirasakan secara langsung dan berkaitan dengan kepentingan orang banyak.

Sementara ibadah sosial identik dengan hubungan seseorang dengan sesama manusia, dan sekaligus hubungan manusia dengan Allah. Ibadah sosial lebih mengutamakan kepentingan orang lain, tetapi berdampak positif juga bagi dirinya sendiri. Walaupun banyak perintah untuk beribadah dalam agama ditujukan kepada individu tetapi harus berdampak dalam kehidupan sosial yang nyata. Ibadah tidak memiliki nilai apapun apabila tidak tercermin dalam pergaulan dengan masyarakat, karena sebenarnya pergaulan itu merupakan ibadah. Hal itu karena kesempurnaan individu hanya dapat berlangsung melalui pengalaman praksisnya dalam masyarakat.

Sehingga, seolah-olah, beribadah dalam sunyi dan sendiri merupakan sekolah yang membekali individu dengan bekal teoritis, sedang ia tidak dapat menjadikannya praksis kecuali melalui aksi-aksi di dalam masyarakat serta interaksi secara intensif dengan individu-individu di dalamnya. Itulah sebabnya Nabi bersabda, yang artinya; “Orang muslim sejati adalah orang yang semua kaum muslim selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Muslim) Puasa merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bukan saja bagi pembinaan kesalehan individual, melainkan juga bagi peningkatan kesalehan sosial. Ketakwaan yang menjadi sasaran utama pelaksanaan rukum Islam yang keempat ini memiliki dimensi pembinaan yang komprehensif, baik bagi pembentukan kualitas hidup individual maupun bagi upaya penciptaan iklim sosial.

Ibadah puasa adalah ibadah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Dan ketakwaan ini tercermin dari 2 hal penting dalam kehidupan kita. Pertama adalah Kesalehan Individual, yang kedua Kesalehan Sosial. Kesalehan Individual tercermin dari perilaku keseharian kita, bersikap rendah hati, tawadhu, sederhana dan hal-hal baik lainnya. Terlebih pada ikatan-ikatan kita kepada Allah SWT.

Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari kedermawanan kita, tanggungjawab sosial kita, perhatian kita, atensi kita, empati kita, simpati kita kepada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang berada dalam posisi sulit dalam kehidupannya. Oleh karena itu, ibadah puasa kita lakukan dengan penuh kesadaran dan penuh keyakinan karena tujuannya adalah akan meningkatkan kualitas ketakwaan kita. Kesadaran sosial dalam ibadah itu terlihat dengan jelas dalam praktek peribadatan kita seperti memberikan buka puasa dimesjid-mesjid, bahkan dikota-kota besar beberapa komunitas membagikan takjil gratis dijalan-jalan bagi pengendara yang melintas. Kesalehan sosial begitu terasa di bukan suci ramadhan itu.

Puasa merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bukan saja bagi pembinaan kesalehan individual, melainkan jugabagi peningkatan kesalehan sosial. Ketakwaan yang menjadi sasaran utama pelaksanaan rukum Islam yang ke empat ini memiliki dimensi pembinaan yang komprehensif, baik bagi pembentukan kualitas hidup individual maupun bagi upaya penciptaan iklimsosial. Karenanya puasa minimal menjadi bulan tarbiyah bagi kaum muslim untuk meningkatkan bangunan peradaban dan akhlakul kharimah baik secara individual maupun secarasosial. Kesalehan individual lebih mengarah padatangan kita kepada Allah SWT dengan cara memohon doa dan beribadah dengan khusyuk, sementara kesalehan secara sosial adalah tangan kanan yang memberi tanpa harus tangan kiri mengetahuinya.

Apalagi di situasi pendemi Covid 19 ini, dampak ekonomi sosial semakin terasa di tengah masyarakat. PHK, karyawan yang kehilangan pekerjaannya, buruh bangunan, UMKM, Pariwisata, pedagang kaki lima, dan semua sektor kehidupan manusia—sehingga rasa empaty dan solidaritas sosial sangat dibutuhkan untuk menyambungkan tali kemanusiaan. Dan ini adalah pentingnya puasa di bulan ramadhan—membangun kesalehan spritualis dan kesalehan sosial sebagai manifestasi dari konsepsi Hablumminallah wa hablumminnnas.”””

Penulis, saifuddin al mughniy

  • person
  • visibility 85
  • forum 0
Bagikan Threads

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mohon Dukungan Dermawan Untuk Renovasi Rumah Tahfid & TPQ Al-AQSO

    Mohon Dukungan Dermawan Untuk Renovasi Rumah Tahfid & TPQ Al-AQSO

    • calendar_month Rabu, 10 Feb 2021
    • account_circle sma
    • visibility 77
    • 0Komentar

    TANJUNGPANDAN: Rumah Tahfid & Al-AQSO yang beralamat Jl. A Yani 93 (Samping Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Belitung, adalah bagian program keumatan, guna syiar dakwah. Di Rumah Tahfid & Al-AQSO menjadi tempat pengajian anak-anak, yang sudah berlangsung belasan tahun lalu hingga kini terus eksis dan aktivitas kedakwahaan dan pendidikan dijalankan. Pimpinan Rumah Tahfid & Al-AQSO, […]

  • Bertajuk “APBN Week 2023 Kontribusi Berkelanjutan Pemudi Pemudi Indonesia”, Bea Cukai Tanjungpandan Menyelenggarakan Kegiatan Customs Goes to School

    Bertajuk “APBN Week 2023 Kontribusi Berkelanjutan Pemudi Pemudi Indonesia”, Bea Cukai Tanjungpandan Menyelenggarakan Kegiatan Customs Goes to School

    • calendar_month Selasa, 1 Agt 2023
    • account_circle sma
    • visibility 62
    • 0Komentar

    TANJUNGPANDAN: Bea Cukai Tanjungpandan menyelenggarakan kegiatan Customs Goes to School bertajuk “APBN Week 2023 Kontribusi Berkelanjutan Pemudi Pemudi Indonesia” secara offline yang bertempat di Aula SMAN 2 Tanjungpandan dengan pesertanya diikuti siswa/i SMAN 2 Tanjungpandan, pada hari Selasa 1 Agustus 2023. Adapun APBN Week sendiri adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan APBN dan peran DJBC […]

  • 4.000 Paket obat-obatan untuk penanganan COVID-19 di Belitung

    4.000 Paket obat-obatan untuk penanganan COVID-19 di Belitung

    • calendar_month Minggu, 5 Sep 2021
    • account_circle sma
    • visibility 104
    • 0Komentar

    TANJUNGPANDAN: Belitung terima bantu 4.000 Paket obat-obatan untuk penanganan COVID-19. Ini setelah baru baru ini, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyalurkan bantuan sebanyak 4.000 paket obat-obatan untuk pasien COVID-19 di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bantuan tersebut diangkut menggunakan pesawat Hercules dari Malang, Jawa Timur dan tiba di Base Ops Lanud H.AS Hanandjoeddin Belitung, […]

  • Babinsa Sertu Didi K Sosialisasikan Penerimaan TNI AD kepada Warga Binaan di Kantor Desa di Wilayah Se-Kecamatan Membalong

    Babinsa Sertu Didi K Sosialisasikan Penerimaan TNI AD kepada Warga Binaan di Kantor Desa di Wilayah Se-Kecamatan Membalong

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle sma
    • visibility 87
    • 0Komentar

    MEMBALONG – Anggota Koramil 414-04/Membalong terus aktif menjalin komunikasi dengan masyarakat binaannya. Pada Senin, 19 Januari 2026, Babinsa Desa Perpat, Sertu Didi K, melaksanakan kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) sekaligus sosialisasi animo penerimaan prajurit TNI Angkatan Darat Tahun Anggaran 2025. Kegiatan tersebut berlangsung mulai pukul 11.30 WIB hingga selesai, bertempat di Kantor Desa se-Kecamatan Membalong, Kabupaten […]

  • Jurnalis Belitong Silatuhrahmi & Berbagi Takjil Ke Panti Lansia /Jumpo

    Jurnalis Belitong Silatuhrahmi & Berbagi Takjil Ke Panti Lansia /Jumpo

    • calendar_month Sabtu, 1 Jun 2019
    • account_circle sma
    • visibility 34
    • 0Komentar

    TANJUNGPANDAN: Para jurnalis Belitong melakukan kunjungan silatuhrahmi dan sekaligus berbagi takjil ke panti lansia /Jumpo, Al Maaun muhamadiyah Tanjungpandan, Belitung. Di panti lansia, para jurnalis Belitong melakukan tatap muka dan sekaligus silatuhrahmi dengan para pengurus panti lansia serta para warga panti lansia (Jumpo). Adapun kegiatan ini dilakukan adalah untuk mempererat tali silatuhrahmi dengan masyarakat khususnya […]

  • Super Air Jet Kembali Beroperasi di Bandara H.AS Hanandjoeddin, Dorong Pariwisata Belitung

    Super Air Jet Kembali Beroperasi di Bandara H.AS Hanandjoeddin, Dorong Pariwisata Belitung

    • calendar_month Selasa, 10 Sep 2024
    • account_circle sma
    • visibility 168
    • 0Komentar

    TANJUNGPANDAN: Maskapai penerbangan Super Air Jet resmi kembali beroperasi di Bandara H.AS Hanandjoeddin, Tanjungpandan, dalam rangka mendukung sektor pariwisata di pulau Belitung. Mulai tanggal 8 September 2024, maskapai ini akan melayani penerbangan sebanyak empat kali seminggu, yakni pada hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu, dengan rute penerbangan dari dan ke Jakarta, serta dari dan ke […]

expand_less